Pages

Tampilkan postingan dengan label Kedokteran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kedokteran. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 November 2015

Pengaruh Perbandingan Air Dan Bubuk Terhadap Lamanya Waktu Setting Dental Stone (KD-11)

Dental stone adalah bahan yang terbuat dari gipsum yang kristalisasinya dikontrol secara hati – hati dengan tekanan uap dalam wadah tertutup dan biasanya di sebut sebagai α-hemihidrat1.
Secara komersial, dental stone dibuat dari gipsum yang dipanaskan pada suhu 125° C dibawah tekanan uap dalam autoklaf secara terus menerus sehingga terbentuk hemihidrat dengan porositas yang rendah2.
Q
 
Adapun bentuk reaksi kimianya3 :
Ca2+(aq)+ SO42-(aq) + 0,5H2O(l)→ α-CaSO4 0,5H2O(s)
Menurut Internasional Organization for Standarization gipsum di klasifikasikan ke dalam lima tipe:
1.        Tipe I Dental plaster, pencetakan
2.        Tipe II Dental plaster, model
3.        Tipe III Dental stone, die, model
4.        Tipe IV Dental stone, die, kekuatan besar, ekspansi rendah
5.    Tipe V Dental stone, die, kekuatan besar, ekspansi tinggi2.
Dental stone tipe III yang juga biasa disebut sebagai stone kelas I atau Hydrocal memiliki nilai minimum kekuatan tekan 20,7 Mpa (3000 psi) (tabel 1.1), tapi tidak melebihi 34,5 Mpa (5000 psi). Bahan ini digunakan untuk membuat model dalam proses pembuatan gigi tiruan sebagian atau penuh yang cocok dengan jaringan lunak karena stonememiliki kekerasan permukaan yang melebihi dental plaster juga kekuatan yang cukup memadai untuk pembuatan gigi tiruan dan gigi tiruan akan lebih mudah dilepaskan setelah diproses.4

Dental stone tipe IV yang juga biasa disebut sebagai stone kelas II, densite,improved stone atau modifiedα-hemihidrat. Dental stone tipe IV utamanya digunakan untuk membuat model atau diedalam pembuatan mahkota, jembatan dan inlay. Bahan ini digunakan karena memiliki kekuatan yang tinggi dan kekerasan permukaan yang merupakan hal wajib selama proses pembuatan die. Permukaan yang keras adalah hal yang penting untuk dental stone yang digunakan pada pembuatan die, karena ruangan hasil preparasi akan diisi dengan malam dan setelah itu di ukir sama rata dengan tepi dari die. Digunakan alat yang tajam pada proses pengukiran; oleh karena itu stoneharus tahan terhadap abrasi. Dengan permukaan yang mengering lebih cepat, kekerasan permukaan pun lebih meningkat dibandingkan dengan kekuatan tekan. Ini merupakan keuntungan karena permukaan tahan terhadap abrasi, mengingat inti dari die adalah kuat dan jarang rusak secara kebetulan.1,4
Dental stone tipe V merupakan salah satu produk gipsum yang memiliki kekuatan tekan yang sangat tinggi dibandingkan dengan dental stone tipe IV. Karena memiliki ekspansi setting yang cukup tinggi sehingga penggunaannya lebih dikhususkan pada pembuatan inlay logam, onlay, mahkota, dan gigi tiruan jembatan logam.4
Tahap – tahap pencampuran bubuk dental stone dengan air :
a.         Menakar. Air dan bubuk harus diukur dengan benar dengan menggunakan pengukur silinder untuk volume air dan timbangan untuk bubuk. Bubuk tidak boleh diukur dengan menggunakan sendok takar, karena bentuk bubuk bervariasi dari produk satu dengan produk lainnya dan tidak dibungkus seragam. Bubuk akan menjadi lebih keras begitu kemasan tersisa tidak digunakan. Bila kemasan dikocok, volume akan meningkat sebagai akibat terjebaknya udara.
b.        Pengadukan. Bila mengaduk dengan menggunakan tangan, rubber bowl harus berbentuk parabolik, halus, dan tahan terhadap abrasi. Spatula harus memiliki bilah yang kaku serta pegangan yang nyaman dipegang. Terjebaknya udara dalam adukan harus dihindari untuk mencegah poros yang dapat menyebabkan kelemahan dan ketidakakuratan permukaan. Penggunaan vibarator otomatis, dengan frekuensi tinggi dan amplitudo rendah akan membantu. Air yang sudah diukur ditempatkan dalam rubber bowl, dan bubuk yang sudah diukur ditaburkan ke dalam rubber bowl. Adukan kemudian dengan cepat diputar, dengan secara periodik menyapu spatula ke dalam rubber bowl untuk menjamin pembahasan semua bubuk serta memecahkan endapan, atau gumpalan. Pengadukan harus terus berlangsung sampai diperoleh asukan yang halus, biasanya dalam 1 menit. Semakin lama waktu pengadukan berarti mengurangi waktu kerja. Kebiasaan menambahkan air dan bubuk berulang – ulang untuk mencapai konsistensi yang tepat haruslah dihindari. Hal tersebut menyebabkan ketidakseragaman pengerasan dalam massa adukan, menghasilkan kekuatan yang rendah dan distorsi, satu penyebab utama ketidakakuratan dalam menggunakan produk gipsum. Metode yang paling disukai adalah menambahkan air yang sudah diukur terlebih dahulu, diikuti dengan penambahan bertahap bubuk yang telah ditimbang. Bubuk diaduk selama kurang lebih 15 menit dengan spatula, diikuti pengadukan mekanik hampa udara selama 20 – 30 detik dengan mixer. Dengan cara ini stone yang diaduk dengan tepat akan menghasilkan model yang padat. Kekuatan dan kekerasan yang diperoleh dengan pengadukan mekanik hampa udara biasanya melebihi dari pengadukan tangan selama 1 menit.4
Campuran dental stone memerlukan waktu tertentu untuk setting yang sempurna. Bubuk dicampur dengan air, dan waktu antara mulai pengadukan sampai bahan mengeras dikenal sebagai waktu setting. Waktu settingdental stone juga dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu :
a.         Ketidakmurnian. Bila proses kristalisasi tidak sempurna sehingga tetap terdapat partikel gipsum, atau bila pabrik menambahkan gipsum, waktu pengerasan akan diperpendek karena peningkatan dalam potensi nukleus kristalisasi. Bila ortombik anhidrit juga ada, periode induksi akan ditingkatkan; proses tersebut dapat berkurang bila terdapat heksagonal anhidrat.
b.        Kehalusan. Semakin halus ukuran partikel hemihidrat, semakin cepat adukan mengeras; khususnya bila produk tersebut telah digiling selama proses pembuatan. Tidak hanya kecepatan kelarutan hemihidrat menjadi meningkat, tetapi juga nukleus gipsum lebih banyak, karena itu kecepatan kristalisasi terjadi lebih cepat.
c.         Perbandingan antara air dan bubuk dental stone. Penggunaan air yang berlebihan dapat menyebabkan inti kristalisasi menjadi lebih sedikit sehingga waktu settingmenjadi lebih lama.
d.        Pencampuran. Kristal dari gipsum akan terbentuk dengan segera sesaat setelah bercampur dengan air. Saat pencampuran dimulai, pembetukan kristal akan meningkat. Jadi waktu setting menurun.
e.         Suhu. Efek suhu terhadap waktu settingtidak menentu dan berubah – ubah dari satu dental stone dengan yang lain, perubahan kecil yang terjadi  antara 0° C (32° F) dan 50° C (120° F). Jika suhu air pada pencampuran dengan dental stone melebihi 50° C, secara berangsur – angsur akan melambat. Jika suhu mendekati 100° C (212° F), tidak ada reaksi yang terjadi. Pada kisaran suhu tertinggi (50° C -  100° C), reaksi 2 yang terjadi adalah kebalikannya, dengan kecenderungan kristal gipsum yang terbentuk berubah kembali menjadi hemihidrat.
f. Retarder dan akselerator. Hal paling efektif dalam mengontrol waktu settingdental stone adalah dengan memmberikan bahan kimia pada pencampuran dental stone. Jika bahan kimia yang ditambahkan menurunkan waktu setting, itu disebut akselerator, jika meningkatkan waktu setting maka itu disebut retarder. Retarder umumnya bekerja dengan membentuk lapisan penyerap hemihidrat untuk mengurangi kelarutan dan menghambat pertumbuhan kristal – kristal gipsum yang ada4.




Judul : Pengaruh Perbandingan Air Dan Bubuk Terhadap Lamanya Waktu Setting Dental Stone (KD-11)


Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File
atau klik disini

Pengaruh Penghalusan Dinding Aksial Preparasi Terhadap Kekuatan Tarik Semen Luting Pada Lempeng Logam (KD-12)

Manusia dalam menjalani hidupnya tidak dapat mempertahankan secara keseluruhan fungsi tubuhnya, antara lain gigi. Untuk itu, perlu dibuat gigitiruan agar fungsi tubuh tidak terhambat dalam menjalankan kegiatan sehari-hari.

Fungsi gigitiruan adalah memperbaiki atau mengembalikan fungsi mastikasi, fonetik, dan estetik. Salah satu tanda gigitiruan yang baik adalah dapat bertahan di tempatnya selama mungkin dan dapat berfungsi sebagaimana diharapkan. Secara umum gigitiruan dapat dibedakan atas gigitiruan cekat (fixed denture) dan gigitiruan lepasan (removable denture). Umumnya penderita lebih nyaman menggunakan gigitiruan cekat dibandingkan gigitiruan lepasan karena proses adaptasinya yang lebih mudah dan lebih cepat.

Pembuatan gigitiruan cekat (GTC) menghendaki adanya pengasahan pada gigi penyangga. Untuk memperoleh suatu desain  preparasi yang baik, seorang dokter gigi harus mengikuti 5 prinsip dasar preparasi, yaitu pemeliharaan struktur gigi, bentuk retensi dan resistensi, daya tahan restorasi, integritas tepi restorasi, dan pemeliharaan jaringan periodonsium. Kelima prinsip ini tidak dapat berdiri sendiri tetapi saling berkaitan, misalnya pemeliharaan struktur gigi menghendaki preparasi seminimal mungkin. Di sisi lain, preparasi yang tipis menyebabkan tipisnya restorasi sehingga daya tahan restorasi dipertanyakan.1


Retensi adalah kemampuan dari preparasi untuk mencegah restorasi terlepas dari gigi penyangga oleh tekanan yang datang searah dengan sumbu gigi. Ada 4 faktor yang harus dipertimbangkan pada waktu melakukan preparasi gigi yang mempengaruhi retensi, yaitu derajat kelancipan preparasi, luasnya daerah permukaan  lapisan semen, daerah yang mengalami gesekan, dan kekasaran permukaan. Adanya kekasaran permukaan permukaan preparasi dimaksudkan untuk meningkatkan daerah adesi antara semen dan permukaan preparasi sehingga diharapkan akan meningkatkan retensi.

Dengan kata lain, makin kasar permukaan permukaan preparasi maka daya adesi semen gigi dapat berfungsi dengan baik.1

Shillingburg dkk mengemukakan bahwa merupakan hal yang penting cavosurface finish line hendaknya halus dan berkelanjutan untuk memfasilitasi pembuatan restorasi yang memiliki adaptasi tepi yang baik. Pengurangan jaringan dalam jumlah yang banyak difasilitasi dengan penggunaan bur intan. Akan tetapi penggunaannya meninggalkan cavosurface finish line yang tidak teratur sehingga diperlukan instrumen lain untuk mendapat permukaan yang halus. Untuk itu digunakan bur karbit dengan ukuran dan bentuk yang sama. 1

Machmud dalam penelitiannya yang meneliti kekasaran pada permukaan lempeng logam, mendapatkan bahwa kekuatan tarik terbesar adalah lempeng logam yang diberi perlakuan bentuk anyaman. 2

Hirata dkk dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa bur microfinishing baru dan teknik preparasi one way pulling/pushingmenghasilkan kekasaran permukaan yang lebih halus dibandingkan metode preparasi konvensional yang menggunakan bur yang sama atau bur intan superfine. 3

Sedangkan Sevgican dkk mengemukakan bahwa penggunaan dua macam bur tidak mempengaruhi kekuatan ikatan tensil dari adesif ke gigi. 4

Dari data penelitian yang ada sebelumnya mengenai celah tepi yang dihasilkan dari bebagai macam bur juga dapat mempengaruhi kekasaran dari dinding preparasi.

Hirata dkk dalam penelitiannya mendapatkan celah tepi minimal diperoleh dengan kombinasi bur microfinishing-baru dan teknik preparasi one way pulling/pushing. 3

Ayad juga meneliti mengenai efek dari beberapa macam bur terhadap kerapatan tepi restorasi ekstrakoronal mendapatkan bahwa celah terbesar terjadi dengan menggunakan tungten carbide bur, diamond bur, dan yang terkecil adalah yang menggunakan finishing bur. 5

Yamamoto dkk dalam penelitiannya mengemukakan bahwa kekasaran permukaan dari permukaan yang diberi beban tidak mempunyai pengaruh pada pembentukan retak pada keramik glass yang berbasis mika bonded.6

Sedangkan Celik dkk yang meneliti mengenai prosedur polishing and finishing pada kekasaran permukaan gigi peparasi mengemukakan bahwa penggunaan disk aluminium oksida menghasilkan permukaan yang lebih halus dari pada sistem poles silikon untuk semua jenis resin. 7

Jadi, di satu sisi perlu kekasaran pada permukaan preparasi. Akan tetapi di sisi lain penghalusan juga perlu dilakukan utamanya pada cavosurface finish line. Sampai saat ini belum ada data mengenai pengaruh penghalusan dinding aksial preparasi akibat penggunaan bur karbit terhadap kekuatan tarik dari semen luting restorasi tuang cekat. Tekanan geser yang akan melepaskan suatu restorasi cekat dari tempatnya akan menimbulkan tahanan dari semen lutingyang disebut kekuatan tarik. Makin tinggi nilai kekuatan tarik semen luting, menunjukkan makin retentif suatu restorasi.





Judul : Pengaruh Penghalusan Dinding Aksial Preparasi Terhadap Kekuatan Tarik Semen Luting Pada Lempeng Logam (KD-12)


Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File
atau klik disini

Pengaruh Suhu Air Terhadap Setting Time Alginat (KD-9)

Dalam praktek dokter gigi, ada kecenderungan untuk mengubah setting time dari alginat. Salah satu alasannya karena seringkali ada pasien yang gampang merasa mual saat alginat dimasukkan ke dalam mulut, sehingga dokter gigi harus megetahui cara untuk mempercepat setting time dari alginat tersebut.
            Bahan cetak alginat mudah digunakan. Bahan ini bersifat hidrofilik, sehingga permukaan jaringan yang lembab bukanlah kendala. Umumnya, alginat digunakan sebagai cetakan awal untuk membuat model studi yang membantu dalam pembuatan rencana perawatan dan diskusi dengan pasien. Tidak seperti banyak bahan cetak lainnya, alginat tidak mempunyai kisaran kekentalan yang jauh berbeda.1
                Bahan cetak dibagi menjadi kelompok non-elastik dan elastik. Bahan elastik ini terdiri atas jenis hidrokoloid dan elastomer. Salah satu bahan cetak hidrokoloid yang sampai saat ini masih banyak digunakan adalah alginat. Dari beberapa sifat alginat yang menguntungkan adalah sifat elastiknya yang baik.3
            Karena hanya satu campuran alginat yang dibuat, bahan yang telah diaduk diletakkan pada sendok cetak. Klinisi boleh mengambil sedikit bahan dengan jari bersarung tangan dan mengoleskan bahan tersebut kedalam ceruk dan fisura sentral serta kedalam fisura permukaan oklusal. Teknik ini mengurangi kemungkinan
terjebaknya gelembung udara bila sendok cetak dimasukkan dalam mulut. Karena bahan tersebut bersih dan mengeras dengan cepat, bahan cetak ini mudah ditolerir oleh pasien.1


            Sebelum menempatkan cetakan dalam mulut, bahan tersebut harus mencapai konsistensi tertentu sehingga tidak mengalir keluar sendok cetak dan membuat pasien tersedak. Dokter gigi harus belajar mengenali perubahan perubahan kekentalan sehinga ia dapat memasukkan cetakan pada saat interval kritis antara tahap bahan cetak mengalir dan tidak mengalir.1

            Campuran ditempatkan pada sendok cetak yang sesuai, yang dimasukkan ke dalam mulut. Bahan cetak harus menempel pada sendok cetak sehingga hasil cetakan dapat ditarik dari sekitar gigi. Oleh karena itu, umumnya digunakan sendok cetak berlubang-lubang. Bila dipilih sendok cetak plastik atau sendok cetak logam polos, suatu lapisan tipis perekat sendok cetak harus diaplikasikan dan dibiarkan kering dengan sempurna sebelum pengadukan dan memasukkan alginat ke dalam sendok cetak. Lapisan alginat yang tipis umumnya lemah, karena itu, sendok cetak harus cocok dengan lengkung gigi pasien sehingga lapisan bahan cetak cukup tebal. Ketebalan cetakan alginat antara sendok cetak dan jaringan harus sekurang-kurangnya 3 mm.1

            Kekuatan gel alginat meningkat beberapa menit setelah gelasi awal terjadi. Kebanyakan bahan alginat meningkat elastisitasnya dengan berlalunya waktu, yang meminimalkan distorsi bahan selama cetakan dibuka, sehingga dapat mencetak sempurna daerah undercut. Data tersebut secara jelas menunjukkan bahwa cetakan alginat tidak boleh dikeluarkan dari mulut setidaknya 2-3 menit setelah terjadi proses gelasi, yang merupakan perkiraan waktu dimana bahan kehilangan sifat kelengketannya.1

            Alginat bila dilarutkan dalam air membentuk larutan kental yang dapat dikonversi ke gel menggunakan garam kalsium. Penggunaan alginat jauh melebihi penggunaan semua bahan cetak lain dalam kedokteran gigi. Alginat sebagai bahan cetak berevolusi dengan beberapa modifikasi yang tergabung dalam komposisi dari waktu ke waktu untuk memperbaiki sifat dan kinerja klinis.5

            Waktu gelasi diukur dari mulai pengadukan sampai terjadinya gelasi, harus menyediakan cukup waktu bagi dokter gigi untuk mengaduk bahan, mengisi sendok cetak, dan meletakkannya di dalam mulut pasien. Sekali gelasi terjadi, bahan cetak tidak boleh diganggu karena fibril yang sedang terbentuk akan patah dan cetakan secara nyata menjadi lebih lemah.1

            Metode praktis untuk menentukan waktu gelasi bagi praktisi gigi adalah dengan mengamati waktu dari mulai pengadukan sampai bahan tersebut tidak lagi kasar atau lengket bila disentuh dengan ujung jari yang bersih, kering dan bersarung tangan. Barangkali waktu gelasi optimal adalah antara 3 dan 4 menit pada temperatur ruangan (20 o C). Normalnya, pabrik jenis alginat yang mengeras dengan cepat (1-2 menit) dan yang mengeras dengan kecepatan normal (2,5-4 menit), untuk memberi kesempatan bagi klinisi memlih bahan yang cocok dengan gaya kerja mereka.1

            Dalam keadaan klinis, seringkali ada kecenderungan untuk mengubah waktu gelasi dengan mengganti rasio air terhadap bubuk atau waktu pengadukan. Modifikasi kecil ini dapat mempunyai efek yang nyata pada sifat gel, mempengaruhi kekuatan terhadap robekan dan elastisitas. Jadi waktu gelasi lebih baik diatur oleh jumlah bahan memperlambat yang ditambahkan selama proses pembuatan di pabrik.1
            Cara lain yang dapat dilakukan klinisi secara aman adalah dengan mengubah temperatur air. Semakin tinggi temperatur, semakin pendek waktu gelasi. Pada cuaca panas, tindakan khusus harus dilakukan yaitu dengan mengaduk menggunakan air dingin sehingga gelasi prematur tidak terjadi. Bahkan ada kemungkinan mangkok pengaduk beserta spatula harus didinginkan lebih dulu, khususnya bila bahan cetak yang akan digunakan hanya sedikit. Pada keadaan apapun, lebih baik melakukan kesalahan dengan mengaduk terlalu dingin dibandingkan terlalu panas.1
            Bahan menunjukkan derajat sensitivitas yang bermacam-macam sesuai dengan perubahan temperatur. Beberapa bahan yang dipasarkan menunjukkan perubahan waktu gelasi sebesar 20 detik untuk setiap derajat Celcius perubahan temperatur. Pada keadaan tersebut, temperatur air pencampuran harus dikendalikan dengan hati-hati sekitar 1 oatau 2 odari temperatur standar (biasanya 20 oC), sehingga dapet diperoleh waktu gelasi yang konstan dan dapat diandalkan.1
            Secara keseluruhan, penelitian ini penting untuk dilakukan agar dokter gigi/operator dapat mengetahui cara untuk mengubah setting time alginat, yaitu salah satunya dengan mengubah suhu air yang digunakan. Dengan mengetahui caranya, dokter gigi/operator tidak lagi mengalami kesulitan saat melakukan pencetakan. Berdasarkan alasan tersebut, penulis mengangkat sebuah penelitian dengan judul “Pengaruh suhu air terhadap setting time alginat”.




Judul : Pengaruh Suhu Air Terhadap Setting Time Alginat (KD-9)


Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File
atau klik disini

Pengaruh Stres, Depresi, Dan Kecemasan Terhadap Volume Saliva Pada Mahasiswa Preklinik Fakultas Kedokteran Gigi Univeritas Hasanuddin (KD-10)

Saliva merupakan salah satu komponen penting dalam rongga mulut. Saliva berperan dalam melindungi jaringan di dalam rongga mulut dengan cara pembersihan secara mekanis untuk mengurangi akumulasi plak, lubrikasi elemen gigi-geligi, pengaruh buffer, agreasi bakteri yang dapat menghambat kolonisasi mikroorganisme, aktivitas antibakterial, perncernaan, retensi kelembaban, dan pembersihan makanan. Oleh karena itu, saliva sangat mempengaruhi kesehatan rongga mulut seseorang.1
                Agar dapat menjalankan fungsinya dengan baik, saliva perlu dihasilkan dalam rongga mulut dalam jumlah yang cukup. Umumnya sekresi saliva yang normal adalah 800-1500 ml/hari, Banyaknya saliva yang disekresikan di dalam mulut dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti rangsangan olfaktorius, melihat dan memikirkan makanan, rangsangan mekanis, kimiawi, neuronal, rasa sakit, dan konsumsi obat-obatan tertentu. Selain itu, keadaan stres, depresi, dan cemas juga dapat mempengaruhi sekresi saliva.1,2,3,4
                Telah dilakukan beberapa penelitian sebelumnya yang mengkaji mengenai saliva, stres, depresi, dan  kecemasan. Seperti dalam penelitian Little Mahendra dkk, 2011, dilaporkan bahwa stres kerja dapat menjadi faktor yang memperburuk

penyakit periodontal. Dalam penelitian lain, Bezerra Junior dkk, 2010, menunjukkan bahwa periodontitis kronis mempengaruhi komposisi dari saliva. Adapun penelitian yang mengemukakan bahwa depresi dan kecemasan dapat meningkatkan angka kematian (mortalitas) seperti penelitian yang telah dilakukan Mykletun dkk, 2007, Schoevers, Beekman, Tilburg, 2000.5,6,7,8

                Sekolah kedokteran gigi diketahui sebagai lingkungan pembelajaran yang meminta tuntutan yang tinggi dan penuh dengan tekanan jiwa (stresful). Kurikulum saat ini menghendaki mahasiswa kedokteran gigi untuk mencapai bermacam-macam kecakapan/keahlian, termasuk kemahiran dalam pengetahuan teori, kompetensi klinik, dan keterampilan dalam berhubungan dengan orang-orang (interpersonal skill). Telah banyak penelitian yang dilakukan di berbagai sekolah kedokteran gigi di seluruh dunia dan kebanyakan dari penelitian ini menunjukkan peningkatan yang signifikan dari stres di antara mahasiswa kedokteran gigi.9,10
                Dalam beberapa penelitian sebelumnya ditemukan bahwa tingkat stres pada mahasiswa kedokteran gigi cukup tinggi. Ada pula penelitian yang menemukan bahwa tingkat stres lebih tinggi pada mahasiswa klinik daripada mahasiswa preklinik. Dalam penelitian Alzahem dkk, 2010, ditemukan bahwa sumber stres pada mahasiswa kedokteran gigi berhubungan dengan ujian, kebutuhan dan syarat klinik, dan dental supervisor. Pada penelitian Polychronopoulou dan Divaris, 2005, mengemukakan bahwa sumber stres pada mahasiswa kedokteran gigi berasal dari banyaknya kuliah, ujian dan peringkat, kurangnya kepercayaan diri akan menjadi dokter gigi yang sukses, melengkapi syarat kelulusan, kurangnya waktu untuk mengerjakan tugas sekolah, dan kurangnya waktu santai.9,10
            Setelah melihat fakta-fakta seperti yang telah tertulis di atas, timbul dalam benak penulis pertanyaan-pertanyaan, antara lain benarkah stres, depresi, dan kecemasan dapat mempengaruhi sekresi saliva dan apakah tingkat keparahan dari ketiga hal tersebut berpengaruh terhadap volume saliva. Oleh karena itulah peneliti kemudian tertarik untuk meneliti lebih lanjut mengenai hal-hal tersebut. Secara keseluruhan penelitian ini penting dan perlu dilakukan sebab dengan melakukan penelitian ini, artinya dapat diketahui pengaruh stres, depresi, dan kecemasan dengan volume saliva dan dengan mengetahui pengaruh stres, depresi, dan kecemasan dengan volume saliva artinya dapat dilakukan pencegahan sebelum terjadi penyakit yang lebih serius, baik dari segi pencegahan terhadap penyakit di dalam rongga mulut, maupun pencegahan terhadap risiko dari faktor psikologis secara keseluruhan seperti kesehatan fisik, mental, dsb. Berdasarkan alasan-alasan tersebut penulis kemudian mengangkat sebuah penelitian dengan judul “Pengaruh Stres, Depresi, Dan Kecemasan Terhadap Volume Saliva Pada Mahasiswa Preklinik Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin”.




Judul : Pengaruh Stres, Depresi, Dan Kecemasan Terhadap Volume Saliva Pada Mahasiswa Preklinik Fakultas Kedokteran Gigi Univeritas Hasanuddin (KD-10)


Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File
atau klik disini

Pengelolaan Limbah Cair Di Rumah Sakit Gigi Dan Mulut ( Pengamatan Di Wilayah Kota Madya Makassar ) (KD-8)

Rumah sakit merupakan salah satu sarana kesehatan sebagai upaya untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan masyarakat tersebut. Rumah sakit sebagai salah satu upaya peningkatan kesehatan tidak hanya terdiri dari balai pengobatan dan tempat praktik dokter saja, tetapi juga ditunjang oleh unit-unit lainnya, seperti ruang operasi,laboratorium, farmasi, administrasi, dapur, laundry, pengolahan sampah dan limbah, serta penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan. Selain membawa dampak positif bagi masyarakat, yaitu sebagai tempat menyembuhkan orang sakit, rumah sakit jugamemiliki kemungkinan membawa dampak negatif. Dampak negatifnya dapat berupa pencemaran dari suatu proseskegiatan, yaitu bila limbah yang dihasilkan tidak dikelola dengan baik.¹,²
           
            Air limbah yang berasal dari rumah sakit merupakan salah satu sumber pencemaran airyang sangat potensial. Hal ini disebabkan karena air limbah rumah sakit mengandung senyawa organik yang cukup tinggi,mengandung senyawa-senyawa kimia yang berbahaya serta mengandung mikroorganisme pathogen yang dapat menyebabkan penyakit.


Air limbah rumah sakit adalah seluruh buangan cair yang berasal dari hasil proses seluruh kegiatan rumah sakit yang meliputi : limbah domestik cair yakni buangan kamar mandi, dapur, air bekas pencucian pakaian, limbah cair klinis yakni air limbah yang berasal dari kegiatan klinis rumah sakit misalnya air bekas cucian luka, cucian darah. dan lainnya, air limbah laboratorium, dan lain-lain.³


Pada tahun 1999, WHO melaporkan di Perancis pernah terjadi 8 kasus pekerja kesehatan terinfeksi HIV, 2 di antaranyamenimpa petugas yang menangani limbah medis1.Hal ini menunjukkan bahwa perlunya pengelolaan limbah yang baiktidak hanya pada limbah medis tajam tetapi meliputi limbah rumah sakit secara keseluruhan. Namun, berdasarkan hasilRapid Assessment tahun 2002 yang dilakukan oleh Ditjen Direktorat Penyediaan Air dan Sanitasi yangmelibatkan Dinas Kesehatan Kabupaten dan Kota, menyebutkan bahwa sebanyak 648 rumah sakit dari 1.476 rumahsakit yang ada, yang memiliki insinerator baru 49% dan yang memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL)sebanyak 36%. Dari jumlah tersebut kualitas limbah cair yang telah melalui proses pengolahan yang memenuhi syaratbaru mencapai 52% 1. ²
Hasil dari kualitas pengolahan limbah cair tidak terlepas dari dukungan pengelolaan limbah cairnya.Suatu pengelolaanlimbah cair yang baik sangat dibutuhkan dalam mendukung hasil kualitas effluent sehingga tidak melebihi syarat bakumutu yang ditetapkan oleh pemerintah dan tidak menimbulkan pencemaran pada lingkungan sekitar. Oleh karenapentingnya pengelolaan limbah cair rumah sakit, maka diamati pengelolaan limbah cair di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Makassar.³
            Berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia NomorKEP-58/MENLH/12/1995, tentang baku mutu limbah cair bagi kegiatan rumah sakit, bahwa rumah sakit diwajibkan menyediakan sarana pengelolaan limbah cair maupun limbah padat agar seluruh limbah yang akan dibuang ke saluran umum memenuhi baku mutu limbah yang ditetapkan menurut peraturan.




Judul : Pengelolaan Limbah Cair Di Rumah Sakit Gigi Dan Mulut ( Pengamatan Di Wilayah Kota Madya Makassar ) (KD-8)


Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File
atau klik disini

Pigmentasi Mukosa Bibir Pada Perokok & Penyebabnya (KD-5)

Merokok adalah membakar tembakau yang kemudian dihisap asapnya baik langsung pada rokok maupun menggunakan pipa. Rokok merupakan benda yang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat. Merokok sudah menjadi kebiasaan yang sangat umum dan meluas di masyarakat tetapi kebiasaan merokok sulit dihilangkan dan jarang diakui orang sebagai suatu kebiasaan buruk.1
Perilaku perokok dari berbagai sudut pandang sangat merugikan, baik untuk diri sendiri maupun disekelilingnya. Dilihat dari sisi individu yang bersangkutan, ada beberapa riset yang mendukung pernyataan tersebut, dilihat dari sisi kesehatan. Pengaruh bahan kimia yang dikandung rokok seperti nikotin,CO (karbon monoksida), dan tar akan memacu kerja dari susunan saraf pusat dan susunan saraf simpatik sehingga mengakibatkan tekanan darah meningkat dan detak jantung bertambah cepat. Selain itu, rongga mulut menjadi kering dan lebih anaerob dapat mengakibatkan perokok berisiko lebih mengalami infeksi bakteri penyebab penyakit jaringan pendukung gigi dibandingkan mereka yang bukan perokok.1


            Rongga mulut sangat mudah terpapar efek yang merugikan akibat merokok. Rokok yang dihisap dengan tarikan berat dan panjang akan menghasilkan lebih banyak asap rokok dibandingkan dengan  rokok yang dihisap dengan tarikan pelan dan tiupan cepat. Temperatur rokok pada mukosa bibir sekitar 300 C, sedangkan ujung rokok yang terbakar jauh lebih panas karena ditandai dengan bara api pada ujung yang dibakar. Asap panas yang berhembus terus menerus ke dalam rongga mulut merupakan rangsangan panas yang menyebabkan perubahan aliran darah dan mengurangi pengeluaran ludah. 1


Berdasarkan riset penelitian bahwa sensitivitas ketajaman penciuman dan pengecapan para perokok berkurang dibandingkan dengan non-perokok. Dan adapun pendapat  dari orang yang merokok, nikmat 38,298 %, puas 15.957 %, tenang 12,766 %, biasa saja 11,703 %, santai 5,319 %, hangat 3,192 %, percaya diri 2,128 %, gaya 1,064 %, masalah hilang 1,064 %, mengantuk 1,064 %, pusing 5,257 %, pahit 2,218 %. 2,3,9

Kulit dan membran mukosa mulut memiliki persamaan dan perbedaan yang nyata. Keduanya mempunyai lapisan epitel terluar dan memiliki jaringan penghubung dalam. Secara umum, kulit dan membran mukosa masing-masing memiliki hubungan. Oleh karena itu, banyak penyakit kulit manifestasinya terlihat pada mukosa mulut.4

Banyak faktor yang dapat mempengaruhi warna dari permukaan mukosa mulut yaitu dasar vaskularisasi dan oksigenasi darah, ketebalan epitel termasuk pigmen melanin pada jaringan . Beberapa dari perubahan ini adalah tidak berbahaya, misalnya paparan sinar matahari pada bibir yang dapat merangsang sistem pertahanan tubuh sehingga sel-sel melanosit menghasilkan pigmen melanin .4,5

Warna dari mukosa mulut bervariasi pada tiap individu. Pada  orang yang berkulit putih warnanya lebih terang dibanding pada orang yang berkulit coklat dan hitam. Oleh karena itu, sering ditemukan daerah yang mengalami pigmentasi pada orang  berkulit hitam. Variasi warna normal merupakan gejala alami. Seseorang bisa saja mengalami perubahan intensitas warna pada mukosa bibirnya. 6

Sebagai calon dokter gigi, kita dituntut dapat mengidentifikasi secara cepat dan tepat setiap masalah yang bermanifestasi pada rongga mulut sehubungan dengan seseorang yang mempunyai kebiasaan merokok dapat mengalami pigmentasi mukosa bibir. Oleh karena itu, kita harus mengetahui pigmentasi mukosa bibir yang disebabkan oleh kebiasaan merokok dan bagaimana prevalensi dan dampaknya bagi orang yang memiliki kebiasaan merokok.





Judul : Pigmentasi Mukosa Bibir Pada Perokok & Penyebabnya (KD-5)


Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File
atau klik disini

Perbandingan Keadaan Tulang Alveolar Antara Perokok Dan Bukan Perokok (KD-6)



Merokok adalah salah satu masalah kesehatan masyarakat yang terjadi di Indonesia. Merokok merupakan kebiasaan yang memiliki daya merusak yang cukup besar terhadap kesehatan, karena setelah diteliti lebih lanjut, diketahui bahwa di dalam satu batang rokok terdapat sekitar 4.000 jenis zat racun yang berperan sebagai radikal bebas yang berbahaya bagi tubuh. Diperkirakan bahwa terdapat hubungan positif antara kebiasaan merokok dan penyakit periodontal sehubungan dengan bertambahnya banyaknya deposit plak dan kalkulus pada perokok.1
Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang memiliki tingkat sifat konsumsi rokok dan produksi rokok yang tinggi. Berdasarkan data WHO, angka kebiasaan merokok di Indonesia setiap tahunnya meningkat dan telah mencapai 400 ribu per tahun. Hal ini menempatkan Indonesia di urutan ke-3 negara dengan jumlah perokok terbanyak setelah China dan India.2
Prevelensi secara nasional berdasarkan hasil Riskesdas tahun 2010 sebesar 34,7 persen atau sekitar 80 juta penduduk Indonesia adalah perokok. Prevelensi yang merokok pada kelompok umur 45-54 tahun sebesar 32,2 persen dan pada kelompok umur 15 tahun ke atas sebanyak 54,1 persen. Prevelensi tertinggi pertama yaitu pada umur 15-19 tahun (43,3 persen) dan sebesar 1,7 persen mulai merokok pertama kali umur 5-9 tahun. Sekitar 60 persen pria diatas 15 tahun adalah perokok aktif.Data dinas kesehatan provinsi Sulawesi selatan menyebutkan bahwa jumlah perokok aktif di Makassar hingga akhir 2010 mencapai 287 ribu orang atau 22 persen dari jumlah penduduk. 3

Pada perokok, terjadi penurunan dari peradangan klinis terhadap akumulasi plak dibandingkan bukan perokok. Namun, meskipun peradangan gingival pada perokok tampak menurun terhadap akumulasi plak dibandingkan bukan perokok, keparahan yang terjadi justru lebih ke dalam, yaitu kearah kerusakan jaringan periodonsium, dalam hal ini tulang alveolar.4
Terdapat suatu penelitian yang menyatakan bahwa hubungan antara merokok dengan prevelensi hilangnya tulang vertikal adalah 5,3 kali lebih besar pada perokok dibandingkan bukan perokok (p<0,005). Sementara penelitian yang lain menunjukkan bahwa merokok secara bermakna menurunkan ketinggian tulang alveolar dibandingkan bukan perokok. Dan pada penelitian Chen et al. 2001, van der Weijden et al. 2001, Albandar 2003 dan Natto et al. 2005 bahwa kerusakan tulang alveolar lebih prevalen dan lebih parah pada individu perokok dibandingkan bukan perokok.4
Mengingat banyaknya bahaya merokok terhadap kesehatan khususnya jaringan periodontal yaitu pada tulang alveolar, maka peneliti merasa perlu melakukan penelitian untuk mengetahui perbandingan keadaan tulang alveolar antara perokok dan bukan perokok serta dilihat berdasarkan usia, lamanya merokok dan jumlah rokok yang dihisap dalam satu hari.



Judul : Perbandingan Keadaan Tulang Alveolar Antara Perokok Dan Bukan Perokok (KD-6)


Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File
atau klik disini

Penggunaan Zirconia Dalam Bidang Kedokteran Gigi (KD-7)



Dengan bertambahnya waktu maka kemajuan teknologi juga semankin bertambah. Bukan hanya teknologi saja yang semakin maju melainkan ilmu pengetahuan yang semakin meningkat dan semakin meluas. Berkembangnya Ilmu pengetahuan dan teknologi sekarang ini diiringi dengan penemuan-penemuan baru yang berhubungan dengan kedokteran gigi.
Tujuan  utama perawatan kedokteran gigi yaiu untuk mempertahankan atau meningkatkan mutu kehidupan pasien kedokteran gigi. tujuan ini dapat dicapai dengan mencegah penyakit, menghilangkan rasa sakit, memperbaiki efisiensi pengunyahan, meningkatkan pengucapan dan memperbaiki estetika.1
Dental Material adalah suatu ilmu yang mempelajari tentang bahan-bahan yang digunakan di kedokteran gigi, baik sifat-sifatnya maupun cara memanipulasi bahan tersebut. 2
Salah satu bentuk kemajuan dalam bidang kedokteran gigi adalah penggunaan zirconia sebagai dental material. Zirconia berasal dari unsur zirconium (Zr) yang memiliki nomor atom 40 dan berat atom 91,22. Zirconia merupakan keramik bioinert. Ada beberapa tipe dari zirconia, yaitu ; tetragonal zirconia polycrystals (TZP), fully stabilized zirconia (FSZ), partially stabilized zirconia (PSZ), zirconia toughened alumina (ZTA), dan transformation toughened zirconia (TTZ). Tetapi yang dipakai sebagai dental material dari tipe TZP dan PSZ. Sebagai dental material zirconia memiliki sifat fisik, mekanis, kimia, dan biologis yang sangat baik. Untuk mendapatkan kestabilan pada zirconia maka zirconia ditambahkan senyawa stabilator seperti yttria dan ceria. Dalam bidang kedokteran gigi, zirconia digunakan sebagai material implan, pasak, dan bracket. Keramik zirconia secara biologis sebanding dengan titanium yang merupakan material implan yang paling sering digunakan. Implan zirconia memiliki proses penyembuhan tulang yang lebih baik dari implan titanium.3

Zirconia sebagai oksida murni tidak ditemukan di alam, akan tetapi zirconia biasa ditemukan dalam baddeleyite and zircon (ZrSiO4) yang merupakan sumber utama dari material. Dari kedua sumber zirconia tersebut, zircon yang didapat memiliki kemurnian yang rendah, dan harus melaliu proses-proses tertentu untk menghasilkan zirconia. Dalam memproses zirconia dilakukan pemisahan dan penghilangan material-material yang tidak diinginkan serta impurities yang ada, yaitu zircon – silica. Zirconium oxide (Zirconia) murni memiliki titik leleh yang tinggi (2,700° C) dan konduktivitas thermal yang rendah.4
Adapun tujuan dari penulisan ini adalah untuk memaparkan tentang definisi, prevalensi, sifat-sifat, keuntungan, kerugian dari zirconia dan untuk mengetahui lebih luas tentang penggunaan Zirconia dalam bidang kedokteran gigi.




Judul : Penggunaan Zirconia Dalam Bidang Kedokteran Gigi (KD-7)


Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File
atau klik disini

Pengaruh Lama Perendaman Plat Gigitiruan Akrilik Dalam Ekstrak Kelopak Bunga Rosella Terhadap Kekuatan Transversa Plat Gigitiruan (KD-13)



Menurut Stoll, gigi merupakan sumber dari berbagai gangguan, baik fisik maupun mental.Kehilangan gigi merupakan penyebab utama dari perubahan nutrisi seseorang. Selain itu, kehilangan gigi juga akan mempengaruhi cara berbicara seseorang , karena tanpa gigi kemungkinan besar ia akan mengalami kesulitan dalam mengucapkan kata-kata. Tidak dapat dipungkiri bahwa kelhilangan gigi merupakan suatu keadaan yang sering ditemukan di mana saja, dan melihat akibatnya jika tidak diganti cukup beresiko seperti yang telah disebutkan di atas, maka sudah seharusnya gigi yang hilang diganti dengan gigitiruan.1
Gigitiruan adalah piranti untuk menggantikan permukaan pengunyahan dan struktur-struktur yang menyertainya dari suatu lengkung gigi rahang atas dan bawah. Gigitiruan tersebut terdiri dari gigi-gigi buatan yang dilekatkan pada basis. Basis gigitiruan mendapatkan dukungan melalui kontak yang erat dengan jaringan mulut di bawahnya. 2
Meskipun basis gigitiruan dapat dibuat dari logam atau campuran logam, kebanyakan basis gigitiruan dibuat menggunakan  polimer. Polimer tersebut dipilih berdasarkan keberadaanya, kestabilan dimensi, karakteristik penanganan harganya relatif murah, mudah direparasi, proses pembuatan gigi tiruan mudah dan menggunakan peralatan sederhana, warna stabil, dan mudah dipulas.3
            Kelemahan yang dimiliki resin akrilik heat cured salah satu adalah mudah terjadi porus. Porus dapat menjadi tempat akumulasi sisa-sisa makanan dan mikroorganisme yang dapat mengganggu kebersihan dan kesehatan rongga mulut. Hal ini dapat memicu terjadinya denture stomatitis yang disebabkan oleh infeksi Candida albicans.4 Penutupan mukosa oleh basis gigitiruan dapat mengurangi efek pembersihan oleh saliva, akibatnya sisa makanan semakin menumpuk sehingga prevalensi candida albicans meningkat.

Denture stomatitis dapat dicegah dengan cara  rutin membersihkan gigi tiruan baik secara mekanik menggunakan sikat gigi maupun secara kimia menggunakan denture cleanser. Penggunaan denture cleanser terbukti efektif mengurangi plak dan kolonisasi C. albicans pada denture. Oleh karena itu upaya untuk mendapatkan denture cleanser yang ideal terus dilakukan.4
            Pemakaian denture cleanser sehari-hari dapat mempengaruhi sifat resin akrilik seperti perubahan warna, kekasaran, permukaan, kekerasan, dan kekuatan transversa.4 Denture cleanser yang ada di pasaran rata- rata berasal dari bahan impor. Saat ini pemerintah Indonesia sedang menggalakkan pemakaian bahan- bahan tradisional sebagai bahan alternative pengobatan karena Indonesia kaya akan tanaman berkhasiat obat, salah satu tanaman yang dapat digunakan adalah tumbuhan rosella (Hibiscus Sabdariffa L). Selain itu berdasarkan dari hasil penelitian Asviana (2011) ekstrak rosella memiliki efek antifungi terhadap koloni Candida albicans sehingga larutan ekstrak kelopak bunga rosella  mampu menjadi anti mikroba dan anti fungi yang sangat baik pada plat gigitiruan.
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penulis bermaksud untuk melakukan penelitian tentang pengaruh lama perendaman plat gigitiruan dalam ekstrak kelopak bunga rosella terhadap kekuatan transversa plat gigitiruan.


Judul : Pengaruh Lama Perendaman Plat Gigitiruan Akrilik Dalam Ekstrak Kelopak Bunga Rosella Terhadap Kekuatan Transversa Plat Gigitiruan (KD-13)


Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File
atau klik disini

Uji Hambat Air Perak Terhadap Pertumbuhan Bakteri Straphylococcus Aureus (KD-4)

Rongga mulut merupakan tempat berkumpulnya bakteri. Rongga mulut dapat memberikan kontribusi yang cukup berarti dalam menimbulkan bakteremia. Pada keadaan penurunan imunitas, bakteri rongga mulut yang semula komensal dapat berubah menjadi pathogen sehingga dapat menyebabkan bakteremia dan infeksi sistemik. Bakteri yang biasanya terdapat dalam mulut diantaranya adalah Streptococcus mutans, Streptococcus viridians, Staphylococcus aureus epidermidis, Staphylococcus pneumonia, dan Staphylococcus aureus.1

            Staphylococcus aureus sering ditemukan sebagai kuman flora normal pada kulit dan selaput lendir pada manusia, namun kuman ini juga dapat menjadi penyebab infeksi baik pada manusia maupun pada hewan.2  Staphylocossus aureus dikenal sebagai mikroorganisme pathogen yang dihubungkan dengan berbagai sindrom klinis. Bakteri ini merupakan bakteri pathogen utama pada manusia yang menyebabkan berbagai penyakit secara luas yang berhubungan dengan toxic schock syndrome sebagai akibat dari keracunan pangan. Selain terdapat di dalam mulut, Staphylococcus aureus juga dapat menginfeksi jaringan atau alat tubuh lain yang menyebabkan timbulnya penyakit dengan tanda-tanda yang khas seperti nekrosis, peradangan dan pembentukan abses. Kuman ini juga dapat menyebabkan terjadinya septikemia, endokarditis, abses serebri, sepsis purpuralis, dan pneumonia. Oleh karena itu, penemuan bahan yang dapat membantu mengatasi kuman ini akan memberikan upaya pemeliharaan kesehatan masyarakat.2


            Indonesia adalah salah satu negara berkembang, sekarang sejak ditemukannya antibiotika yang dijuluki obat dewa sekitar 70 tahun yang lalu, banyak cara pengobatan alamiah yang terbukti sangat ampuh dalam mengatasi masalah kesehatan menjadi terlupakan. Salah satunya adalah air perak yang sudah di kenal sebagai pembunuh bakteri sejak ribuan tahun lalu. Sejarah telah membuktikan kehebatan logam perak yaitu, perak dijadikan wadah oleh orang jaman dahulu untuk menaruh anggur sehingga tidak mudah rusak, orang Romawi menaruh koin perak ke dalam wadah penyimpanan susu agar tidak mudah basi, raja Tiongkok menggunakan sumpit perak dengan tujuan apabila makanannya diberi racun maka dapat dinetralisir, perak merupakan satu-satunya logam yang tidak mengandung racun.

            Perak merupakan antibiotik alami yang sangat kuat yang sudah digunakan selama ribuan tahun. Dalam beberapa dekade terakhir ini, kalangan medis melihat adanya suatu hubungan antara perak dengan sistem kekebalan tubuh alami manusia. Kemudian dibentuklah suatu produk yang mengandung bahan dasar air perak dengan merek dagang Ionic Silver GT. Ionic silver GT ini membunuh bakteri pathogen dengan melakukan penetrasi ke dalam membran sel bakteri. Dengan ukurannya yang sangat kecil (nano partikel), penetrasi dari ionic silver GT dapat merubah integritas membran sel, mengubah ikatan esensial protein dan DNA pada bakteri sehingga menjadi tidak stabil.

            Adanya sifat antibakteri yang terdapat dalam produk Ionic silver GT yang berbahan utama air yang mengandung perak ini membuat penulis ingin membuktikan bagaimana daya hambat air perak tersebut terhadap bakteri yang sering menimbulkan infeksi dalam rongga mulut bahkan bisa mengakibatkan sariawan serta bisa menginfeksi jaringan tubuh yang lainnya yaitu Staphylococcus aureus.





Judul : Uji Hambat Air Perak Terhadap Pertumbuhan Bakteri Straphylococcus Aureus (KD-4)


Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File
atau klik disini