Pages

Tampilkan postingan dengan label Pertanian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pertanian. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 November 2015

Pengaruh Subtitusi Fosfat Dengan Asap Cair Terhadap Kualitas Nugget Dada Broiler Prarigor Dan Pascarigor (PT-20)



Peningkatan konsumsi masyarakat terhadap daging ayam yang semakin tinggi khususnya daging broiler yang jadi pilihan. Daging broiler menjadi pilihan karena dapat menimbulkan kenikmatan tersendiri bagi yang mengonsumsinya karena memiliki cita rasa yang enak dan kandungan gizinya yang lengkap. Disamping itu broiler dapat dipanen dan dipasarkan dengan cepat.
            Masyarakat mengenal dua bentuk produk yang dimanfaatkan sebagai sumber protein hewani yakni daging segar dan daging olahan. Pada umumnya pengolahan dilakukan bertujuan untuk mempertahankan daya simpan suatu produk bahan pangan yang mudah mengalami kerusakan, memberikan nilai tambah dan cita rasa suatu produk, serta  meningkatkan kualitas produk. Oleh karena itu perlu di lakukan suatu usaha agar kandungan gizi pada daging dapat di pertahankan. Salah satu produk olahan yang menggunakan daging adalah nugget.
            Nugget merupakan suatu produk olahan daging berbentuk emulsi, di mana kualitas nugget ditentukan oleh karakteristik daging yang digunakan  sebagai bahan baku. Kemampuan untuk mengikat air dan lemak untuk menstabilkan emulsi merupakan sifat yang penting untuk produk emulsi, sehingga di peroleh produk yang memiliki sifat fisik dan sensorik yang optimal. Daging segar dari fase rigor yang berbeda memiliki karakteristik  yang berbeda sebagai bahan baku.

            Peningkatan permintaan nugget yang berkualitas dan tahan lama membuat sebagian besar penjual nugget harus menambahkan bahan tambahan seperti fosfat. Penambahan fosfat dalam adonan nugget dimaksudkan untuk menghasilkan nugget yang kenyal dan awet namun penggunaan fosfat masih diragukan keamanannya bagi kesehatan.
            Kualitas merupakan faktor utama yang perlu diperhatikan dalam produksi daging dan hasil olahan yang dapat dibentuk. Saat ini penggunaan bahan untuk meningkatkan kualitas suatu mutu produk olahan yang aman untuk kesehatan menjadi perhatian serius untuk dikembangkan salah satunya adalah asap cair.
Asap cair merupakan kondensasi dari pirolisis kayu atau batok kelapa setelah melalui pemanasan pada suhu 400-6000Cdalam sebuah tabung atau drum. Asap cair ini mengandung  lebih dari 400 senyawa kimia antara lain fenol (4,36%), karbonil (11,3%) dan asam (10,2%) (Setiadji, 2000; Anonim, 2008)
Pengggunaan asap cair saat ini masih terbatas sebagai pengawet ikan, namun demikian asap cair juga mampu mengikat air dalam daging yang dapat meningkatkan kualitas karakteristik nugget. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh penambahan fosfat dan asap cair  dengan level yang berbeda terhadap kualitas nugget dada broiler prarigor dan pascarigor.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh penambahan fosfat dan asap cair  dengan level yang berbeda terhadap kualitas nugget dada broiler prarigor dan pascarigor.
Kegunaannya adalah untuk memberikan informasi bagi masyarakat bahwa asap cair dapat digunakan dalam pembuatan nugget dan aman bagi  kesehatan yang mengonsumsinya.




Judul : Pengaruh Subtitusi Fosfat Dengan Asap Cair Terhadap Kualitas Nugget Dada Broiler Prarigor Dan Pascarigor (PT-20)


Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File
atau klik disini

Pengaruh Perbedaan Protokol Induksi Berahi Terhadap Lama Berahi Pada Sapi Perah Di Kabupaten Sinjai (PT-22)



Kabupaten Sinjai merupakan salah satu Kabupaten yang berusaha mengembangkan sapi perah. Besarnya apresiasi dari pihak birokrasi dan masyarakat serta iklim yang mendukung untuk menjadikan Kabupaten Sinjai menjadi sentrum pengembangan sapi perah. Pengembangan sektor peternakan di Kabupaten Sinjai mendapat perhatian dari pemerintah, terbukti dengan ditetapkannya Kabupaten Sinjai dalam program Gerbang Mas sektor  peternakan.  Kabupaten Sinjai memiliki iklim dan letak geografis yang menguntungkan. Disamping itu potensi lahan yang luas  untuk pengembangan sektor ini masih luas dan tersedianya pakan yang melimpah merupakan salah satu indikator dipilihnya Kabupaten Sinjai dalam pengembangan program Gerbang Mas di sektor Peternakan.  Salah satu upaya dalam pengembangan ini yaitu pengembangan sapi perah, penggemukan sapi potong, pengembangan kambing Bour. Dalam pengembangan sapi perah, dimulai pada tahun 2002, yang setiap tahunnya populasinya bertambah, awalnya hanya 73 ekor kini telah mencapai 199 ekor (Anonim, 2011a).
Faktor keberhasilan sapi perah salah satunya tergantung pada penampilan reproduksi yang berhubungan dengan efisiensi reproduksi. Penampilan reproduksi yang baik akan menunjukkan nilai efisiensi reproduksi yang tinggi, sedangkan produktifitas yang masih rendah dapat diakibatkan oleh berbagai faktor terutama yang berkaitan dengan efisiensi reproduksi. Faktor yang berpengaruh seperti kekurangan pakan sehingga menyebabkan penurunan kondisi tubuh yang berdampak pada  sulitnya berahi terdeteksi, atau berahi tapi tidak nyata (silent heat), atau ada berahi tetapi tidak terjadi ovulasi. Dalam hal ini sapi mampu bunting, tetapi kemudian kekurangan pakan, maka kemungkinan besar akan terjadi keguguran (Putro, 2009).

Lamanya berahi bervariasi pada tiap-tiap hewan dan antara individu dalam satu spesies. Kemungkinan hal ini disebabkan oleh variasi-variasi sewaktu estrus, terutama pada sapi dengan periode berahinya yang terpendek diantara semua ternak mamalia. Berhentinya estrus sesudah perkawinan merupakan indikasi yang baik bahwa kebuntingan telah terjadi. (Achyadi, 2009).
Estrus pada sapi biasanya berlangsung selama 12 – 18 jam atau sekitar 12-24 jam (Putro, 2008). Variasi terlihat antar individu selama siklus estrus. Pada sapi-sapi di lingkungan panas mempunyai periode estrus yang lebih pendek sekitar 10-12 jam.  Selama atau segera setelah periode estrus ini, terjadilah ovulasi. Ini terjadi dengan penurunan tingkat FSH dalam darah dan penaikan tingkat LH. Sesaat sebelum ovulasi, folikel membesar dan turgid serta ovum mengalami pemasakan. Estrus berakhir kira-kira pada saat  pecahnya folikel ovari atau terjadinya ovulasi (Frandson, 1996).
          Rendahnya efisiensi reproduksi sapi perah diduga karena deteksi estrus yang kurang optimal yang disebabkan oleh lama berahi yang pendek, bahkan deteksi estrus yang sulit ditemukan karena ternak sapi perah diikat dalam kandang sehingga sulit untuk melihat tanda-tanda berahi primer pada ternak. Oleh karena itu penelitian ini dimaksudkan melihat lama berahi ternak sapi perah dengan protokol induksi berahi yang berbeda.
          Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan protokol induksi berahi terhadap lama berahi pada sapi perah di Kabupaten Sinjai. Dengan demikian penelitian ini dapat berguna sebagai bahan informasi bagi peneliti, peternak, dan masyarakat umum dalam upaya pengembangan ternak sapi perah terutama aspek reproduksi.




Judul : Pengaruh Perbedaan Protokol Induksi Berahi Terhadap Lama Berahi Pada Sapi Perah Di Kabupaten Sinjai (PT-22)


Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File
atau klik disini

Pengaruh Performnce Eksterior Sebagai Penentu Harga Jual Ternak Kambing Pada Pedagang Pengecer Di Makassar (PT-21)



Salah satu komoditi peternakan yang memberikan konstribusi yang cukup besar terhadap gizi masyarakat adalah ternak kambing. Ternak kambing merupakan ternak yang termasuk ke dalam ternak kecil yang memberikan manfaat untuk memenuhi kebutuhan konsumsi daging. Selain itu, ternak kambing juga merupakan ternak penghasil kulit, susu dan feses.
                Dari aspek produksi daging, permintaan daging kambing di Indonesia maupun di dunia juga mengalami peningkatan pesat selama 10 tahun terakhir ini. Indonesiamengkonsumsi kambing sebagai salah satu sumber protein hewani yang utama setelah sapi dan ayam. Pasokan daging kambing relatif terbatas karena usaha peternakan kambing di Indonesia di dominasi oleh usaha rumah tangga dengan skala pemilikian 4 – 10 ekor (Sarwono, 2007).
Daging kambing  merupakan sumber protein hewan berkualitas tinggi dengan risiko absorbi kolesterol  yang  rendah. daging kambingmemiliki kandungan lemak jenuhyang lumayan tinggi. Namun kandungan lemak tak jenuhnya tidak lebih tinggi dibanding daging bewarna merah lain seperti daging sapi atau daging babi.
Sudah menjadi rahasia umum dan merupakan salah satu kata kunci dalam pemasaran, bahwa harga murah merupakan daya tarik terbesar atas terserapnya suatu produk. Untuk itu, peranan harga jual dalam mendapatkan pasar memiliki pengaruh yang cukup besar. Selanjutnya, bijaklah dalam menentukan harga dari suatu komoditas. Jangan sampai harga tersebut melampaui harga eceran tertinggi (HET) di suatu daerah. Hal tersebut dapat mengakibatkan produk sulit terjual dan usaha tidak mudah untuk memperoleh pelanggan. Akibat lain yang dapat ditimbulkan adalah dapat berurusan dengan pihak yang berwajib, disebabkan penentuan harga yang lakukan tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku (Firdaus, 2008).

Adapun besarnya populasi Kambingsetiap kecamatan yang ada di Kota Makassar, dapat di lihat pada tabel 1.
Tabel 1. Populasi Ternak Kambing Per Kecamatan di  Kota Makassar Tahun 2010
NO
Kecamatan
Tahun 2010
1.
Mariso
315
2.
Mamajang
159
3.
Tamalate
1,231
4.
Rappocini
199
5.
Makassar
432
6.
Ujung Pandang
-
7.
Wajo
-
8.
Bontoala
370
9.
Ujung Tanah
399
10.
Tallo
733
11.
Panakkukang
415
12.
Manggala
1,211
13.
Biringkanaya
883
 14.
Tamalanrea
827
Sumber : Data BPS Kota Makassar, 2010
Pada Tabel 1 menunjukkan bahwa populasi Kambingdisetiap kecamatan yang ada di Kota Makassar pada tahun 2010. Kecamatan yang paling terbanyak populasi kambing adalah Kecamatan Tamalate, sedangkan populasi yang paling kecil berada pada Kecamatan Rappocini.
Harga merupakan salah satu penentu keberhasilan suatu perusahaan karena harga menentukan seberapa besar keuntungan yang akan diperoleh perusahaan dari penjualan produknya baik berupa barang maupun jasa. Menetapkan harga terlalu tinggi akan menyebabkan penjualan akan menurun, namun jika harga terlalu rendah akan mengurangi keuntungan yang dapat diperoleh organisasi perusahaan (Kotler, 2004). Harga jual ternak biasanya ditentukan berdasarkan penampilan luar dari ternak tersebut atau dikenal dengan istilah “Performance Eksterior”. Performance eksterior yang dinilai sebagai penentu harga jual ternak adalah dilihat dari  panjang tanduk, lingkar dada, panjang badan, dan tinggi pundak ternak kambing tersebut, dimana pedagang pengecer hanya menggunakan ilmu penaksiran dalam penjualan ternak kambing di lapangan karena pedagang pengecer tidak menggunakan alat timbang untuk mengukur ternak kambing yang akan di jualnya.
          Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan maka dilakukan penelitian tentang “Pengaruh performance eksterior sebagai penentu harga jual ternak kambing pada pedagang pengecer, di Makassar”.




Judul : Pengaruh Performnce Eksterior Sebagai Penentu Harga Jual Ternak Kambing Pada Pedagang Pengecer Di Makassar (PT-21)


Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File
atau klik disini

Pengaruh Level Asap Cair Dan Lama Penyimpanan Terhadap Kualitas Daging Sapi Bali Prarigor Pada Otot Longissimus Dorsi (PT-26)



Daging merupakan salah satu jenis hasil ternak yang hampir tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Sebagai bahan pangan, daging merupakan sumber protein hewani dengan kandungan gizi yang cukup lengkap. Sama halnya dengan bahan pangan hewani lainnya seperti, susu, telur dan lain-lain, daging bersifat mudah rusak akibat proses mikrobiologis, kimia dan fisik bila tidak ditangani dengan baik.
Proses biokimia yang berlangsung sebelum dan setelah ternak mati sampai terbentuknya rigor mortis pada umumnya merupakan suatu kegiatan yang besar perannya terhadap kualitas daging yang akan dihasilkan pascarigor. Kesalahan penanganan pascamerta sampai terbentuknya rigor mortis dapat mengakibatkan mutu daging menjadi rendah ditandai dengan daging yang berwarna gelap (dark firm dry) atau pucat (pale soft exudative) ataupun pengkerutan karena dingin (cold shortening) atau rigor yang terbentuk setelah pelelehan daging beku (thaw rigor) (Abustam, 2009).
Perubahan otot menjadi daging meliputi perubahan sifat fisikokimia otot akibat perubahan-perubahan secara biokimia dan biofisik pada saat prarigor, rigormortis dan pascarigor.  Namun salah satu kendala pada sifat fungsional daging yaitu, adanya keterbatasan daging untuk  mengikat air  atau daging sapi fase prarigor hanya dapat bertahan sekitar 6-8 jam.  Dengan keterbatasan waktu yang mengharuskan daging tersebut haruslah segera diolah pada saat daging tesebut masih dalam fase prarigor mortis.  Salah satu cara untuk mempertahankan sifat fungsional yang dimiliki daging adalah dengan adanya penambahan bahan tambahan yang bisa mempertahankan sifat fungsional daging dan juga bisa menghasilkan kualitas yang baik pada daging tersebut.

Asap cair merupakan suatu campuran suatu dispersi asap kayu dalam air yang dibuat dengan mengkondensasikan asap hasil pembakaran kayu yang mengandung senyawa fenol yang berperan sebagai antioksidan dan dapat meningkatakan daya tahan dan kualitas daging.  Pada umumnya, penggunaan asap cair sering dikombinasikan dengan berbagai perlakukan seperti penggaraman, teknik pengemasan dan suhu penyimpanan, sebagai upaya efek sinergis terhadap mikroorganisme perusak dan meningkatkan umur simpan.  Asap cair dapat digunakan untuk memberikan karakteristik sensori terhadap produk olahan daging, dalam bentuk perubahan warna, bau, dan rasa.     
Daging fase prarigor pada otot Longissimus dorsi merupakan daging yang sangat baik digunakan untuk produk olahan.  Namun kenyataannya sifat fungsional daging fase prarigor tersebut hanya bertahan kisaran 6-8 jam.  Melihat sifat fungsional daging prarigor, maka dari itu dengan penambahan asap cair, sifat fungsional  daging sapi Bali pada fase pascarigor bisa dipertahankan.
          Pemberian asap cair sebagai bahan pengikat (binder) pada pangan hewani sesuai dengan perlakuan dan konsentrasi yang digunakan, diduga dapat mempertahankan sifat fungsional daging fase prarigor pada otot Longissimus dorsi.
          Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh pemberian level asap cair sebagai bahan pengikat dan bagaimana kualitas yang dihasilkan.   Kegunaan dari penelitian ini adalah sebagai media informasi kepada masyarakat mengenai pemanfaatan asap cair  sebagai bahan pengikat.




Judul : Pengaruh Level Asap Cair Dan Lama Penyimpanan Terhadap Kualitas Daging Sapi Bali Prarigor Pada Otot Longissimus Dorsi (PT-26)


Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File
atau klik disini

Pengaruh Intensitas Penyuluhan Dan Karakteristik Teknologi Budidaya Sapi Potong Terhadap Jenis Adopsi Inovasi Oleh Peternak Di Desa Simpursia Kecamatan Pammana Kabupaten Wajo (PT-29)

Dalam pembangunan nasional, sektor peternakan lebih bersinggungan dengan software (perangkat lunak) yang salah satunya adalah peningkatan kualitas sumberdaya manusia. Hal ini dikarenakan produk peternakan adalah sumber esensial protein hewani yang menjadi faktor penting dalam meningkatkan kecerdasan manusia. Subsektor peternakan dapat dikatakan sebagai subsektor yang strategis, karena permintaaan akan protein hewani oleh masyarakat terus meningkat.
   Salah satu usaha dalam subsektor peternakan yang memiliki potensi untuk dikembangkan yaitu usaha budidaya sapi potong. Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan hasil bahwa budidaya sapi potong memiliki nilai ekonomis yang tinggi dan dapat meningkatkan kesejahteraan petani peternak atau menguntungkan secara finansial.  Penelitian Soebroto (2009) menunjukkan hasil, bahwa budidaya ternak sapi potong sangat menguntungkan karena dengan minimal 4 ekor sapi tiap kandang, hanya dalam waktu 1 tahun, BEP (Break Even Point) dicapai pada tingkat penjualan Rp 15.200.000,- dengan B/C ratio 1,126.
Menurut Rahim (2010) bahwa pengembangan sapi potong di Indonesia pada saat sekarang ini maupun dimasa yang akan datang sangat menjanjikan. Hal ini dapat dilihat dengan semakin meningkatnya jumlah permintaan atau kebutuhan masyarakat terhadap konsumsi protein hewani yang bersumber dari daging. Oleh karena itu petani peternak dan pengusaha ternak sapi potong serta instansi pemerintahan sangat dituntut meningkatkan kuantitas dan kualitas sapi potong untuk memenuhi permintaan konsumen. Kuantitas dan kualitas ternak sapi potong dalam hal ini sapi Bali perlu mendapatkan perhatian dan penanganan yang serius, karena ada banyak faktor yang berpengaruh dalam pengembangannya seperti genetik dan lingkungan.            

Salah satu langkah yang dilakukan untuk mempercepat laju pengembangan sapi potong yaitu kegiatan penyuluhan pertanian. Dengan kegiatan penyuluhan pertanian, petani yang mengusahakan sapi potong dapat mempunyai persepsi positif terhadap sebuah teknologi. Melalui persepsi yang positif, diharapkan petani bersedia mengubah perilaku dalam pengolahan usaha yang dijalankan sesuai dengan anjuran teknologi dari penyuluh. Dengan penerapan teknologi dalam usaha budidaya sapi potong yang sesuai dengan anjuran  penyuluh diharapkan petani dapat mengelolah usahanya dengan baik, dan akhirnya dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani peternak.
Suatu teknologi yang disampaikan oleh penyuluh tidak akan berguna tanpa adanya adopsi. Demikian juga dengan teknologi dalam budidaya sapi potong yang telah disuluhkan oleh  penyuluh seperti perkandangan, pemberian pakan, teknologi reproduksi, dan pencegahan dan pengendalian penyakit serta pemanfaatan limbah ternak tidak akan berguna jika tidak diadopsi oleh sasaran penyuluhan yaitu para peternak sapi potong. Terkait dengan itu, Desa Simpursia Kecamatan Pammana Kabupaten Wajo yang merupakan salah satu daerah pengembangan sapi potong di Kabupaten Wajo yang ditunjukkan dengan jumlah populasi sapi potong yang tinggi di Kecamatan Pammana yang dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Populasi Sapi Potong tiap Desa/Kelurahan di Kecamatan   Pammana tahun 2011.
No.
Desa / Kelurahan
Jumlah Populasi Sapi Potong (Ekor)
1.
Tobatang
159
2.
Wecudai
251
3.
Lapaukke
529
4.
Kampiri
617
5.
Pallawarukka
105
6.
Watampanua
149
7.
Cina
555
8.
Pammana
555
9.
Simpursia
704
10.
Lempa
13
11.
Patila
560
12.
Lampulung
9
13.
Abbanuange
148
14.
Tadang Palie
181
15.
Lagosi
252

Kecamatan Pammana
5. 243
Sumber : Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Wajo, 2011.
Berdasarkan Tabel 1 menunjukkan populasi sapi potong setiap desa di Kecamatan Pammana dan Desa Simpursia merupakan salah satu desa pusat pengembangan pertanian terpadu berbasis sapi potong di Kabupaten Wajo yang memiliki populasi sapi yang tinggi yaitu sebanyak 704 ekor. Pada umumnya masyarakat di Desa Simpursia memelihara ternak sapi potong. Kondisi ini didukung oleh adanya kegiatan penyuluhan pertanian di desa ini. Dimana kegiatan penyuluhan pertanian di Desa Simpursia dilaksanakan secara temporer dan secara rutin dilaksanakan tiga kali dalam setahun. Kegiatan penyuluhan pertanian banyak dilaksanakan karena atas permintaan petani peternak setiap saat bila dibutuhkan.

Pemeliharaan sapi potong di Desa Simpursia Kecamatan Pammana Kabupaten Wajo merupakan bagian dari usaha tani tanaman yang dijalankan masyarakat. Masyarakat telah mengetahui manfaat dari pemeliharaan sapi potong yaitu usaha yang memberikan keuntungan dan dengan hasil penjualan dari sapi potong, mereka gunakan untuk memenuhi kebutuhan seperti biaya pendidikan anak dan biaya usaha tani tanaman seperti pembelian pupuk. Namun, pada umumnya peternak belum melakukan reinvestasi pada usaha sapi potong yang mereka kelolah yaitu bahwa peternak tidak melakukan penanaman modal kembali dari keuntungan yang diperoleh dari usaha sapi potong untuk memperbaiki pengelolaan usaha sapi potong yang meraka jalankan. Peternak menggunakan hasil penjualan dari sapi potong untuk biaya produksi usaha tani tanaman yang mereka kelolah seperti pembelian pupuk dan untuk kebutuhan seperti biaya sekolah anak, sehingga hasil penjualan sapi potong tersebut tidak digunakan untuk memperbaiki pengelolaan usaha sapi potong dengan melakukan penerapan teknologi dalam budidaya sapi potong (perkandangan, pakan, teknologi reproduksi, pencegahan dan pengendalian penyakit serta pemanfaatan limbah) secara menyeluruh (survei pendahuluan).
Pengelolaan usaha sapi potong yang baik dengan penerapan teknologi dalam pemeliharaan sapi potong seperti perkandangan, pakan, teknologi reproduksi, pencegahan dan pengendalian penyakit serta pemanfaatan limbah dapat meningkatkan produktivitas ternak dan pada akhirnya dapat meningkatkan pendapatan peternak. Namun, pada umumnya peternak sapi potong di Desa Simpursia Kecamatan Pammana belum menerapkan teknologi dalam budidaya sapi potong (perkandangan, pakan, teknologi reproduksi, pencegahan dan pengendalian penyakit serta pemanfaatan limbah) secara menyeluruh. Hal ini dikarenakan dalam mengadopsi suatu teknologi dipengaruhi oleh beberapa faktor.
Menurut Mardikanto (2009), dalam mengadopsi suatu teknologi dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu : sifat-sifat atau karakteristik inovasi, sifat-sifat atau karakteristik calon pengguna, saluran atau media yang digunakan, dan kualifikasi penyuluh. Hasil penelitian dari Prabayanti (2010) yang menyatakan bahwa adopsi suatu teknologi dipengaruhi oleh karakteristik teknologi dan frekuensi seseorang dalam mengakses saluran komunikasi baik melalui penyuluhan interpersonal maupun media massa untuk mendapatkan informasi mengenai suatu teknologi. Berdasarkan uraian tersebut, maka diadakan penelitian mengenai Pengaruh Intensitas Penyuluhan dan Karakteristik Teknologi Budidaya Sapi Potong terhadap Jenis Adopsi Inovasi oleh  Peternak di Desa Simpursia Kecamatan Pammana Kabupaten Wajo. 


Judul : Pengaruh Intensitas Penyuluhan Dan Karakteristik Teknologi Budidaya Sapi Potong Terhadap Jenis Adopsi Inovasi Oleh Peternak Di Desa Simpursia Kecamatan Pammana Kabupaten Wajo (PT-29)


Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File
atau klik disini

Pengaruh Harga Jual Terhadap Volume Penjualan Pedagang Pengecer Ayam Buras Di Makassar (PT-30)

Peternakan merupakan salah satu sumber perekonomian khususnya bagi petani peternak. Dengan memperdagangkan ternak, petani peternak dapat memenuhi kebutuhan keluarga seperti menyekolahkan anak dan biaya kesehatan, bahkan pada saat kondisi kritis seperti gagal panen, komoditi ternak justru diandalkan untuk menopang pengadaan ketersediaan pangan keluarga.
            Usaha peternakan semakin berkembang seiring dengan perkembangan zaman. Pembangunan sektor peternakan bertujuan untuk meningkatkan pendapatan dan taraf hidup masyarakat petani peternak, selain itu membuka lapangan kerja dan kesempatan untuk berusaha, oleh karena itu pembangunan sektor peternakan perlu untuk dilanjutkan dan ditingkatkan melalui kemampuan pengelolahaan dan penerapan teknologi yang tepat (Murtidjo,1992).
Telur dan daging ayam buras memiliki pangsa pasar tersendiri. Hal ini ditunjukkan oleh harganya yang melebihi telur dan daging ayam ras serta konsumennya banyak. Ayam buras merupakan salah satu unggas lokal yang umumnya dipelihara petani di pedesaan sebagai penghasil telur tetas, telur konsumsi, dan daging. Selain dapat diusahakan secara sambilan, mudah dipelihara dengan teknologi sederhana, dan sewaktu-waktu dapat dijual untuk keperluan mendesak unggas ini mempunyai prospek yang menjanjikan, baik secara ekonomi maupun sosial, karena merupakan bahan pangan bergizi tinggiserta permintaannya cukup tinggi. Pangsa pasar nasional untukdaging dan telur ayam buras masing-masing mencapai 40% dan 30%.  Hal ini dapat mendorong peternak kecil dan menengah untuk mengusahakan ayam buras sebagai penghasil daging Produktivitas ayam buras yang dipelihara secara tradisional masin rendah, antara lain karena tingkat mortalitas tinggi, pertumbuhan lambat, produksi telur rendah, dan biaya pakan tinggi. Produksi telur ayam burasyang dipelihara secara tradisional berkisar antara 40−45 butir/ekor/tahun, karena adanya aktivitas mengeram dan mengasuh anak yang lama, yakni 107 hari.Untuk meningkatkan populasi, produksi, produktivitas, dan efisiensi usaha tani ayam buras, pemeliharaannya perlu ditingkatkan dari tradisional ke arah agribisnis (Suryana dan Agus, 2008).

Menurut Chan dan Zamrowi (1988) dalam Teti (2002), dengan berkembangnya pembangunan terutama dalam bidang ekonomi dan pendidikan, maka ayam buras telah menjadi salah satu sorotan untuk dijadikan salah satu sumber atau sasaran pembangunan yang sangat potensial untuk meningkatkan pendapatan dan gizi protein hewani terutama bagi masyarakat tani di pedesaan. Dengan penjualan ayam buras, akan diperoleh uang tunai secara cepat, sehingga dapat dipenuhi kebutuhan-kebutuhan rumah tangga dan biaya anak-anak sekolah, bayar pajak dan kebutuha-kebutuhan lain yang mendesak.
Pedagang ayam buras pada setiap pasar di Makassar berdasarkan hasil survei awal sebanyak 100 orang yang terbagi atas beberapa pasar yaitu Pasar Terong sebanyak 27 orang, Pasar Daya sebanyak 18 orang, Pasar Pannampu sebanyak 23 orang, Pasar Pa’baeng-baeng sebanyak 21 orang dan Senggol sebanyak 11 orang.
Harapan pedagang ayam buras di Makassar mengharapkan ayam buras yang mereka jual laku dan habis terjual akan tetapi kenyataan di lapangan ayam buras yang di jual tidak habis terjual tiap harinya. Menurut informasi dari pedagang pengecer ayam buras di Makassar, pedagang menaikkan harga jual sehingga menyebabkan daya beli konsumen terhadap ayam buras di Makassar hanya sesuai kebutuhannya.Sehingga hal inilah yang melatar belakang dilakukannya penelitian mengenai “Pengaruh Harga Jual Terhadap Volume Penjualan Pedagang Pengecer Ayam Buras di Makassar” 


Judul : Pengaruh Harga Jual Terhadap Volume Penjualan Pedagang Pengecer Ayam Buras Di Makassar (PT-30)


Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File
atau klik disini

Selasa, 25 Agustus 2015

Analisis Variabel-Variabel Yang Mempengaruhi Keberhasilan Industri Kecil Gula Merah Di Desa ... Kecamatan ... Kabupaten ... (PRT-60)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.    Latar Belakang
Memasuki abad 21 yang ditandai dengan era globalisasi dan kemajuan teknologi informasi yang sangat pesat, merupakan dua hal yang mempengaruhi lingkungan bisnis. Globalisasi menyebabkan terjadinya liberalisasi ekonomi/perdagangan, sedangkan perkembangan teknologi informasi menyebabkan seakan-akan dunia tanpa batas dan jarak geografis menjadi susut sehingga informasi dapat diakses secara mudah, cepat dan serentak. Akibat kondisi tersebut lingkungan bisnis dapat berubah dengan cepat dan bersifat turbulen serta persaingan bisnis akan terjadi sangat keras dan kompetitif. Perusahaan yang tidak merespon perubahan lingkungan bisnis tersebut akan mengalami kerugian-kerugian dan akan kalah bersaing dipasar global yang pada akhirnya akan mengalami kebangkrutan.  Dengan kondisi seperti ini, perusahaan harus memikirkan kembali tujuan, sasaran dan perencanaan strategiknya demi kelangsungan hidup perusahaan  dan menciptakan masa depannya.

Munculnya kerjasama antar negara-negara di dunia baik regional maupun multilateral sebagai wujud proses liberalisasi ekonomi/globalisasi perdagangan, dimana Negara Indonesi juga terlibat dalam perjanjian kerjasama ekonomi tersebut misalnya untuk lingkup Asia Tenggara yaitu ASEAN Free Trade Area (AFTA) yang mulai dilaksanakan pada tahun 2003 atau yang lain yaitu ASEAN Economic Cooperation (AEC) diharapkan dilaksanakan sepenuhnya pada tahun 2020 seperti telah disepakati pada KTT ASEAN pada tanggal 8 oktober 2003 di Bali; dan untuk lingkup Asia Pasifik yaitu Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) yang dilaksanakan pada tahun 2010 serta Word Trade Organition (WTO) yang akan terjadi pada tahun 2020 untuk skala dunia, merupakan implikasi dari kesepakatan General Agreement of Tarrif and Trade (GATT) atau  Uruguay Round yang berlangsung pada tahun 1992 . Didalam skema ini diantaranya penurunan dan penghapusan tarif dan non tarif yang menghambat perdagangan (trade distorsion) akan berlaku untuk setiap negara anggota sehingga tidak terjadi diskriminasi. 

Kerjasama ekonomi ini sangat besar manfaatnya dan mempunyai nilai yang positif dalam proses menuju pasar bebas, karena kerjasama ekonomi bertujuan untuk saling menumbuhkan dan mempertahankan tingkat perkembangan ekonomi yang stabil, kerjasama ini dapat menciptakan regional self sufficiency (swasembada regional) sehingga masing-masing negara yang ikut berpartisipasi dalam kerjasama ini dapat mencapai suatu standar mutu kelas dunia. Pencapaian  standar mutu dunia ini akan memacu negara-negara untuk belajar meningkatkan kemampuan daya saing didalam kerjasama ekonomi (Kotler dan Susanto, 1999).  

Secara teoritis hal ini merupakan peluang sekaligus juga ancaman bagi perdagangan/pasar produk industri-industri dari Indonesia terutama industri kecil, sehingga dituntut kewaspadaan karena tidak menutup kemungkinan kerjasama ini dapat berubah menjadi bumerang bagi Indonesia.

Terjadinya badai krisis ekonomi di Indonesia sejak pertengan tahun 1997, dimana dampaknya masih terasakan sampai saat ini yang mengakibatkan runtuhnya beberapa industri berskala besar, namum untuk industri kecil masih dapat bertahan bahkan ditemui beberapa industri kecil yang berkembang karena adanya keuntungan  dari nilai tukar mata uang dolar terhadap mata uang rupiah yang naik drastis. 

Kenyataan juga menunjukkan bahwa industri kecil dalam keadaan tertentu (perekonomian yang kurang menguntungkan) ternyata penuh vitalitas, mampu untuk tumbuh dan berkembang secara wajar serta tahan terhadap gejolak karena mempunyai fleksibilitas dan adaptabilitas dalam memperoleh sumber bahan baku dan mesin/peralatan penunjang (RIPPIK di Kabupaten Kediri, 2002).

Runtuhnya beberapa industri berskala besar di Indonesia disebabkan industri berskala besar yang umumnya mempunyai ciri-ciri import content yang tinggi dan berorentasi pada pasar dalam negeri (inward looking) yang didukung oleh fasilitas proteksi sehingga sangat rentan terhadap gejolak nilai tukar dan external shock. Dipihak lain, industri kecil yang umumnya mempunyai ciri-ciri local content yang tinggi dan proporsi produknya yang dieksport lebih tahan terhadap gejolak baik internal shock maupun eksternal shock (Sukiadi, 2001). 

Walaupun memiliki kelebihan-kelebihan demikian, industri kecil menghadapi berbagai permasalahan terutama persaingan yang sangat ketat karena rendahnya barrier of entry and exit, sehingga perusahaan yang mampu bertahan hanyalah perusahan yang benar-benar memiliki tingkat efisiensi tinggi. Beberapa permasalahan yang dihadapi oleh industri kecil umumnya adalah sebagai berikut  (Sukiadi, 2001) :
1. Industri kecil/pengusaha kecil tidak memiliki sistem pembukuan yang paling sederhana sekalipun. Hal ini merupakan salah satu faktor utama mengapa industri  kecil tidak memiliki akses yang memadai terhadap jasa perbankan;
2. Industri kecil/pengusaha kecil menghadapi kesulitan dalam meningkatkan kualitas produknya. Karena sebagian besar industri kecil masih mengandalkan pengembangan teknologinya pada upaya sendiri yang sudah tentu amat terbatas;
3.  Pengembangan industri kecil kerapkali dihadang oleh keterbatasan kemampuan dalam memasarkan produk-produknya, terutama pengembangan pasar eksport;
4.  Pengenalan sifat bahan baku dan pengadaannya, bahan-bahan baku relatif sulit untuk diperoleh dan tidak ekonomis jika dibeli/dipesan dalam partai kecil. 

Oleh karena itu, upaya untuk membangun, mengembangkan dan memberdayakan industri kecil merupakan suatu hal yang sangat vital untuk dilakukan, mengingat peranan yang sangat  penting dan strategis dari industri kecil yang mampu  memperluas lapangan usaha dan menyerap tenaga kerja, mengurangi kemiskinan, pemerataan distribusi pendapatan, pengembangan ekonomi pedesaan, dan pemanfaatan sumber daya alam lokal serta kontribusinya yang cukup besar dalam menyumbang devisa negara dari kegiatan eksportnya.

Di Kabupaten Kediri terdapat beraneka ragam industri kecil yang tumbuh dan berkembang. Menurut Data dari Dinas Pemasaran Kabupaten Kediri didalam buku Kabupaten Kediri Membangun pada tahun 2003 terdapat 1.715 unit industri kecil yang dikelompokkan dalam tiga kategori, yaitu :
1.                  Industri Mesin Logam dan Elektronika (IMLE) sebanyak 174 unit industri kecil
2.                  Industri Aneka (IA) sebanyak 56 unit industri kecil 
3.                  Industri Hasil Pertanian dan Kehutanan (IHPK) sebanyak 1.485 unit industri kecil.
Kondisi industri kecil di Kabupaten Kediri masih dihadapkan  pada berbagai permasalahan antara lain menyangkut aspek pemasaran, teknologi, permodalan, manejemen dan lingkungan hidup. Dalam rangka membangun industri kecil diperlukan perencanaan yang tepat dan matang dengan  memprioritaskan potensi lokal pertanian sebagai bahan baku industri (RIPPIK Kabupaten Kediri, 2002).

Desa Slumbung di Kecamatan Ngadiluwih merupakan salah satu desa sentra industri kecil gula merah di Kabupaten Kediri, dimana pada tahun 2004 terdapat 32  pengusaha industri kecil gulah merah yang masih aktif berproduksi (data dari Kepala Desa Slumbung dan lapangan). Berbagai permasalahan, kendala dan tantangan telah dihadapi oleh para pengusaha industri kecil gula merah di Desa Slumbung dalam menjalankan usaha industri kecilnya, namun kenyataan dilapangan sampai saat ini industri kecil gula merah di Desa Slumbung Kecamatan Ngadiluwih Kabupaten Kediri masih tetap hidup.
Berdasarkan uraian-uraian tersebut diatas, penulis sangat tertarik untuk meneliti tentang ” Analisis Variabel-variabel yang Mempengaruhi Keberhasilan Industri Kecil Gula Merah di Desa Slumbung Kecamatan Ngadiluwih Kabupaten Kediri ”.

Judul : Analisis Variabel-Variabel Yang Mempengaruhi Keberhasilan Industri Kecil Gula Merah Di Desa ... Kecamatan ... Kabupaten ... (PRT-60))

Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File
atau klik disini