Pages

Tampilkan postingan dengan label Pendidikan Matematika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan Matematika. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 Agustus 2015

Persepsi Guru Matematika Terhadap Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi (Kbk) Mata Pelajaran Matematika Di Sma Negeri 1 Makassar (PMT-9)

BAB I 
PENDAHULUAN 

Latar Belakang

Pendidikan adalah penentu terbesar perkembangan masa depan bangsa. Makin besar perhatian kita terhadap bidang pendidikan, ditambah lagi dengan ketepatan arah pendidikan yang dicanangkan, niscaya akan membawa bangsa atau daerah tersebut pada tingkat kemajuan yang memadai, sehingga tidak akan tertinggal atau ditinggalkan oleh bangsa lain. Pendidikan di Indonesia dewasa ini masih jauh tertinggal dibanding pendidikan di negara lain. Untuk mengantisipasi hal tersebut salah satu aspek yang perlu diperhatikan adalah materi atau yang biasa disebut kurikulum.

Kurikulum dalam suatu sistem pendidikan merupakan komponen yang penting. Dikatakan demikian karena kurikulum merupakan penuntun dalam proses belajar mengajar (PBM) di sekolah. Oleh karena itu kurikulum selalu dinamis dan senantiasa dipengaruhi oleh perubahan-perubahan dalam faktor-faktor yang mendasarinya. Tujuan pendidikan dapat berubah secara fundamental bila suatu negara yang dijajah menjadi negara yang merdeka, sehingga dengan sendirnya kurikulum pun harus mengalami perubahan yang menyeluruh.

Kurikulum dapat pula mengalami perubahan bila terdapat pendirian baru mengenai proses belajar mengajar, sehingga timbul berbagai bentuk kurikulum. Perubahan dalam masyarakat, eksplosi ilmu pengetahuan, dan lain-lain mengharuskan adanya perubahan kurikulum. Perubahan-perubahan itu menyebabkan kurikulum yang berlaku tidak lagi relevan, dan ancaman serupa ini akan senantiasa dihadapi setiap kurikulum, betapapun relevannya pada suatu saat.

Agar pendidikan memiliki relevansi dengan perkembangan zaman, maka perlu sekali praktek pendidikan diarahkan pada pendidikan yang berbasis kompetensi. Artinya praktek pendidikan dapat membekali siswa sejumlah keterampilan (life skill). Dengan life skill, yang tidak semata-mata mengandalkan kemampuan akademik melainkan juga non akademik, siswa dapat memaknai perjalanan hidupnya dengan kearifan.


Berkaitan dengan life skill, para guru atau pendidik harus dapat menguasai keterampilan tertentu, sehingga para siswa dapat difasilitasi untuk meningkatkan keterampilan dasarnya menjadi suatu keterampilan yang lebih tinggi. Santoso (dalam Qomari Anwar, 2002) mengatakan bahwa tugas penting seorang pendidik atau guru ialah menguasai keterampilan melatih, dan membimbing siswa supaya mau dan mampu secara cermat dan tekun melakukan observasi terhadap berbagai peristiwa atau persoalan yang terjadi di sekelilingnya.

Dalam rumusan tujuan pembelajaran, life skill didefinisikan sebagai suatu kecakapan mengaplikasikan kemampuan dasar keilmuan atau kejuruan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga bermakna dan bermanfaat bagi peningkatan taraf kehidupannya serta harkat dan martabatnya, dan juga memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungannya (Suderadjat : 2004).

Sekolah sebagai sebuah masyarakat kecil (mini society) yang merupakan wahana pengembangan peserta didik dituntut untuk menciptakan iklim pembelajaran yang demokratis (democratic instruction) agar terjadi proses belajar mengajar yang menyenangkan (joyfull learning). Dengan iklim yang demikian, pendidikan diharapkan mampu melahirkan calon-calon penerus pembangunan masa depan yang sabar, kompeten, mandiri, kritis, rasional, cerdas, kreatif, dan siap menghadapi berbagi macam tantangan, dengan tetap bertawakal terhadap Sang penciptanya. Untuk kepentingan tersebut diperlukan perubahan yang cukup mendasar dalam sistem pendidikan nasional, yang dipandang oleh berbagai pihak sudah tidak efektif, dan tidak mampu lagi memberikan bekal, serta tidak dapat mempersiapkan peserta didik untuk bersaing dengn bangsa-bangsa lain di dunia. Perubahan mendasar tersebut berkaitan dengan kurikulum, yang dengan sendirinya menuntut dan mempersyaratkan berbagai perubahan pada komponen-komponen pendidikan lain.

Berbagai pihak menganalisis dan melihat perlunya diterapkan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), yang dapat membekali peserta didik dengan berbagai kemampuan yang sesuai dengan tuntutan zaman, guna menjawab tantangan arus globalisasi, berkontribusi pada pembangunan masyarakat dan kesejahteraan sosial, lentur, dan adaptif terhadap berbagai perubahan.

KBK diharapkan mampu memecahkan berbagai persoalan bangsa, khususnya dalam bidang pendidikan, dengan mempersiapkan peserta didik melalui perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi terhadap sistem pendidikan secara efektif, efisien dan berhasil guna.

Sejak tahun anggaran 2000/2001 Pusat Kurikulum Balitbang Diknas telah melakukan pengembangan KBK. Mulai tahun ajaran 2001/2002 KBK diimplementasikan secara terbatas dalam bentuk mini piloting di beberapa daerah/sekolah. Daerah yang dijadikan mini piloting yaitu Sidoarjo di Jawa Timur, Bandung di Jawa Barat, Serang di Banten, Daerah Istimewa Yogyakarta dan di DKI Jakarta (Siskandar: 2003). Sementara pemerintah kota Makassar merencanakan untuk memberlakukan KBK pada tahun pelajaran 2003/2004, namun masih banyak sekolah yang belum memberlakukannya, dan pelaksanaannya masih dalam tahap uji coba (Nuryadi: 2004). Berdasarkan informasi yang diperoleh dari salah seorang guru Matematika SMA Negeri 1 Makassar, terdapat beberapa persepsi guru tentang pelaksanaan KBK mata pelajaran matematika di SMA Negeri 1 Makassar.

Judul : Persepsi Guru Matematika Terhadap Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi (Kbk) Mata Pelajaran Matematika Di Sma Negeri 1 Makassar (PMT-9))

Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File
atau klik disini

Kamis, 07 Juni 2012

Penerapan Model Pembelajaran Contextual Teaching And Learning Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas Viii I Smp N 1 Adiwerna Kabupaten Tegal Dalam Pokok Bahasan Pythagoras (PMT-8)

BAB I
 PENDAHULUAN


 
A.  Latar Belakang Masalah

Perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi yang kian pesatdan perubahan global dalam berbagai aspek kehidupan yang datang begitu cepat menjadi  tantangan   bangsa   dalam  mempersiapkan generasi  masa  depan, termasuk peserta didik.

Untuk menghadapi dinamika dan mengantisipasi persoalan-persoalan kemungkinan  besarsudah atau akan terjadidalam bidang pendidikan perlu disiapkan   perangkat   aturan   atau   kurikulum   yang  berbasis   kompetensi. Kompetensi  tersebut   diharapkan  dapat  mengembangkan  ketrampilan  dan keahlian untuk dapat mempertahankan hidup di tengah perubahan dunia yang tiba-tiba, cepat, rumit, tidak pasti dan tidak menentu.
 
SMP Negeri 1 Adiwernatermasuk sekolah unggulandi Kabupaten Tegal dan  sekolah yang berstandar nasional(SSN) dalam pembelajarannya menggunakan  kurikulum   2004  yang  berbasis pada kompetensi.  Namun kenyataannya   berdasarkan   pengamatan   dan   pengalaman   guru   pengajar matematika SMP Negeri 1 Adiwerna, masih banyak siswa         dalam pembelajaran  matematika, khususnya  materi  Pythagoras  masih  mengalami kendala dan belum memperolehhasil  yang  memuaskan. Hal ini bisa dilihat darihasil ulangan harian untuk pokok bahasan  tersebut diatasmempunyai rata-rata nilai 65,1 padahal nilai batas tuntas sekolah yaitu 67.

Mengingat  kondisi   tersebut   di   atas,   maka   dalam   pembelajaran matematika,  peneliti berupaya  untuk  merancang  model  pembelajaran  dan pendekatan   serta  pemilihan  media  yang  tepat agar  tujuan  pembelajaran matematika berhasil.

Minat siswaperlu dibangkitkan dalam prosespembelajaran dengan variasi pembelajaran yang menarik, sehingga nantinya dapat mengerjakan soal dengan benar.  Misalnya nilai tersebut perlu ditingkatkan melalui penerapan atau praktek langsung pada benda-benda kongkret yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari (contextual problem).

Berdasarkan      uraian      tersebut  di atas      penulis      ingin mengetahui bagaimana penerapan pembelajaran kontekstual                    pada       pokok    bahasan Pythagoras  terhadap  prestasi  belajar siswa  kelas  VIII  I  SMP  Negeri  1 Adiwerna KabupatenTegal semester gasal tahun pelajaran 2006-2007. untuk mengetahui penerapanpembelajaran kontekstual tersebut maka langkah yang perlu diambil adalah  membandingkan hasilpembelajaran tahun lalu dengan pembelajaran yang menggunakan pembelajaran kontekstual.

Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Kamis, 17 Mei 2012

Contoh Skripsi Pendidikan Matematika

Contoh Skripsi Pendidikan Matematika

Matematika adalah suatu ilmu pasti atau eksak yang mempunyai rumus-rumus dalam penyelesaiannya. Kata mattematika berasal dari bahsa Yunani yaitu mathematika yang berarti studi besaran, ruang, struktur dan perubahan.

Pada masa kini ilmu matematika telah banyak mengalami kemajuan, jadi jika ingin membuat skripsi matematika kita dapat mengambil contoh judul mengenai perkembangan ilmu matematika.

Terkadang sebagai mahasiswa, Anda bingung ketika akan mengerjakan tugas akhir atau skripsi, terutama ketika menentukan judul. Sehingga Anda perlu mencari inspirasi untuk judul sripsi yang akan Anda buat.

Buat teman-teman yang kebetulan lagi sibuk mikirin tentang pembuatan judul skripsi matematika, lagi mencari contoh skripsi pendidikan matematika gratis. mudah-mudahan contoh skripsi matematika ini dapat membantu anda dalam membuat skripsi matematika  yang anda jalani dengan mudah.
 
Berikut contoh-contoh skripsi pendidikan matematika dalam bentuk MS-WORD. silahkan klik judul skripsi matematika di bawah ini untuk melihat isi lengkapnya.

Judul Skripsi Pendidikan Matematika (PMT)




Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File
atau klik disini