Pages

Kamis, 30 Mei 2013

Proposal Skripsi Matematika Model Pembelajaran Guide Note Taking



A.     Judul
Penerapan Model GNT (Guide Note Taking) Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa Pokok Bahasan Operasi Bilangan Bulat Pada Siswa Kelas V MI Mathla’ul Anwar Sukabakti Kabupaten Lebak Tahun Pelajaran 2011/2012.
B.     Masalah
1.      Latar Belakang Masalah dan Pengajuan Judul
Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi secara cepat sangat berpengaruh besar dengan sistem pendidikan di Indonesia. Demikian pula perhatian pemerintah terhadap peningkatan mutu pendidikan pun sangat besar, seperti diamanatkan oleh Undang–Undang Dasar 1945 dan Undang–Undang No 2 tahun 1989 tentang sistem Pendidikan Nasional.
Sejalan dengan kemajuan tersebut membawa pengaruh di sekolah– sekolah, terutama bidang kurikulum, penilaian pendidikan, metode, dan media atau sarana pengajaran. Media pengajaran tersebut merupakan salah satu dari komponen pengajaran yang mendukung keberhasilan dalam proses belajar mengajar, karena merupakan komponen pengajaran yang berpengaruh pada Proses Belajar Mengajar dan saling mendukung dalam rangka mencapai tujuan.
Kurikulum KTSP memberikan petunjuk bahwa proses belajar mengajar yang dilakukan, tidak hanya merupakan komunikasi satu arah saja, tetapi merupakan komunikasi dua arah bahkan multi arah. Dalam proses belajar mengajar, guru maupun siswa dituntut agar sama-sama aktif. Siswa dibiasakan tidak hanya menerima informasi dari guru saja, melainkan diajak belajar mendapatkan informasi, mengelola, mempergunakan dan mengkomunikasikan perolehan itu.
Hasil pengamatan peneliti di Madrasah Ibtidaiyah Mathla’ul Anwar Sukabakti Kecamatan Wanasalam Kabupaten Lebak bahwa masih banyak siswa kelas V yang masih rendah tingkat kemampuan dasar berhitungnya, terutama operasi bilangan bulat, bahkan perolehan nilai rata-rata kelas dalam ulangan harian selama siswa masih berada di kelas V  adalah 58. Apabila dibandingkan dengan kriteria ketuntasan minimal (KKM) untuk pelajaran matematika yang ditetapkan sekolah yang bersangkutan, yaitu 60, maka kenyataan tersebut menunjukkah masih rendahnya hasil belajar matematika siswa. Di samping itu, dari hasil wawancara dengan guru dikatakan bahwa ketika proses belajar mengajar pelajaran matematika berlangsung siswa sibuk dengan urusannya masing-masing, ini menunjukkah bahwa aktivitas belajar siswa masih rendah.
Oleh sebab itu diperlukan usaha-usaha meningkatkan hasil belajar dan aktivitas belajar matematika siswa, khususnya pada operasi bilangan bulat melalui penerapan model pembelajaran yang melibatkan keaktifan siswa dan dapat meningkatkan minat belajar siswa. Salah satunya dengan penerapan model pembelajaran Guide Note Taking.
Peningkatan pengajaran matematika di sekolah, banyak cara yang dilakukan guru. Salah satunya adalah dengan menggunakan model pembelajaran yang dapat meningkatkan minat siswa dalam mempelajarai materi yang diajarkan. Pembelajaran matematika bisa berhasil dengan baik, apabila guru merancang proses belajar mangajar yang melibatkan siswa aktif, mental dan fisiknya dalam belajar matematika.
Berdasarkan uraian di atas, maka akan dilakukan penelitian mengunakan strategi Guide Note Taking atau catatan terbimbing. Strategi Guide Note-taking atau catatan terbimbing adalah merupakan salah satu strategi pembelajaran active lerning yang dipilih untuk membantu penyampaian materi ajar dengan menggunakan hand-out.
Dari pemaparan di atas, dalam penelitian ini peneliti memilih judul: “Penerapan Model GNT (Guide Note Taking) Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa Pokok Bahasan Operasi Bilangan Bulat Pada Siswa Kelas V MI Mathla’ul Anwar Sukabakti Kabupaten Lebak Tahun Pelajaran 2011/2012”.
2.      Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian yang dikemukakan diatas maka identifikasi masalah pada penelitian ini adalah:
1)      Apakah yang menyebabkan rendahnya hasil belajar matematika siswa?
2)      Faktor   apa    sajakah    yang    dapat    mempengaruhi    hasil    belajar
matematika siswa?
3)      Apakah minat belajar dapat mempengaruhi hasil belajar matematika siswa?
4)      Apakah  yang  menyebabkan  masih  rendahnya  minat  siswa terhadap
pembelajaran matematika?
5)      Apakah yang menyebabkan masih rendahnya tingkat pemahaman siswa terhadap konsep operasi bilangan bulat?
6)      Apakah yang menyebabkan rendahnya aktivitas belajar siswa?
7)      Apakah penggunaan modelpembelajaran dapat meningkatkan minat belajar siswa dan pemahaman konsep operaasi bilangan bulat?
8)      Apakah model pembelajaran Guide Note Takingdapat meningkatkan minat belajar siswa?
9)      Apakah penggunaan model pemblejaran Guide Note Taking dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa?
10)  Apakah penggunaan model pembelajaran Guide Note Taking dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa dalam pokok bahasan operasi bilangan bulat?
3.      Pembatasan Masalah
Pembatasan masalah diperlukan agar penelitian yang dilakukan lebih efektif, efesien, terarah, dan dapat dikaji. Dalam penelitian ini dibatasi pada tigapermasalahan, yaitu:
1)      Aktivitas belajar siswa kelas V MI Mathla’ul Anwar Sukabakti Kabupaten Lebak Tahun Pelajaran 2011/2012 pada pokok bahasan operasi bilangan bulat dengan menggunakan strategi Guide Note Taking.
2)      Hasil belajar matematika siswa kelas V MI Mathla’ul Anwar Sukabakti Kabupaten Lebak Tahun Pelajaran 2011/2012 pada pokok bahasan operasi bilangan bulat dengan menggunakan strategi Guide Note Taking.
3)      Pengaruh penerapan model GNT (Guide Note Taking) dalam meningkatkan hasil belajar matematika siswa pokok bahasan operasi bilangan bulat pada siswa kelas V MI Mathla’ul Anwar Sukabakti Kabupaten Lebak tahun pelajaran 2011/2012.
4.      Perumusan Masalah
Berdasarkan batasan masalah di atas, permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1)      Bagaimanakah aktivitas belajar siswa kelas V MI Mathla’ul Anwar Sukabakti Kabupaten Lebak Tahun Pelajaran 2011/2012 pada pokok bahasan operasi bilangan bulat dengan menggunakan strategi Guide Note Taking?
2)      Bagaimanakan hasil belajar matematika siswa kelas V MI Mathla’ul Anwar Sukabakti Kabupaten Lebak Tahun Pelajaran 2011/2012 pada pokok bahasan operasi bilangan bulat dengan menggunakan strategi Guide Note Taking?
3)      Apakah terdapat pengaruh penerapan model GNT (Guide Note Taking) dalam meningkatkan hasil belajar matematika siswa pokok bahasan operasi bilangan bulat pada siswa kelas V MI Mathla’ul Anwar Sukabakti Kabupaten Lebak tahun pelajaran 2011/2012?


5.      Tujuan dan Kegunaan Penelitian
a.       Tujuan penelitian
Bersarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1)      Ingin mengetahui aktivitas belajar siswa kelas V MI Mathla’ul Anwar Sukabakti Kabupaten Lebak Tahun Pelajaran 2011/2012 pada pokok bahasan operasi bilangan bulat dengan menggunakan strategi Guide Note Taking.
2)      Ingin mengetahui hasil belajar matematika siswa kelas V MI Mathla’ul Anwar Sukabakti Kabupaten Lebak Tahun Pelajaran 2011/2012 pada pokok bahasan operasi bilangan bulat dengan menggunakan strategi Guide Note Taking.
3)      Ingin mengetahui pengaruh penerapan model GNT (Guide Note Taking) dalam meningkatkan hasil belajar matematika siswa pokok bahasan operasi bilangan bulat pada siswa kelas V MI Mathla’ul Anwar Sukabakti Kabupaten Lebak tahun pelajaran 2011/2012.
b.      Kegunaan penelitian
Sedangkan kegunaan penelitiannya adalah sebagai berikut:
1.      Bagi Pendidik
a.       Memberikan kesempatan guru lebih menarik siswa dalam proses belajar mengajar serta memungkinkan guru dan siswa lebih mengenal benda konkret sebagai sarana belajar.
b.      Mengetahui  strategi  pembelajaran  yang bervariasi yang dapat
memperbaiki dan meningkatkan sistem pembelajaran di kelas,sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan untuk mengatasi rasa kebosanan siswa dalam belajar matematika.
2.      Bagi Siswa
a.       Menumbuhkan kemampuan memecahkan masalah, kemampuan bekerja sama, dan kemampuan berkomunikasi serta mengembangkan ketrampilan berpikir tinggi siswa.
b.      Meningkatkan motivasi dalam belajar matematika sehingga dapat menumbuhkan minat belajar yang pada gilirannya akan membawa pengaruh yang positif yaitu terjadinya peningkatan hasil belajar yang baik serta penguasaan konsep dan ketrampilan yang lainnya.
c.       Potensi siswa dapat lebih ditumbuhkembangkan agar menjadi lebih baik.
3.      Bagi sekolah
a.         Sebagai bahan pertimbangan pengambilan kebijakan dalam rangka pencapaian tujuan pendidikan.
b.        Agar dapat mengakomodir kebutuhan sarana dan prasarana pendukung berjalannya proses belajar mengajar.
4.      Bagi Peneliti
a.       Akan diperoleh pemecahan permasalahan dalam penelitian sehingga  akan  didapatkan   suatu   model  pembelajaran   yang
dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
b.      Mendapatkan pengalaman dan pengetahuan dalam melakukan penelitian dan melatih diri dalam menerapkan ilmu pengetahuan khususnya tentang konsep matematika yang telah dapat diterapkan saat mereka terjun dilapangan. Dengan kata lain, mahasiswa siap mengembangkan profesinya sekaligus meneliti.
C.     Deskripsi Teoritis
1.      Hakikat dari Variabel Y
a.       Teori Belajar
Teori-teori belajar kaitannya dengan proses belajar banyak dikemukakan oleh beberapa ahli ilmu jiwa, antara lain:
1)      Teori belajar menurut Ilmu Jiwa Daya
(Nasution, 2001:53) mengemukakan  bahwa,  dimana   teori
ini jiwa manusia terdiri dari berbagai daya, masing-masing daya dapat dilatih untuk pemenuhan fungsi seperti daya ingat, daya khayal, daya pikir dan sebagainya. Daya–daya tersebut dapat dilatih yang penting dalam pelatihan daya bukan penguasaan bahan atau materinya, melainkan hasil dari pembentukan daya–daya tersebut.
Selanjutnya (Nasution, 2001:55) menyatakan bahwa menurut teori ini pendidikan adalah apa yang tinggal, ialah hasil pembentukan daya itu. Bahan pelajaran tidak penting namun dengan daya yang telah terbentuk kita mudah mempelajari bahan pelajaran baru.
2)     Teori Belajar menurut Ilmu Jiwa Asosiasi
Menurut (Aqib, 2010:44), menurut teori ini, jiwa manusia terdiri dari asosiasi dari berbagai tanggapan yang masuk ke dalam jiwa kita. Asosiasi itu biasanya terbentuk berkat adanya hubungan stimulus-response, disingkat S – R, menurut pandangan ini, belajar berarti membentuk hubungan-hubungan stimulus-response dan melatih hubungan itu agar bertalian erah. Belajar demikian sifatnya mekanis, seperti mesin dan akhirnya akan terbenruk kebiasaan-kebiasaan dan sejumlah ilmu pengetahuan. Penyelidik aliran ini adalah E.L. Thorndike.
3)      Teori Belajar Menurut Ilmu Gestalt
(Purwanto, 2010:100) mengemukakan teori ini seringkali pula disebut field theory atau insight full learning. Pendirian aliran ini bahwa keseluruhan dari yang lain lebih penting dari pada bagian-bagiannya. Bahwa manusia adalah organisme yang aktif berusaha mencapai tujuan dalam arti individu bertindak atas berbagai pengaruh, baik dari dalam ataupun dari luar individu.
Aliran ilmu jiwa Gestalt memberikan beberapa prinsip belajar yang berharga, antara lain:
i)        Manusia bereaksi terhadap lingkungan secara keseluruhan tidak hanya  secara  intelektual,  tetapi   juga  secara fisik, emosional,
sosial.
ii)      Belajar adalah penyesuaian diri dengan lingkungannya
iii)    Belajar berkembang sebagai keseluruhan dari masih dalam kandungan.
iv)    Belajar yaitu perkembangan ke arah diferensiasi yang lebih luas.
v)      Belajar akan berhasil bila tercapai kematangan memperoleh insight.
vi)    Belajar tidak mungkin tanpa kemauan untuk belajar.
vii)  Belajar berhasil kalau ada tujuan yang mengandung arti bagi individu.
viii)            Dalam proses belajar anak senantiasa merupakan suatu oragnisme yang aktif.
4)     Teori Belajar Menurut Teori Piaget
Menurut Muhibbin Syah (2001:144), teori Piaget yang membicarakan perkembangan kognitif, perkembangan dari tahapan sensorimotor (0–2 tahun), praoperasional (2–7 tahun), operasional konkret (7–12 tahun) dan operasional foral (12– 5 tahun).
b.     Pengertian Belajar
Mengenai pengertian belajar, berikut ini penulis mengutip pendapat para ahli tentang definisi belajar sebagai berikut:
1)      Menurut Ahmadi dan Supriyono (1991:121) mengemukakan bahwa:
Suatu proses perubahan di dalam tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Dengan perkataan lain, belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungan.

2)      Menurut (Slameto, 1995:2) berpendapat bahwa, “Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”.
3)      Menurut (Surya, 1989:3) mengemukakan bahwa, “Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksinya dengan lingkungan”.
4)      Menurut   (Mc   Connel,  1989:27)  mendefinisikan   belajar  bahwa,“Belajar adalah pemodifikasian tingkah laku melalui pengalaman dan latihan”.
Dari definisi tentang belajar yang dikemukakan oleh para ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan di dalam tingkah laku individu sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya melalui pengalaman dan latihan.
c.       Pengertian Hasil Belajar Matematika
Perolehan pengetahuan sebagai hasil belajar matematika dapat dilihat dari kemampuan menfungsionalkan matematika, baik secara konseptual maupun secara mendengarkan, meniru, dan sebagainya. Hasil belajar adalah hasil yang dicapai seseorang dalam waktu tertentu atau dengan perkataan lain hasil perubahan tingkah laku dalam waktu tertentu.
Definisi tentang hasil belajar yang diberikan oleh (Suharsimi Arikunto, 1997:269) , “adalah tingkat pencapaian yang telah dicapai oleh anak didik atau siswa terhadap tujuan yang ditetapkan oleh masing-maing bidang studi setelah mengikuti program pengajaran dalam waktu tertentu”.
(Wirawan, 1996:202) menyatakan bahwa, prestasi belajar adalah hasil yang dicapai seseorang dalam usaha belajarnya sebagian dinyatakan dengan nilai-nilai dalam buku raportnya.
Sedangkan menurut (Alwi,2001:17) yang dimaksud dengan, hasil belajar adalah hasil yang dicapai oleh murid dalam bidang studi tertentu yang diukur dengan menggunakan tes standar sebagai pengukur keberhasilan belajar seseorang.
Sehingga dengan memperhatikan pengertian hasil belajar yang dikemukakan  para ahli di atas,  maka dapat didefinisikan bahwa  hasil belajar adalah adalah hasil yang dicapai seseorang dalam usaha belajarnya yang dinyatakan dengan nilai-nilai yang diukur dengan menggunakan tes standar sebagai pengukur keberhasilan belajar seseorang.
Dalam Kurikulum 2004 Standar Kompetensi Madrasah Tsanawiyah, (Departemen Agama RI, Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam, 2005: 215) disebutkan bahwa, “Matematika berasal dari bahasa latin manthanein atau mathema yang berarti belajar atau hal yang dipelajari. Matematika dalam bahasa Belanda disebut wiskunde atau ilmu pasti, yang kesemuanya berkaitan dengan penalaran.
(Nugroho, 1990:198) mengemukakan bahwa, “Matematika adalah suatu disiplin ilmu yang berdiri sendiri dan tidak merupakan cabang dari ilmu pengetahuan alam. Matematika merupakan alat dan bahasa dasar banyak ilmu.
Sedangkan (Ruseffendi, 1998:260) menyatakan bahwa: “Matematika timbul karena pikiran-pikiran manusia yang berhubungan dengan ide, proses, dan penalaran”.
Dengan demikian, maka hasil belajar matematika adalah tingkat pencapaian yang telah dicapai oleh anak didik atau siswa terhadap tujuan yang ditetapkan oleh bidang studi matematika setelah mengikuti program pengajaran dalam waktu tertentu yang diukur dengan tes standar sebagai pengukur keberhasilan belajarnya.
2.      Hakikat dari Variabel X
a.       Proses Pengajaran
Siskandar (2004:1) menyatakan bahwa: “pembelajaran adalah upaya menciptakan iklim dan pelayanan terhadap kemampuan, potensi, minat, bakat dan kebutuhan peserta didik (siswa) yang beragam agar terjadi interaksi optimal antara guru dan siswa, serta siswa dengan siswa”. Proses pengajaran adalah kegiatan yang ditujukan untuk membelajarkan siswa untuk mencapai tujuan pengajaran.
Menurut (Kemp, 1994:12) mengemukakan bahwa “Proses pengajaran akan berhasil jika siswa memikul tanggung jawab utama dalam pencapaian semua tujuan pengajaran”. Tujuan pengajaran tersebut akan dapat tercapai jika anak didik atau siswa berusaha secara aktif untuk mencapainya. Keaktifan anak didik tidak hanya dituntut dari segi fisik tetapi dari segi kejiwaan. Pelaksanaan proses pengajaran di dalam kelas merupakan salah satu tugas utama guru sehingga terjadi komunikasi dengan baik antara guru sebagai pengajar dan siswa sebagai pembelajar. Belajar mengajar merupakan dua kegiatan yang amat berbeda, tetapi antara keduanya tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lain.
Sebagaimana yang dikemukakan oleh Suherman dan Winataputra (1992:17), bahwa :
Proses belajar mengajar dikatakan efektif apabila terjadi transfer belajar yaitu materi pengajaran yang disajikan oleh guru dapat diserap ke dalam struktur kognitif siswa, siswa dapat menguasai materi tersebut tidak hanya terbatas pada ingatan tanpa pengertian (Rote Learning) tetapi bahan pelajaran dapat diserap secara bermakna.
Dalam kegiatan belajar mengajar, masih sering ditemui kurangnya keterlibatan siswa sehingga siswa lebih bersifat pasif yang menyebabkan banyak siswa yang tergantung pada materi yang disajikan oleh guru dari pada menemukan sendiri pengetahuan, keterampilan, atau sikap yang mereka butuhkan. Tugas guru didalam melaksanakan proses pengajaran bukan saja sebagai penyaji materi dan sumber informasi tetapi juga sebagai fasilitator dan motivator. Guru dituntut kemampuannya untuk menumbuhkan minat dan motivasi siswa untuk belajar secara optimal dalam proses belajar mengajar sehingga siswa terlibat secara aktif dan ikut mengambil bagian didalamnya.
b.      Metode Belajar Aktif
Menurut (Silberman, 2006:66), pembelajaran aktif (active learning) adalah segala bentuk pembelajaran yang memungkinkan siswa berperan secara aktif dalam proses pembelajaran itu sendiri baik dalam bentuk interaksi antar siswa maupun siswa dengan guru dalam proses pembelajaran tersebut. Selanjutnya menurut (Bonwell, 1995:34), pembelajaran aktif (active learning) memiliki karakteristik-karakteristik sebagai berikut:
1)       Penekanan proses pembelajaran bukan pada penyampaian informasi oleh guru melainkan pada pengembangan keterampilan pemikiran analitis dan kritis terhadap topik atau permasalahan yang dibahas.
2)       Siswa tidak hanya mendengarkan pelajaran secara pasif tetapi mengerjakan sesuatu yang berkaitan dengan materi.
3)       Penekanan pada eksplorasi nilai-nilai dan sikap-sikap berkenaan dengan materi.
4)       Siswa lebih banyak dituntut untuk berpikir kritis, menganalisa dan melakukan evaluasi.
5)       Umpan-balik yang lebih cepat akan terjadi pada proses pembelajaran.
Lebih 2400 tahun lalu, Konfusius  (dalam Silberman, 2002) menyatakan 3 pernyataan sederhana yang mengungkapkan pentingnya belajar aktif yaitu:
1)      Yang saya dengar, saya lupa
2)      Yang saya lihat, saya ingat
3)      Yang saya kerjakan, saya paham
Pernyataan ini dimodifikasi oleh (Mel Silberman, 2002:54) dan diperluas menjadi paham belajar aktif (Active Learning Credo):
1)      Yang saya dengar, saya lupa
2)      Yang saya dengar dan lihat, saya sedikit ingat
3)      Yang saya dengar, lihat dan pertanyakan atau diskusikan dengan orang lain yang saya mulai pahami
4)      Dari yang saya dengar, lihat, bahas, dan terapkan saya dapatkan pengetahuan dan keterampilan
5)      Yang saya ajarkan kepada orang lain, saya kuasai
Belajar tidaklah cukup hanya dengan mendengarkan atau melihat sesuatu. Tetapi akan lebih baik lagi jika siswa dapat melakukan sesuatu terhadap informasi itu, dan dengan demikian siswa bisa mendapatkan umpan balik tentang seberapa bagus pemahamannya. Pendapat ini diperkuat oleh Jhon Holt (dalam Silberman, 2006) yang menyatakan bahwa proses belajar akan meningkat jika siswa diminta untuk melakukan  hal berikut ini:
1)      Mengemukakan kembali informasi dengan kata-kata mereka sendiri.
2)      Memberikan contoh
3)      Mengenalinya dalam bermacam bentuk dan situasi
4)      Melihat kaitannya antara informasi itu dengan fakta atau gagasan lain
5)      Menggunakannya dengan beragam cara
6)      Memprediksikan sejumlah konsekuensinya.
7)      Menyebutkan lawan atau kebalikannya
Tanpa kesempatan untuk mendiskusikan, mengajukan pertanyaan, bekerja, dan bahkan mungkin mengajarkan rekan sesama siswa, pembelajaran yang hakiki tidak akan terjadi. Pembelajaran aktif dapat meningkatkan minat siswa, (Silberman, 2002:56) menyatakan, “When learning is active, the learner is seeking something. He or she wants an answer to a question, needs information to solve a problem, or is searching for a way to do a job”.
c.       Model Pembelajaran Guide Note Taking (GNT)
Strategi Guide Note Taking merupakan strategi yang menggunakan pendekatan pembelajaran akitf (active learning). Pembelajaran aktif (active learning) dimaksudkan untuk mengoptimalkan penggunaan semua potensi yang dimiliki oleh anak didik, sehingga semua anak didik dapat mencapai hasil belajar yang memuaskan sesuai dengan karakteristik pribadi yang mereka miliki. Di samping itu pembelajaran aktif (active learning) juga dimaksudkan untuk menjaga perhatian siswa/anak didik agar tetap tertuju pada proses pembelajaran.
(Zainal Muttaqien, 2010:22) mengemukakan bahwa strategi Guide Note Taking adalah strategi pembelajaran yang meski dalam pelaksanaannya tidak dapat dipisahkan dari metode ceramah namun strategi ini cocok digunakan untuk memulai pembelajaran dan menghadirkan suasana belajar yang aktif sehingga peserta didik akan terfokus perhatiannya pada istilah dan konsep yang akan dikembangkan dan materi yang berhubungan dengan kompetensi serta tujuan yang telah dirancang. Strategi ini juga dapat meminimalisasi kelemahan-kelemahan dari metode ceramah, yakni sebuah metode yang hanya mengandalkan indera pendengaran sebagai alat belajar yang dominan.
Selanjutnya (Wina Sanjaya, 2005:34) mengemukakan bahwa strategi Guide Note Taking atau catatan terbimbing adalah salah satu strategi untuk mengaktifkan kelas, dimana seorang guru menyiapkan media berupa bagan atau skema (handout), yang dapat membantu siswa dalam membuat catatan ketika seorang guru sedang menjelaskan pelajaran dengan metode ceramah.
Menurut (Fatmawati, 2010:10) langkah-langkah pembelajaran model pembelajaran Guide Note Taking adalah sebagai berikut:
1)      Memberikan ringkasan poin-poin utama dari materi pelajaran yang akan disampaikan.
2)      Kelompokkan siswa dengan anggota minimal dua orang atau perbangku.
3)      Bagikan bahan ajar (handout) yang sudah dibuat pada tiap kelompok.
4)      Mengkondisikan kelas dengan suasana yang hangat agar siswa tetap fokus.
5)      Memberi materi pengait sesuai materi yang akan dibahas.
6)      Sampaikan materi secara sistematis sesuai handout yang diberikan dengan memanfaatkan alat peraga yang ada.
7)      Mengajak siswa berperan dalam penggunaan alat peraga.
8)      Membimbing siswa untuk menyampaikan ide dan menyimpulka dari apa yang diperoleh.
9)      Guru dan siswa menganalisis suatu kasus.
D.     Kerangka Berpikir Dan Pengajuan Hipotesis
1.      Hubungan antara variabel X dengan Y
Keberhasilan proses belajar mengajar pada pembelajaran matematika bisa diamati dari keberhasilan siswa. Keberhasilan itu sendiri dapat dilihat dari tingkah laku siswa, pemahaman dan penguasaan materi serta pencapaian hasilyang dapat dilihat dari perolehan nilai tes. Namun pada kenyataannya hasilyang dicapai masih rendah. Kesulitan siswa dalam menghadapi pelajaran ini, bisa disebabkan oleh berbagai hal seperti penyampaian materi ajar yang kurang menarik dari guru, keterbatasan waktu, pengelolaan kelas yang kurang terprogram dan kondisi kelas yang tidak memungkinkan. Sehingga akan mempengaruhi konsentrasi siswa untuk menerima pelajaran.
Selain itu, dilihat dari segi strategi pembelajaran yang diterapkan oleh guru masih mengikuti metode-metode yang pada umumnya monoton. Sehingga memberikan situasi yang sama terhadap siswa dan akhirnya menimbulkan ketidaktanggapan siswa dalam kegiatan pembelajaran. Belajar mengajar yang kurang optimal akan menyebabkan rendahnya hasil belajar. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor antara lain faktor eksternal adalah faktor yang datang dari luar siswa atau faktor lingkungan dan faktor internal adalah faktor yang ada dalam diri siswa.
Dalam pemilihan model pembelajaran harus tepat dan perlu pemikiran dan penerapan yang matang. Agar tujuan pembelajaran matematika dapat terwujud, maka perlu suatu perencanaan dalam pembelajaran matematika di kelas dan metode pembelajaran yang sesuai. Salah satu alternatif untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam setiap pengajaran pada umumnya dan pada pelajaran matematika khususnya, diperlukan berbagai macam modal pembelajaran. Dalam hal ini digunakan model pembelajaran Guide Note Taking, karena dalam pembelajaran ini siswa dihadapkan dengan permasalahan yang mengandung teka-teki sehingga membangkitkan rasa ingin tahunya untuk melakukan penyelidikan dan dapat menemukan sendiri jawabannya, dengan adanya panduan dari guru. Dengan demikian siswa akan senang, terangsang, tertarik dan bersikap positif terhadap pembelajaran matematika sehingga minatnya dalam mempelajari matematika semakin besar dan pada akhirnya peningkatan hasil belajar siswa dapat tercapai.
2.      Hipotesis Penelitian
Dari berbagai penjelasan dan pemaparan di atas, maka penulis merumuskan hipotesis sebagai berikut:
a.       Hipotesis kerja H­1
Terdapat pengaruh penerapan model GNT (Guide Note Taking) dalam meningkatkan hasil belajar matematika siswa pokok bahasan operasi bilangan bulat pada siswa kelas V MI Mathla’ul Anwar Sukabakti Kabupaten Lebak tahun pelajaran 2011/2012.
b.      Hipotesis Nihil H­0
Terdapat pengaruh penerapan model GNT (Guide Note Taking) dalam meningkatkan hasil belajar matematika siswa pokok bahasan operasi bilangan bulat pada siswa kelas V MI Mathla’ul Anwar Sukabakti Kabupaten Lebak tahun pelajaran 2011/2012.
E.     Metode Penelitian, Tempat dan Waktu Penelitian
1.      Tempat dan Waktu Penelitian
Dalam penelitian ini, peneliti memilih subyek penelitian adalah siswa MI Mathla’ul Awar Sukabakti Kabupaten Lebak, sedangkan waktu penelitian direncanakan akan dilaksanakan pada semester ganjil tahun pelajaran 2011/2012 selama kurang lebih satu bulan yakni dari pertengahan Juli hingga pertengahan Agustus  2011.
2.      Populasi dan Sampel
a.      Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas V MI Mathla’ul Anwar Sukabakti Kabupaten Lebak tahun pelajaran 2011/2012, yang terdiri atas kelas V A sebanyak 30 siswa dan kelas V B sebanyak 30 siswa.
b.      Sampel
Arikunto (1997:120) menjelaskan bahwa, “Apabila subjeknya kurang dari 100 lebih baik diambil semua hingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. Selanjutnya jika jumlah subjeknya besar dapat diambil antara 10-15 %, atau 20-25% atau lebih”.
Dengan demikian, maka pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling. Sehingga dalam hal ini sampel penelitiannya adalah seluruh siswa kelas V MI Mathla’ul Anwar Sukabakti Kabupaten Lebak tahun pelajaran 2011/2012, yaitu kelas V A sebanyak 30 siswa terdiri atas 14 laki-laki dan 15 perempuan dan kelas V B sebanyak 30 siswa terdiri atas 13 laki-laki dan 17 perempuan. Kemudian dari kedua kelas tersebut ditentukan kelompok eksperimen yaitu kelas V A dan kelompok kontrol yaitu kelas V B.
3.      Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen, yaitu suatu cara untuk mencari hubungan sebab akibat (hubungan kausal) antara dua faktor yang sengaja ditimbulkan oleh peneliti. Desain eksperimen dalam penelitian ini menggunakan model Two Group Posttest Only Design Experiment (Arikunto, 2005: 212), yaitu eksperimen yang dilaksanakan  pada dua kelompok yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Dimana perlakuan dan pos tes diberikab pada kelompok eksperimen sementara pada kelompok kontrol hanya mendapatkan pos tes.
4.      Teknik Pengumpulan Data
a.       Metode dokumentasi
Metode dokumentasi digunakan untuk memperoleh data awal mengenai identitas siswa dan nilai nilai ulangan matematika pada saat siswa yang bersangkutan masih berada di kelas IV.
b.      Metode tes
Metode ini digunakan untuk mengetahui ada dan tidaknya perbedaan antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen setelah diadakan perlakuan yang berbeda. Bentuk tes yang digunakan adalah tes obyektif. (Suherman, 1993:75-76) mengemukakan kelebihan tes obyektif sebagai berikut:
1)      Hasil pemeriksaan bersifat obyektif
2)      Ruang lingkup materi yang diujikan lebih menyeluruh sehingga cukup representatif mewakili materi yang telah dipelajari siswa.
3)      Jawaban yang benar sudah tertentu dan pasti
4)      Pemeriksaan dapat dilakukan dengan mudah dan cepat
5)      Ketidakmampuan tes dalam bagian-bagian tertentu pada sebuah konsep/ topik lebih mudah dikenali secara langsung dari jawaban butir soal yang salah.
c.       LembarObservasi
Metode ini digunakan untuk mendapatkan informasi mengenai aktivitas belajar siswa serta proses pembelajaran dengan model Guided Note Taking dilaksanakan.
5.      Teknik Analisis Data
Dalam hal ini, teknik analisis data yang digunakan adalah melakukan pengujian pengaruh implementasi model Guided Note Taking dalam pembelajaran pokok bahasan operasi bilangan bulat pada siswa dengan jalan membandingkan hasil belajar kelompok eksperimen dan kontrol dengan menggunakan uji-t.
Prosedur yang ditempuh adalah sebagai berikut:
a.       Analisis Instrumen           
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan atau keabsahan suatu instrumen Arikunto (2000). Suatu alat pengukur dapat dikatakan alat pengukur yang valid apabila alat pengukur tersebut dapat mengukur yang hendak diukur dengan tepat. Dalam hal ini untuk menghitung koefisien validitas digunakan rumus korelasi product moment sebagai berikut:
keterangan:
rxy = koefisien validitas butir soal
N = banyak siswa peserta tes
X = jumlah skor item
Y = jumlak skor total
Kriteria analisis validitas tes yaitu setelah didapatkan harga rxy kemudian harga rxy tersebut dikonsultasikan dengan harga r product moment pada tabel, dengan taraf signifikan 5%. Apabila rxy > rtabel, maka butir soal valid. (Arikunto, 1997:162).
Reliabilitas merupakan tingkat kepercayaan terhadap suatu instrumen sebagai alat pengumpul data, instrumen yang reliabel akan menghasilkan data yang dapat dipercaya dan mantap.
Untuk mengetahui reliabilitas suatu instrumen dapat digunakan beberapa rumus, sesuai dengan bentuk instrumen yang digunakan. Dalam penelitian ini reliabilias ditentukan dengan menggunakan rumus Kuder dan Richardson (K-R 20). Rumus K-R 20 digunakan untuk menentukan reliablitas suatu instrumen yang skornya 1 dan 0 misalnya soal objektif.
Dengan:
n = banyak sampel
pi = proporsi subyek yang menjawab benar pada butir soal ke-i
qi = proporsi subyek yang menjawab salah pada butir soal ke-i
jadi qi = 1 - pi
 = varians skor total
(Arikunto, 1997: 160)
Kriteria analisis validitas tes yaitu setelah didapatkan harga r11 kemudian harga r11 tersebut dikonsultasikan dengan harga r product moment pada tabel, dengan taraf signifikan 5%. Apabila r11 > rtabel, maka butir soal tersebut reliabel. (Arikunto, 1997: 155).
Soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu sukar dan tidak terlalu mudah. Soal yang terlalu mudah tidak merangsang siswa untuk mempertinggi siswa memecahkannya, sedangkan soal yang terlalu sukar akan menyebabkan siswa menjadi putus asa dan tidak mempunyai semangat untuk mencoba lagi.
Untuk mengetahui apakah suatu soal tergolong mudah atau sukar untuk digunakan suatu bilangan. Bilangan yang menunjukkan sukar dan mudahnya suatu soal disebut indeks kesukaran (difficulty indeks). Indeks kesukaran dapat ditentukan dengan menggunakan rumus berikut ini:
          
Dengan:
P = Tingkat kesukaran soal
B = Banyak siswa yang menjawab dengan benar item tersebut
JS = Banyak siswa yang mengikuti tes
Dengan kriteria:
0,00 ≤ P < 0,30 : soal dikatakan sukar
0,30 ≤ P < 0,70 : soal dikatakan sedang
0,70 ≤ P ≤ 1,00 : soal dikatakan mudah
(Arikunto, 1997: 210)
Menurut (Arikunto, 1997:216), “daya pembeda soal adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan antara siswa yang pandai dengan siswa yang kurang pandai”. Angka yang menunjukkan besarnya daya pembeda soal disebut indeks diskriminasi (D). Indeks diskriminasi dapat ditentukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
          
Dengan:
DP   = daya pembeda soal
JA    = banyaknya peserta tes yang menjadi anggota kelompok atas
JB  = banyaknya peserta tes yang menjadi anggota kelompok bawah
BA = banyaknya peserta tes yang menjadi anggota kelompok atas menjawab item tertentu dengan benar
BB  = banyaknya peserta tes yang menjadi anggota kelompok bawah dan menjawab item tertentu dengan benar.
PA = proporsi peserta tes kelompok atas yang menjawab item tertentu dengan benar
PB = proporsi peserta tes kelompok bawah yang menjawab item tertenti dengan benar
Kategori yang digunakan adalah:
0,00 - 0,20 : jelek
0,20 - 0,40 : cukup
0,40 - 0,70 : baik
0, 70 - 1,00 : baik sekali
(Arikunto, 1997: 213)
b.      Analisis Data
1.    Uji Prasyarat Analisis
Sebelum data dianalisis, terlebih dahulu dilakukan uji prasyarat yaitu uji normalitas dan uji homogenitas data.
1)      Uji Normalitas
Uji normalitas ini digunakan untuk menguji kenormalan data. Rumus yang digunakan adalah statistik uji chi kuadrat sebagai berikut:
Dengan,
: chi kuadrat
  : frekuensi yang diobservasi
  : frekuensi yang diharapkan
     (Arikunto, 1997:290)
Kriteria uji normalitas yaitu setelah didapatkan harga      χ2 hitung kemudian χ2 hitung tersebut dikonsultasikan dengan harga  χ2 tabel dengan derajat kebebasan dk = K–3 dan taraf signifikansi α = 5%. Apabila dari hasil perhitungan didapatkan χ2hitung < χ2tabel maka data yang diuji adalah berdistribusi normal.
2)     Uji Homogenitas.
Uji homogenitas bertujuan untuk mengetahui apakah kedua kelompok mempunyai varians yang sama atau tidak. Jika kedua kelompok mempunyai varians yang sama maka kelompok tersebut dikatakan homogen. Pengujian dilakukan dengan uji Fisher (uji F) sebagai berikut:
dengan,
F               : homogenitas yang dicari
MKk          : Mean Kuadrat Kelompok
MKd          : Mean Kuadrat Dalam
(Arikunto, 1997:293)
Kriteria uji homogenitas yaitu setelah didapatkan harga      Fhitung kemudian Fhitung tersebut dikonsultasikan dengan harga   Ftabel yang mempunyai dk pembilang sebesar (nb – 1) dan dk penyebut (nk – 1) serta taraf signifikansi α = 5%. Apabila Fhitung < Ftabel maka berarti kelompok ekperimen dan kelompok kontrol yang ditetapkan berasal dari populasi yang memiliki variansi yang relative sama.(Arikunto, 1997).
2.    Pengujian Hipotesis
Dalam hal ini uji statistik yang digunakan adalah uji statistik uji-t untuk satu pihak (pihak kanan). Adapun langkah-langkah dalam melakukan pengujian adalah sebagai berikut:
Hipotesis yang akan diujikan dalam uji-t ini adalah sebagai berikut:
Ho : μ1 μ2
Ha : μ1 > μ2
μ1 : rata-rata data kelompok eksperimen
μ2 : rata-rata data kelompok kontrol
Untuk menguji ada tidaknya perbedaan dari kedua kelompok baik prestasi belajarnya diuji menggunakan uji t dengan rumus:
Dengan,
Keterangan:
                 : rata-rata nilai kelompok eksperimen
 : rata-rata nilai kelompok kontrol
    : simpangan baku
             : standar deviasi pada kelompok eksperimen
             : standar deviasi pada kelompok kontrol
 : banyak subjek kelompok eksperimen
 : banyak subjek kelompok kontrol
   (Sudjana, 2001:293)
Dari thitung yang diperoleh kemudian dikonsultasikan dengan ttabel yang memiliki derajat kebebasan dk = N1 + N2 - 2 dan taraf signifikansi α = 5%. Kriteria pengujian adalah tolak hipotesis nol jika thitung > ttabel.
6.      Statistik Hipotesis Penelitian (Secara Matematika)
statistik hipotesis penelitian yang peneliti ajukan adalah sebagai berikut:
Ho : μ1 μ2
Ha : μ1 > μ2
μ1 : rata-rata data kelompok eksperimen
μ2 : rata-rata data kelompok kontrol
Keterangan:
H0   =     Tidak terdapat pengaruh penerapan model GNT (Guide Note Taking) dalam meningkatkan hasil belajar matematika siswa pokok bahasan operasi bilangan bulat pada siswa kelas V MI Mathla’ul Anwar Sukabakti Kabupaten Lebak tahun pelajaran 2011/2012.
H1  =   Terdapat pengaruh penerapan model GNT (Guide Note Taking) dalam meningkatkan hasil belajar matematika siswa pokok bahasan operasi bilangan bulat pada siswa kelas V MI Mathla’ul Anwar Sukabakti Kabupaten Lebak tahun pelajaran 2011/2012.
F.      DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Abu dan Widodo Supriyono. 1991. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta. DAPTKAN BUKUNYA DISINI
Aqib, Zainal. 2002. Profesionalisme Guru dalam Pembelajaran. Surabaya: Insan Cendikia. DAPATKAN BUKUNYA DISINI
Arikunto, Suharsimi. 1997. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta. DAPATKAN BUKUNYA DISINI
_______ Suharsimi. 1997. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta. DAPATKAN BUKUNYA DISINI
Conel, Mc. 1998. Pengembangan MKDK. Semarang : KIP. DAPATKAN BUKUNYA DISINI
Departemen Agama RI, Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam. 2005. Kurikulum 2004: Standar Kompetensi Madrasah Tsanawiyah. Jakarta: Departemen Agama RI.
DAPATKAN BUKUNYA DISINI
Fatmawati, Dani. 2010. Penggunaan Strategi Guide Note-Taking Dengan Mengoptimalkan Alat Peraga Dalam Pembelajaran Matematika Untuk Meningkatkan Minat Belajar Siswa Dan Pemahaman Konsep Kubus Dan Balok. Skripsi. UMS Surakarta: Tidak diterbitkan,
Nasution. 1982. Diktat Azas-Azas Mengajar. Bandung: Janer. DAPATKAN BUKUNYA DISINI
Nugroho, E. 1990. Ensiklopedi Nasional Indonesia, Jakarta: Cipta Adi Pustaka.
DAPATKAN BUKUNYA DISINI
Purwanto, M. Ngalim. 2010. Pskologi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
DAPATKAN BUKUNYA DISINI
Sanjaya, Wina. 2005. Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi.Jakarta: Prenada Media Group. DAPATKAN BUKUNYA DISINI
Silberman, Melvin L. 2002. Active learning: 101 Cara Belajar Aktif. Bandung: Nusamedia. DAPATKAN BUKUNYA DISINI
Slameto. 1995, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya, Jakarta: Rineka Cipta, DAPATKAN BUKUNYA DISINI
Sudjana, Nana. 1989. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar baru. DAPATKAN BUKUNYA DISINI
Sudjana, Nana. 2001. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. DAPATKAN BUKUNYA DISINI
Suherman, Erman. 1992. Sistem Belajar Mengajar. Jakarta: Universitas Terbuka, Depdikbud. DAPATKAN BUKUNYA DISINI
Syah,Muhibbin. 2001. Psikologi Pendidikan. Bandung : Remaja Rosdakarya. DAPATKAN BUKUNYA DISINI
Winataputra, Udin S. 1998. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Depdikbud.
DAPATKAN BUKUNYA DISINI

Unduh gratis file lengkapnya disini

Kamis, 23 Mei 2013

PROPOSAL SKRIPSI TENTANG MODEL PEMBELAJARAN NUMBERED HEADS TOGETHER (NHT)

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN NUMBERED HEADS TOGETHER (NHT) TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA POKOK BAHASAN OPERASI ALJABAR PADA SISWA KELAS VIII MTs NEGERI CIKEUSIK KABUPATEN PANDEGLANG TAHUN PELAJARAN 2011/2012 

Judul 
Pengaruh Model Pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Pokok Bahasan Operasi Aljabar Pada Siswa Kelas VIII MTs Negeri Cikeusik Kabupaten Pandeglang Tahun Pelajaran 2011/2012. Masalah Latar belakang masalah dan pengajuan judul Berdasarkan pengamatan peneliti dalam rangka persiapan melaksanakan penelitian di MTs Negeri Cikeusik Kabupaten Pandeglang menunjukkan bahwa khususnya pelajaran matematika merupakan mata pelajaran yang sukar dipelajari dan dianggap sulit oleh siswa. Kenyataan ini dibuktikan dengan nilai Ujian Akhir Semester Genap mata pelajaran matematika siswa yang masih di bawah kriteria ketuntasan minimum (KKM) yang ditetapkan oleh sekolah, yaitu 60. Padahal matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang diberikan pada hampir seluruh jenjang pendidikan dan merupakan salah satu alat untuk mencapai tujuan pendidikan.

GBPP matematika (1994:1) menyebutkan bahwa tujuan umum diberikannya matematika di jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah adalah sebagai berikut: Mempersiapkan siswa agar sanggup menghadapi perubahan keadaan di dalam kehidupan dan di dunia yang selalu berkembang, melalui latihan bertindak atas dasar pemikiran secara logis, rasional, kritis, cermat, jujur, efisien dan efektif; Mempersiapkan siswa agar dapat menggunakan matematika dan pola pikir matematika dalam kehidupan sehari-hari dan dalam mempelajari berbagai ilmu pengetahuan. Dengan memperhatikan bahwa mata pelajaran matematika harus diberikan di jenjang pendidikan dasar dan menengah dan juga dengan memperhatikan tujuan umum pendidikan matematika maka seorang guru harus dapat membuat siswa mau untuk belajar matematika dan dapat memperoleh hasil belajar yang optimal. Inilah yang dikatakan tugas yang berat karena guru harus mampu memotivasi siswa untuk mau belajar matematika.

Salah satu upaya yang bisa ditempuh seorang guru dalam memotivasi siswa untuk mau belajar matematika adalah dengan menggunakan pendekatan-pendekatan dalam pembelajaran yang berpusat pada siswa (student center). Salah satunya adalah melalui model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT). Setelah dilakukan wawancara dengan salah satu guru matematika di MTs Negeri Cikeusik Kabupaten Pandeglang, diperoleh bahwa pembelajaran model pembelajaran kepala bernomor struktur Numbered Heads Together (NHT) belum pernah diterapkan. Pembelajaran yang biasa dilaksanakan di MTs Negeri Cikeusik Kabupaten Pandeglang lebih mengarah pada pembelajaran dengan pendekatan konvensional. Permasalahan yang timbul di lapangan adalah meskipun para siswa mendapatkan nilai-nilai yang tinggi dalam sejumlah mata pelajaran, namun mereka tampak kurang mampu menerapkan perolehannya, baik berupa pengetahuan, keterampilan, maupun sikap dalam situasi yang lain. Akibatnya siswa tidak mengetahui bahwa apa yang mereka pelajari terkait dengan kehidupan nyata. 

Agar rasa internalized dan apresiasi siswa terhadap bangun datar ini dapat lebih ditingkatkan serta potensi yang dimiliki siswa dapat berkembang secara optimal maka paradigma pembelajaran yang sedang berlangsung perlu disempurnakan, khususnya terkait dengan cara sajian pelajaran dan suasana pembelajaran. Pengalaman di negara lain menunjukkan bahwa minat dan prestasi siswa dalam bidang matematika, sains, dan bahasa meningkat secara drastis pada saat: Mereka dibantu untuk membangun keterkaitan antara informasi (pengetahuan) baru dengan pengalaman (pengetahuan lain) yang telah mereka miliki atau mereka kuasai. Mereka diajarkan bagaimana mereka mempelajari konsep, dan bagaimana konsep tersebut dapat dipergunakan di luar kelas. Mereka diperkenankan untuk bekerja secara bersama-sama (cooperative). Meningkatnya minat dan prestasi siswa tersebut dicapai, karena guru menggunakan suatu pendekatan pembelajaran dan pengajaran kontekstual. Paradigma baru ini dirumuskan sebagai: siswa aktif mengkonstruksi-guru membantu, dengan pendekatan kontekstual melalui model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) dengan salah satu kata kunci yakni memahami pikiran anak untuk membantu anak belajar. Oleh sebab itu pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) perlu dipelajari. Dari alasan tersebut maka peneliti mengambil judul: “Pengaruh Model Pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Pokok Bahasan Operasi Aljabar Pada Siswa Kelas VIII MTs Negeri Cikeusik Kabupaten Pandeglang Tahun Pelajaran 2011/2012”. 

Identifikasi masalah 
Berdasakan latar belakang di atas, maka identifikasi masalah dalam penelitian ini adalah: 
Apakah yang menyebabkan rendahnya motivasi belajar siswa terhadap mata pelajaran matematika? 
Apakah yang menyebabkan rendahnya hasil belajar matematika siswa? 
Faktor apakah yang dapat mempengaruhi hasil belajar matematika siswa? 
Apakah moitvasi belajar dapat mempengaruhi hasil belajar matematika siswa? 
Faktor apakah yang dapat mempengaruhi motivasi belajar matematika siswa? 
Apakah metode pembelajaran kooperatif dapat mempengaruhi motivasi belajar siswa? 
Apakah model pembelajaran dapat mempengaruhi motivasi belajar siswa? 
Apakah model pembelajaran dapat mempengaruhi hasil belajar matematika siswa? 
Apakah model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) dapat mempengaruhi motivasi belajar siswa? 
Apakah model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) dapat mempengaruhi hasil belajar siswa? 

Pembatasan masalah 
Berdasakan latar belakang dan identifikasi masalah di atas, maka batasan masalah dalam penelitian ini adalah: 
Motivasi belajar siswa melalui penggunaan model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) dalam pokok bahasan operasi aljabar pada siswa kelas VIII MTs Negeri Cikeusik Kabupaten Pandeglang tahun pelajaran 2011/2012. 
Hasil belajar matematika siswa melalui penggunaan model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) dalam pokok bahasan operasi aljabar pada siswa kelas VIII MTs Negeri Cikeusik Kabupaten Pandeglang tahun pelajaran 2011/2012. 
Pengaruh model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) terhadap hasil belajar matematika siswa pokok bahasan operasi aljabar pada siswa kelas VIII MTs Negeri Cikeusik Kabupaten Pandeglang tahun pelajaran 2011/2012. 

Perumusan Masalah 
Berdasarkan identifikasi dan pembatasan masalah di atas, permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. 
Bagaimanakah motivasi belajar siswa melalui penggunaan model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) dalam pokok bahasan operasi aljabar pada siswa kelas VIII MTs Negeri Cikeusik Kabupaten Pandeglang tahun pelajaran 2011/2012? 
Bagaimanakah hasil belajar matematika siswa melalui penggunaan model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) dalam pokok bahasan operasi aljabar pada siswa kelas VIII MTs Negeri Cikeusik Kabupaten Pandeglang tahun pelajaran 2011/2012? 
Apakah terdapat pengaruh model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) terhadap hasil belajar matematika siswa pokok bahasan operasi aljabar pada siswa kelas VIII MTs Negeri Cikeusik Kabupaten Pandeglang tahun pelajaran 2011/2012? 

Tujuan dan kegunaan penelitian 
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) terhadap hasil belajar matematika siswa pokok bahasan operasi aljabar pada siswa kelas VIII MTs Negeri Cikeusik Kabupaten Pandeglang Tahun Pelajaran 2011/2012. 
Sedangkan kegunaan penelitiannya adalah sebagai berikut. 
Bagi Guru Manfaat penelitian ini bagi guru agar dapat lebih mengetahui secara tepat dan bertambah wawasan dalam penyelenggaraan proses belajar dengan menggunakan metode pembelajaran bagi siswa. 
Bagi Siswa Menumbuhkan kemampuan untuk menemukan rumus/data, kemampuan bekerjasama, kemampuan berkomunikasi siswa dan keaktifan siswa dalam pembelajaran. 
Bagi khasanah pendidikan Memberikan sumbangan pemikiran sebagai alternatif peningkatan kualitas pendidikan khususnya kualitas keterampilan berpikir dan kreativitas dalam pendidikan pada umumnya. 

Deskripsi Teoritis 
Hasil belajar berkaitan erat dengan proses belajar mengajar. Untuk itu akan dibahas terlebih dahulu pengertian hasil dan belajar. Hasil “Hasil adalah sesuatu yang telah dicapai dari yang telah dilakukan, dikerjakan dan sebagainya” (Tim penyusun KBBI, 1994: 104). 

Belajar 
Pengertian belajar menurut beberapa ahli adalah sebagai berikut: Belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan tingkah laku pada diri seseorang. Perubahan sebagai hasil dari proses belajar dapat dilanjutkan dalam berbagai bentuk seperti perubahan pengetahuan, kebiasaan serta perubahan aspek-aspek lain yang ada pada diri individu yang sedang belajar (Nana Sudjana, 1989: 5). Belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan atau pengalaman; dalam arti perubahan-perubahan yang disebabkan oleh pertumbuhan atau kematangan tidak dianggap sebagai hasil belajar; seperti perubahan-perubahan yang terjadi pada diri seorang bayi (M. Ngalim Purwanto, 1984:85) Seseorang dikatakan telah belajar sesuatu kalau padanya terjadi perubahan tertentu, misalnya dari tidak dapat naik motor menjadi dapat naik motor, dari tidak dapat menggunakan kalkulator menjadi mahir menggunakannya, dari tidak mampu berbahasa Inggris menjadi mahir dalam bahasa tersebut, dari tidak tahu sopan santun menjadi seseorang yang sangat sopan, dan sebagainya (Noehi Nasution, 1998:3). 
Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagaimana hasil perjalanan individu itu sendiri dalam interaksinya dengan lingkungannya. Perubahan tingkah laku yang dihasilkan dari belajar adalah: Perubahan yang terjadi secara sadar Perubahan dalam belajar bersifat kontinu Perubahan dalam belajar bersifat positif Perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara Perubahan dalam belajar bertujuan dan berarah Perubahan dalam belajar mencakup seluruh aspek tingkah laku (Slameto, 1998: 4). Menurut Skinner (dalam Muhibbin Syah, 1995: 89) “belajar adalah suatu proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara progresif. Timbulnya tingkah laku itu lantaran adanya hubungan antar stimulus (rangsangan) dengan respon (tanggapan, reaksi)”. 
Sedangkan Ngalim Purwanto (1998: 85). Mengemukakan bahwa “Belajar terjadi apabila suatu stimulus bersama dengan isi ingatan mempengaruhi siswa sedemikian rupa sehinggaa perbuatannya berubah dari waktu sebelum ia mengalami situasi tadi”. Belajar menurut teori J. Bruner (dalam Arifin dan Aminuddin Rasyad, 1998:101),”adalah tidak ditunjukkan untuk mengubah tingkah laku murid (anak didik) melainkan untuk mengubah kurikulum sehingga dapat mempermudah anak didik belajar lebih banyak lagi”. Belajar dalam arti luas adalah proses perubahan tingkah laku yang dinyatakan dalam bentuk penguasaan, penggunaan dan penilaian terhadap berbagai bidang studi atau lebih luas lagi dalam berbagai aspek kehidupan atau pengalaman yang terorganisasi. 
Dalam hal ini tidaklah semua perolehan yang baru pada tingkah laku dapat disebut belajar. Untuk dapat disebut belajar maka perolehan sesuatu yang baru pada tingkah laku harus memenuhi beberapa syarat sebagai berikut: Hasil belajar sebagai pencapaian tujuan belajar Hasil belajar harus sebagai buah dari proses yang disadari Hasil belajar harus sebagai produk dari proses latihan Latihan adalah pengulangan-pengulangan dari suatu proses tindakan sebagai respon atau reaksi terhadap rangsangan yang kurang lebih sama dalam rangka memperoleh kemampuan bertindak. Hasil belajar harus merupakan tindak tanduk yang berfungsi efektif dalam kurun waktu tertentu. Hasi-hasil belajar harus berfungsi operasional dan potensial yaitu merupakan tindak tanduk yang lain. Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah proses perubahan tingkah laku yang dialami dengan serangkaian kegiatan. Belajar menghasilkan perubahan tingkah laku yang meliputi tiga hal yaitu: aspek kognitif (pengetahuan), aspek afektif (sikap/perilaku) dan aspek psikomotorik (keterampilan). 
Dengan demikian, dari pengertian tentang hasil dan belajar yang dikemukakan para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah sesuatu yang telah dicapai sebagai hasil dari proses belajar. Hasil belajar merupakan indikator keberhasilan yang dicapai siswa dalam usaha belajarnya. Hasil belajar adalah istilah yang digunakan untuk menyatakan tingkat keberhasilan yang dicapai seseorang setelah melalui proses belajar. 
Lebih jauh Hudoyo (1990 : 139) memberikan batasan bahwa : Hasil belajar adalah proses berpikir untuk menyusun hubungan-hubungan antara bagian-bagian informasi yang telah diperoleh sebagai pengertian-pengertian. Karena itu orang menjadi memahami dan menguasai hubungan-hubungan tersebut sehungga orang itu dapat menampilkan pemahaman dan penguasaan bahan pelajaran yang dipelajari. Pendapat lain dikemukakan Sudjana (1997 : 10) yaitu: “hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya”. Sementara itu Sudjana membagi tiga macam hasil belajar yaitu : Keterampilan dan kebiasaan Pengetahuan dan pengertian Sikap dan cita-cita Suatu proses belajar mengajar dikatakan berhasil apabila hasilnya memenuhi tujuan intruksional khusus dari bahan tersebut (Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, 1997:119). 
Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar Belajar matematika akan berhasil dengan baik jika proses belajar mengajarnya juga berjalan dengan baik. Dalam hal ini melibatkan intelektual peserta didik secara optimal, serta mengelola faktor-faktor yang mempengaruhi belajarnya. Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar dapat dibedakan menjadi dua yaitu: 
Faktor dari dalam (internal) Kondisi fisiologis 
Kondisi psikologis diantaranya: kecerdasan, bakat, minat, motivasi, emosi, kemampuan kognitif.  
Faktor dari luar (eksternal) 
Faktor lingkungan: lingkungan sosial, lingkungan alami Faktor instrumental : kurikulum, program, sarana dan fasilitas, guru dan tenaga pengajar. Dari beberapa faktor di atas faktor internal siswa memiliki peranan yang besar, salah satunya adalah motivasi. Motivasi perlu di tumbuh kembangkan secara baik di dalam dunia pendidikan. Motivasi yang mempunyai daya penggerak yang cukup besar biasanya adalah motivasi yang bersifat instrinsik. Menurut Mc. Donald (dalam Sardiman,1990:73) motivasi ditandai dengan munculnya “feeling” dan didahului dengan tanggapan terhadap tujuan. Motivasi mengandung tiga elemen penting, yaitu: Mengawali terjadinya perubahan energi pada diri setiap individu manusia. Karena menyangkut energi manusia, maka penampakannya menyangkut kegiatan fisik manusia. Motivasi ditandai dengan munculnya rasa afeksi seseorang. Dalam hal ini motivasi relevan dengan persoalan-persoalan kejiwaan, afeksi dan emosi yang dapat menentukan tingkah laku manusia. Motivasi akan dirangsang adanya tujuan. Tujuan ini muncul karena adanya kebutuhan baik kebutuhan yang muncul dari dalam seseorang maupun yang muncul akibat rangsangan dari luar seseorang. Motivasi mempengaruhi kegiatan seseorang, sehubungan dengan hal ini maka motivasi mempunyai tiga fungsi: Mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagai penggerak atau motor yang melepas energi. Motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak dari setiap kegiatan yang dikerjakan. Menentukan arah perbuatan yakni kearah tujuan yang hendak dicapai. Dengan demikian motivasi dapat memberikan arah kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuannya. Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut (Sardiman,1990:84). Di dalam kegiatan belajar mengajar, memberikan motivasi kepada siswa berarti menggerakkan siswa untuk melakukan sesuatu atau ingin melakukan sesuatu. Motivasi dapat dikatakan sebagai jantungnya proses belajar. 
Begitu pentingnya motivasi dalam belajar maka tugas guru yang pertama dan terpenting adalah membangun motivasi terhadap apa yang akan dipelajari siswa. Biasanya siswa yang rajin akan memiliki motivasi yang kuat sehingga dia belajar dengan tekun. Sebaliknya siswa yang malas tidak memiliki motivasi dalam belajar, dalam hal ini guru perlu mengetahui dan menyelidiki mengapa seorang siswa berbuat demikian. Siswa yang malas harus diberi rangsangan atau dibangkitkan kemauannya untuk belajar. Guru berperan selaku motifator, pemberi semangat agar motif-motif positif pada siswa dapat dibangkitkan, ditingkatkan dan dikembangkan. Ada dua jenis motivasi, yaitu: 
Motivasi yang timbul dari dalam diri anak (instrinsik) 
Motivasi instrinsik dapat dilakukan dengan cara menggairahkan perasaan ingin tahu anak, keinginan untuk mencoba dan hasrat untuk sukses. Motivasi yang timbul dari luar anak (ekstrinsik) Motivasi ini dapat dilakukan dengan memberi ganjaran, hukuman atau penugasan untuk berbagai kebaikan. (Moh Uzer Usman,1993:88) Ada beberapa cara dan bentuk untuk menumbuhkan motivasi dalam kegiatan belajar di sekolah yaitu: 
Memberi angka 
Angka dalam hal ini sebagai simbul dari nilai kegiatan belajarnya. 
Hadiah 
Hadiah dapat juga dikatakan sebagai motivasi bagi anak yang senang dan berbakat. 
Saingan atau kompetisi 
Saingan digunakan sebagai alat motivasi untuk mendorong belajar siswa secara kelompok maupun individual. Ego-involvement Menumbuhkan kesadaran kepada siswa agar merasakan pentingnya tugas dan menerimanya sebagai tantangan, sehingga bekerja keras dengan mempertaruhkan harga diri. 
Memberi ulanganMemberi ulangan merupakan cara guru untuk membangkitkan motivasi belajar siswa, karena ulangan maka siswa akan giat belajar. Mengetahui hasil Dengan mengetahui hasil pekerjaan, apalagi kalau terjadi kemajuan akan mendorong siswa untuk giat belajar. Pujian Pujian adalah bentuk “reinforcement” yang positif dan sekaligus merupakan pujian motivasi yang baik, pujian perlu diberikan kepada siswa yang berhasil menyelesaikan tugas dengan baik. Hukuman Hukuman sebagai “reinforcement” yang positif tetapi kalau diberikan secara tepat dan bijak bisa menjadi alat. Hasrat untuk belajar Hasrat untuk belajar yang ada pada diri anak didik itu memang merupakan motivasi untuk belajar, sehingga sudah barang tentu hasilnya akan lebih baik. Minat Minat merupakan alat motivasi yang pokok, proses belajar akan berjalan lancar kalau disertai niat. Tujuan yang diakui Rumusan tujuan yang diakui dan diterima baik oleh siswa, akan merupakan alat motivasi yang sangat penting, sebab dengan memahami tujuan yang harus dicapai akan menimbulkan gairah untuk terus belajar (Sardiman,1990:91). Matematika di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Matematika adalah ilmu pengetahuan tentang penalaran yang logis dan masalah-masalah yang berhubungan dengan bilangan. Matematika juga berkenaan dengan fakta-fakta kuantitatif, tentang ruang dan bentuk. (Sujono, 1988: 4) Dalam pembelajaran, matematika harus secara bertahap, berurutan serta berdasarkan kepada pengalaman yang telah ada sebelumnya. Hal ini sejalan dengan pendapat Dienes (dalam Muhkal, 1999:92) yang menyatakan bahwa “Belajar metematika melibatkan suatu struktur hierarki dari konsep-konsep tingkat lebih tinggi yang dibentuk atas dasar apa yang telah terbentuk sebelumnya”. Pendapat lain dikemukakan oleh Bruner dalam (Hudoyo, 1990:48) yaitu “Belajar matematika adalah belajar tentang konsep-konsep dan struktur matematika yang terdapat dalam materi yang dipelajari serta mencari hubungan-hubungan antara konsep-konsep dan struktur-struktur matematika itu”. Sebagai pengetahuan matematika tersusun dari rangkaian pengertian-pengertian (konsep), dan rangkaian pernyataan–pernyataan (hukum, sifat, teorema, dalil, prinsip). Untuk efisiensi ungkapan (pembahasan) tentang pengartian dan pernyataan itu, matematikaa juga menciptakan lambang-lambang, nama-nama, istilah-istilah, perjanjian-perjanjian (disebut fakta). Sedangkan untuk penerapan dari pengertian dan pernyataan tadi matematika menyusun operasi/pengerjaan dan prosedurnya. Selain itu matematika juga menyajikan lukisan-lukisan yaitu penggambaran dari suatu bangun secara tepat memenuhi aturan yang disyaratkan. Matematika yang diajarkan di sekolah mempunyai peran: Untuk mempersiapkan anak didik agar sanggup menghadapi perubahan-perubahan di dalam kehidupan dunia yang senantiasa berubah, melalui latihan bertindak atas dasar pemikiran logis dan rasional, kritis dan cermat, obyektif, kreatif, efektif dan diperhitungkan secara analisis sintesis; Untuk mempersiapkan anak didik agar mempergunakan matematika secara fungsional dalam kehidupan sehari-hari dan di dalam menghadapi ilmu pengetahuan. (Erman Suherman dan Udin S. Winoto Putro, 1992: 134) Peran matematika tersebut di atas diwujudkan dalam kegiatan belajar mengajar, oleh sebab itu bagai setiap guru matematika haruslah mengkaitkan materi pelajaran matematika yang diberikan dengan tujuan proses belajar mengajarnya dengan memperhatikan apakah metode yang dipakai sudah efektif dan efisien. Pengertian hasil belajar matematika Dari berbagai definisi yang telah dikemukakan oleh para ahli tentang belajar, hasil belajar, dan matematika, maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar matematika adalah perubahan tingkah laku yang telah dicapai sebagai hasil dari proses belajar mengenai penalaran yang logis dan masalah-masalah yang berhubungan dengan bilangan, fakta-fakta kuantitatif, ruang dan bentuk. Hakikat dari variabe X Pengertian pembelajaran Definisi yang dikemukakan oleh para ahli tentang pembelajaran adalah sebagai berikut: Siskandar (2004:1) menyatakan bahwa: “pembelajaran adalah upaya menciptakan iklim dan pelayanan terhadap kemampuan, potensi, minat, bakat dan kebutuhan peserta didik (siswa) yang beragam agar terjadi interaksi optimal antara guru dan siswa, serta siswa dengan siswa”. Usman (2000:4) menyatakan bahwa: “ … proses pembelajaran merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu” . Aqib (2010:41) menyatakan bahwa: “Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun, meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan pembelajaran”. Sudjana (1989:30) berpendapat yang termasuk dalam komponen pembelajaran adalah: “tujuan, bahan, metode dan alat serta penilaian”. Lebih jauh Aqib (2010:41-42) menambahkan bahwa berdasarkan teori belajar, ada lima pengertian tentang pembelajaran, yaitu: Pembelajaran adalah upaya menyampaikan pengetahuan kepada peserta didik/siswa disekolah, Pembelajaran adalah mewariska kebudayaan kepada generasi muda melalui lembaga pendidikan sekolah, Pembelajaran adalah upaya mengorganisasi lingkungan untuk menciptakan kondisi belajar bagi peserta didik, Pembelajaran adalah upaya mempersiapkan peserta didik untuk menjadi warga masyarakat yang baik, dan Pembelajaran adalah suatu proses membantu siswa menghadapi kehidupan masyarakat sehari-hari. Dari pemaparan para ahli di atas, penulis menyimpulkan bahwa pembelajaran adalah merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu dalam rangka mempersiapkan siswa menghadapi kehidupan bermasyarakat. Pengertian pembelajaran kooperatif Pembelajaran kooperatif atau Cooperative learning mencakup suatu kelompok kecil siswa yang bekerja sebagai sebuah tim untuk menyelesaikan sebuah masalah, menyelesaikan suatu tugas, atau mengerjakan sesuatu untuk mencapai tujuan bersama (Suherman, 2003:260). Pembelajaran koooperatif adalah pendekatan pembelajaran yang berfokus pada penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar. Setiap manusia memiliki derajat potensi, latar belakang historis, serta harapan masa depan yang berbeda-beda. Karena perbedaan itulah manusia dapat saling asah, asih, dan asuh (saling mencerdaskan). Pembelajaran kooperatif dapat menciptakan interaksi yang saling asah, asih, dan asuh sehingga terciptalah masyarakat belajar (learning community). Siswa tidak hanya belajar dari buku, namun juga dari sesama teman. Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang secara sadar dan sengaja mengembangkan interaksi yang saling asuh untuk menghindari ketersinggungan dan kesalahpahaman yang dapat menimbulkan permusuhan, sebagai latihan hidup di masyarakat. Unsur-unsur dasar pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut : Siswa dalam kelompok haruslah beranggapan bahwa mereka ”sehidup sepenanggungan bersama” . Siswa bertanggung jawab atas segala sesuatu di dalam kelompok, seperti milik mereka sendiri. Siswa haruslah melihat bahwa semua anggota di dalam kelompok memiliki tujuan yang sama. Siswa haruslah membagi tugas dan bertanggung jawab yang sama diantara anggota kelompok yang sama. Siswa akan dikenakan evaluasi atau diberikan hadiah atau penghargaan yang juga akan dikenakan oleh anggota kelompok. Siswa berbagi kepemimpinan dan mereka membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya. Siswa akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif (Ibrahim, 2000:6) Manfaat pembelajaran kooperatif Manfaat diterapkannya strategi pembelajaran kooperatif menurut Linda Lundgren (dalam Ibrahim, 2000:18-19) adalah sebagai berikut : Meningkatkan pencurahan waktu pada tugas, Rasa harga diri menjadi lebih tinggi, Memperbaiki kehadiran, Angka putus sekolah menjadi rendah, Penerimaan terhadap perbedaan individu menjadi lebih besar, Perilaku menganggu menjadi lebih kecil, Konflik antar pribadi berkurang, Sikap apatis berkurang, Pemahaman yang lebih mendalam, Motivasi lebih besar, Hasil belajar lebih tinggi, Retensi lebih lama, Meningkatkan kebaikan budi, kepekaan, dan toleransi. Pembelajaran kooperatif Numbered Heads Together (NHT) Numbered Heads Together (NHT) merupakan pendekatan struktural pembelajaran kooperatif yang telah dikembangkan oleh Spencer Kagan, dkk (Ibrahim, 2000:25). Meskipun memiliki banyak persamaan dengan pendekatan yang lain, namun pendekatan ini memberi penekanan pada penggunaan struktur tertentu yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa. Numbered Heads Together (NHT) adalah suatu pendekatan yang dikembangkan untuk melibatkan lebih banyak siswa dalam menelaah materi yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut sebagai gantinya mengajukan pertanyaan kepada seluruh kelas (Ibrahim, 2000:28). Langkah-langkah pembelajaran kooperatif Numbered Heads Together (NHT) Pendahuluan Fase 1 : Persiapan Guru menjelaskan tentang pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT). Guru menyampaikan tujuan pembelajaran Guru melakukan apersepsi Guru memberikan motivasi pada siswa Kegiatan Inti Fase 2 : Pelaksanaan pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT). Tahap pertama Penomoran Guru membagi siswa dalam kelompok beranggotakan 3-5 orang dan kepada setiap anggota kelompok diberi nomor antara 1 sampai 5. Guru menjelaskan secara singkat tentang materi bangun datar. Siswa bergabung dengan tim atau anggotanya yang telah ditentukan. Tahap kedua Mengajukan pertanyaan: Guru mengajukan sebuah pertanyaan kepada siswa. Pertanyaan dapat amat spesifik dan dalam bentuk kalimat tanya. Tahap ketiga Berpikir bersama: Siswa berfikir bersama menyatukan pendapatnya terhadap jawaban pertanyaan itu dan meyakinkan tiap anggota dalam timnya mengetahui jawaban itu. Tahap keempat Menjawab: Guru memanggil satu nomor tertentu, kemudian siswa yang nomornya sesuai mengacungkan tangannya dan mencoba menjawab pertanyaan untuk seluruh kelas. Dalam memanggil suatu nomor guru secara acak menyebut nomor dari 1 sampai x (x adalah banyaknya kelompok dalam kelas siswa). Anak yang terpilih dari tahap 4 dalam kelompok x adalah anak yang diharapkan menjawab. Guru mengamati hasil yang diperoleh oleh masing-masingkelompok yang berhasil baik, dan memberikan semangat bagi kelompok yang belum berhasil dengan baik (jika ada). Fase 3 : Penutup : Evaluasi Dengan bimbingan guru siswa mebuat rangkuman. Siswa diberi PR dari buku paket atau buku panduan lain. Guru memberikan evaluasi atau latihan soal mandiri. Variasi dalam NHT Setelah seorang siswa menjawab, guru dapat meminta kelompok lain apakah setuju atau tidak setuju dengan jempol ke atas atau ke bawah. Untuk masalah dengan jawaban lebih dari satu, guru dapat meminta siswa dari setiap kelompok-kelompok yang berbeda untuk masingmasing memberi sebagian jawaban. Seluruh siswa dapat memberi jawaban secara serentak. Seluruh siswa yang menanggapi dapat menulis jawabannya di papan tulis atau di kertas pada saat yang sama. Guru dapat meminta siswa lain menambahkan jawaban bila jawaban yang diberikan belum lengkap. Kerangka Berpikir Dan Pengajuan Hipotesis Hubungan antara variabel X dengan Y Hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu faktor dari dalam diri siswa dan faktor dari luar diri siswa (faktor lingkungan). Faktor dari dalam diri siswa yang paling utama yaitu kemampuan yang dimilikinya. Faktor kemampuan siswa besar sekali pengaruhnya terhadap hasil belajar yang dicapai. Faktor dalam yang lain meliputi motivasi belajar, minat dan perhatian, sikap dan kebiasaan belajar, ketekunan, sosial ekonomi, faktor fisik dan psikis. Sedangkan faktor luar (faktor lingkungan) yang dominan adalah kualitas pengajarannya. Oleh karena itu, keberadaaan model dan strategi pembelajaran sangatlah mendukung dalam proses belajar mengajar untuk mendapatkan hasil yang maksimal dan menyeluruh. Model pembelajaran yang digunakan guru dalam proses belajar mengajar hendaknya memberikan hasil yang berguna bagi kehidupan di masa mendatang dan dapat mencetak peserta didik yang berkualitas yang memiliki ketrampilan dalam berpikir dan daya kreativitas yang tinggi sehingga akan dapat memenuhi tuntutan zaman yang akan datang dan juga terampil dalam memecahkan masalah yang dihadapi di dalam dunia nyata. Melalui implementasi pendekatan kontekstual model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) siswa akan terlatih cara dan keterampilan berpikirnya dan dapat memunculkan ide-ide kreatif. Sejauh ini diketahui bahwa pengajaran yang dilakukan guru kebanyakan menggunakan metode pengajaran ceramah, sehingga anak tidak termotivasi untuk memunculkan ide-ide kreatifnya. Anak hanya mendengarkan guru berceramah, mengerjakan tuigas, sehingga anak lebih bersifat pasif. Hal itu belum cukup untuk membekali siswa untuk menghadapi dunia nyata setelah dia lulus dari sekolah. Implementasi pendekatan kontekstual melalui model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) diharapkan akan dapat meningkatkan minat dan hasil belajar siswa. Hipotesis Penelitian Berdasarkan rumusan masalah, kajian teori, kerangka pemikiran dan argumentasi ilmiah, maka dirumuskan hipotesis sebagai berikut: Hipotesis kerja H¬¬1 Terdapat pengaruh yang signifikan penggunaan model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) terhadap hasil belajar matematika siswa pokok bahasan operasi aljabar pada siswa kelas VIII MTs Negeri Cikeusik Kabupaten Pandeglang tahun pelajaran 2011/2012. Hipotesis Nihil H0 Tidak terdapat pengaruh yang signifikan penggunaan model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) terhadap hasil belajar matematika siswa pokok bahasan operasi aljabar pada siswa kelas VIII MTs Negeri Cikeusik Kabupaten Pandeglang tahun pelajaran 2011/2012. Metode Penelitian, Tempat dan Waktu Penelitian Tempat dan Waktu Penelitian Subyek penelitian yang akan penulis pilih adalah siswa MTs Negeri Cikeusik Kabupaten Pandeglang, sedangka waktu penelitian direncanakan akan dilaksanakan selama 1 bulan yakni dari pertengahan Juli hingga Pertengahan Agustus 2011. Populasi dan Sampel Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII MTs Negeri Cikeusik Kabupataen Pandeglang tahun pelajaran 2011/2012 sebanyak 74 orang yang terbagi dalam dua kelas, yaitu VIII A sebanyak 36 orang dan kelas VIII B sebanyak 38 orang. Sampel Sampel merupakan wakil dari keseluruhan subjek penelitian. Dalam pengambilan sampel pada penelitian ini berdasarkan pendapat Arikunto (1997:120) menjelaskan bahwa, “Apabila subjeknya kurang dari 100 lebih baik diambil semua hingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. Selanjutnya jika jumlah subjeknya besar dapat diambil antara 10-15 %, atau 20-25% atau lebih”. Berdasarkan pendapat tersebut maka pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling atau sampel jenuh. Dengan demikian sampel dalam penelitian adalah seluruh siswa kelas VIII MTs Negeri Cikeusik Kabupataen Pandeglang sebanyak 2 kelas, yaitu kelas VIII B sebanyak 38 orang sebagai kelompok eksperimen dan kelas VIII A sebanyak 36 orang sebagai kelompok kontrol yang mempunyai kemampuan (hasil belajar Matematika) yang tidak berbeda secara signifikan. Dengan demikian siswa pada kelas eksperimen maupun kelas kontrol berangkat dari titik tolak yang sama. Jadi, kalau terjadi perbedaan setelah pemberian treatment, semata-mata terjadi karena perbedaan pemberian treatment tersebut. Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen, yaitu suatu cara untuk mencari hubungan sebab akibat (hubungan kausal) antara dua faktor yang sengaja ditimbilkan oleh peneliti. Adapun desain eksperimen menggunakan model Two Group Posttest Only Design Experiment (Arikunto, 2005: 212), yaitu eksperimen yang dilaksanakan pada dua kelompok yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Dimana kelompok eksperimen dalam proses penelitian mendapatkan perlakuan dan pos tes tetapi pada kelas kontrol hanya mendapatkan pos tes. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel Desain eksperimen Two Group Posttest Only Design Experiment Kelompok Perlakuan Pos Tes Eksperimen X T Kontrol _ T Jadi dalam hal ini penulis meneliti dua kelas yaitu treatment (perlakuan) dan kelas kontrol. Kelas treatment dalam pengajaran matematika menggunakan model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) sedangka kelas kontrol menggunakan pembelajaran konvensional. Setelah hal tersebut dilakukan, selanjutnya penulis melakukan tes akhir atau postes kepada kedua sempel tersebut. Teknik Pengumpulan Data Metode dokumentasi Metode dokumentasi digunakan untuk memperoleh data mengenai nama siswa dan nilai tes ujian akhir semester dua serta nilai ulangan matematika pada saat siswa yang bersangkutan masih berada di kelas VII. Data tersebut digunakan untuk mengadakan matching terhadap kelompok kontrol dan kelompok eksperimen, untuk mengetahui bahwa tidak ada perbedaan antara dua kelompok tersebut sebelum diadakan perlakuan. Metode tes Tes digunakan untuk mendapatkan nilai hasil belajar matematika setelah diadakan perbedaan perlakuan. Data ini digunakan untuk mengetahui ada dan tidaknya perbedaan antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen setelah diadakan perlakuan yang berbeda. Bentuk tes yang digunakan adalah tes obyektif dengan pertimbangan: Hasil pemeriksaan bersifat obyektif Ruang lingkup materi yang diujikan lebih menyeluruh sehingga cukup representatif mewakili materi yang telah dipelajari siswa. Jawaban yang benar sudah tertentu dan pasti Pemeriksaan dapat dilakukan dengan mudah dan cepat Ketidakmampuan tes dalam bagian-bagian tertentu pada sebuah konsep/ topik lebih mudah dikenali secara langsung dari jawaban butir soal yang salah. (Erman Suherman, 1993; 75-76) Metode Observasi Metode ini digunakan untuk mendapatkan informasi pelaksanaan pembelajaran dengan model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) dilaksanakan. Teknik Analisis Data Teknik analisis data yang digunakan adalah melakukan pengujian pengaruh implementasi model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) dalam pembelajaran pokok bahasan operasi aljabar pada siswa kelas VIII MTs dengan jalan membandingkan hasil belajar kelompok eksperimen dan kontrol dengan menggunakan uji-t. Langkah-langkah yang ditempuh dalam menganilis data penelitian adalah sebagai berikut: Analisis Uji Coba Tes (Instrumen Penelitian) Analisis Validitas Tes Analisis validitas untuk mengetahui apakah butir soal valid atau tidak valid sebagai instrumen penelitian maka untuk menghitung koefisien validitas digunakan rumus korelasi product moment. r_xy=(N∑▒XY-(∑▒〖X)〗(∑▒〖Y)〗)/√([N∑▒〖X^2-(〗 ∑▒〖X)〗^2 ][N∑▒〖Y^2-(〗 ∑▒〖Y)〗^2 ] ) keterangan: rxy = koefisien validitas butir soal N = banyak siswa peserta tes X = jumlah skor item Y = jumlak skor total rxy dikonsultasikan dengan tabel harga kritis produk moment. Dikatakan valid jika rhitung ≤ rtabel. (Suharsimi Arikunto, 1998:162) Analisis Reliabilitas Untuk mengetahui reliabilitas dalam penelitian digunakan tes tunggal dengan teknik non belah dua dari Kuder dan Richardson (K-R 20) yaitu : r_11=[n/(n-1)][(S_t^2-∑▒〖p_i q_i 〗)/S^2 ] S_t^2=(∑▒〖(X_i-X ̅)^2 〗)/(n-1) Dengan: n = banyak sampel pi = proporsi subyek yang menjawab benar pada butir soal ke-i qi = proporsi subyek yang menjawab salah pada butir soal ke-i jadi qi = 1 - pi S_t^2 = varians skor total (Erman Suherman, 1993: 160) Hasil perhitungan r11 diperoleh di konsultasikan dengan rtabel product moment dengan taraf signifikansi 5%. Jika r11 > rtabel maka soal instrumen tersebut reliabel. (Suharsimi Arikunto, 1993; 155) Analisis Tingkat Kesukaran Item yang baik adalah item yang tidak terlalu sukar dan tidak terlalu mudah. Soal yang terlalu mudah tidak merangsang siswa untuk mempertinggi usaha dalam menyelesaikannya. Sebaliknya soal yang terlalu sukar akan menyebabkan siswa putus asa dan tidak mempunyai semangat untuk mencoba lagi, karena diluar jangkauannya. (Suharsimi Arikunto, 1989: 206) Berkaitan dengan hal tersebut di atas ditetapkan bahwa tingkat kesukaran yang baik adalah pada interval 25% - 75% . Item yang mempunyai tingkat kesukaran lebih dari 75% soal tersebut terlalu mudah. Rumus untuk menghitung tingkat kesukaran adalah sebagai berikut: P=B/JS Dengan: P = Tingkat kesukaran soal B = Banyak siswa yang menjawab dengan benar item tersebut JS = Banyak siswa yang mengikuti tes Dengan kriteria: 0,00 ≤ P < 0,30 : soal dikatakan sukar 0,30 ≤ P < 0,70 : soal dikatakan sedang 0,70 ≤ P ≤ 1,00 : soal dikatakan mudah (Suharsimi Arikunto, 1989: 210) Analisis Daya Pembeda Daya pembeda digunakan untuk membedakan siswa yang berkemampuan tinggi dan siswa yang berkemampuan rendah. Untuk menghitung daya pembeda soal rumus yang digunakan sebagai berikut: DP=BA/JA-BB/JB=PA-PB Dengan: DP = daya pembeda soal JA = banyaknya peserta tes yang menjadi anggota kelompok atas JB = banyaknya peserta tes yang menjadi anggota kelompok bawah BA = banyaknya peserta tes yang menjadi anggota kelompok atas menjawab item tertentu dengan benar BB = banyaknya peserta tes yang menjadi anggota kelompok bawah dan menjawab item tertentu dengan benar. PA = proporsi peserta tes kelompok atas yang menjawab item tertentu dengan benar PB = proporsi peserta tes kelompok bawah yang menjawab item tertenti dengan benar Kategori yang digunakan adalah: 0,00 - 0,20 : jelek 0,20 - 0,40 : cukup 0,40 - 0,70 : baik 0, 70 - 1,00 : baik sekali (Suharsimi Arikunto, 1998: 213) Daya pembeda yang bernilai negatif tidak baik dan soal harus direvisi atau diganti. Perangkat tes yang diuji cobakan ditinjau dari daya pembeda soal, item yang baik adalah item yang mempunyai daya pembeda lebih dari 0,20. Analisis Uji Data (Hasil Penelitian) Uji Prasyarat Analisis Sebelum data dianalisis dengan menggunakan rumus uji-t, terlebih dahulu dilakukan uji prasyarat yaitu uji normalitas dan uji homogenitas data. Kedua uji analisis ini merupakan uji persyaratan untuk melakukan uji hipotesis. Uji Normalitas Uji normalitas ini digunakan untuk menguji kenormalan data dari hasil belajar matematika setelah diberikan pos tes, baik kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol. Rumus yang digunakan adalah statistik uji chi kuadrat sebagai berikut: χ^2=∑▒〖(f_o-f_h)〗^2/f_h Dengan, χ^2 : chi kuadrat f_o : frekuensi yang diobservasi f_h : frekuensi yang diharapkan (Suharsimi Arikunto, 1996:290) Dari χ2 hitung yang diperoleh kemudian dikonsultasikan dengan χ2 tabel dengan derajat kebebasan dk = K – 3 dan taraf signifikansi α = 5%. Apabila dari hasil perhitungan didapatkan χ2hitung < χ2tabel maka data yang diuji adalah berdistribusi normal. Uji Homogenitas. Uji homogenitas bertujuan untuk mengetahui apakah varians populasi homogen atau tidak. Suharsimi Arikunto (1996:289) mengatakan: “Uji homogenitas (Kesamaan), yakni seragam tidaknya variansi sampel-sampel yang diambil dari populasi yang sama”. Pengujian dilakukan dengan uji Fisher (uji F) sebagai berikut: F_ =〖MK〗_k/〖MK〗_d dengan, F : homogenitas yang dicari MKk : Mean Kuadrat Kelompok MKd : Mean Kuadrat Dalam (Arikunto, 1996:293) Dari Fhitung yang diperoleh kemudian dikonsultasikan dengan Ftabel yang mempunyai dk pembilang sebesar (nb – 1) dan dk penyebut (nk – 1) serta taraf signifikansi α = 5%. Apabila Fhitung < Ftabel maka berarti kelompok ekperimen dan kelompok kontrol yang ditetapkan berasal dari populasi yang memiliki variansi yang relative sama. Pengujian Hipotesis Setelah melakukan uji normalitas dan uji homogenitas terhadap hasil belajar matematika siswa selanjutnya adalah melakukan analisis uji-t untuk mengetahui pengaruh penggunaan model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT). Dalam hal ini uji statistik yang digunakan adalah uji statistik uji-t untuk satu pihak (pihak kanan). hal ini untuk membuktikan adanya pengaruh penggunaan model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT). Adapun langkah-langkah dalam melakukan pengujian adalah sebagai berikut: Hipotesis yang akan diujikan adalah: Ho : μ1 ≤ μ2 , nilai rata-rata kelompok eksperimen lebih rendah dari pada nilai rata-rata kelompok kontrol. H1 : μ1 > μ2. nilai rata-rata kelompok ekperimen lebih tinggi dari pada nilai rata-rata kelompok kontrol. α = 5% Keterangan: H0 = Tidak terdapat pengaruh yang signifikan penggunaan model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) terhadap hasil belajar matematika siswa pokok bahasan operasi aljabar pada siswa kelas VIII MTs Negeri Cikeusik Kabupaten Pandeglang tahun pelajaran 2011/2012. H1 = Terdapat pengaruh yang signifikan penggunaan model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) terhadap hasil belajar matematika siswa pokok bahasan operasi aljabar pada siswa kelas VIII MTs Negeri Cikeusik Kabupaten Pandeglang tahun pelajaran 2011/2012. Adapun rumus uji-t yang digunakan yaitu sebagai berikut: t=(X ̅_1-X ̅_2)/(s√(1/n_1 +1/n_2 )) Dengan, S_^2=((〖n_1-1)S〗_1^2+(〖n_2-1)S〗_2^2)/(n_1+n_2-2) Keterangan: X ̅_1 : rata-rata nilai kelompok eksperimen X ̅_2 : rata-rata nilai kelompok kontrol s : simpangan baku S_1^2 : standar deviasi pada kelompok eksperimen S_2^2 : standar deviasi pada kelompok kontrol n_1 : banyak subjek kelompok eksperimen n_2 : banyak subjek kelompok kontrol (Sudjana, 2001:293) Dari thitung yang diperoleh kemudian dikonsultasikan dengan ttabel yang memiliki derajat kebebasan dk = N1 + N2 - 2 dan taraf signifikansi α = 5%. Kriteria pengujian adalah tolak hipotesis nol jika thitung > ttabel hal ini bahwa kelompok eksperimen hasil belajar matematika siswa dengan model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) lebih baik dibandingkan dengan hasil belajar matematika siswa kelompok kontrol. Statistik Hipotesis Penelitian (Secara Matematika) Dari uraian di atas, maka penulis menentukan statistik hipotesis penelitian sebagai berikut. Ho : μ1 ≤ μ2 , nilai rata-rata kelompok eksperimen lebih rendah dari pada nilai rata-rata kelompok kontrol. H1 : μ1 > μ2. nilai rata-rata kelompok ekperimen lebih tinggi dari pada nilai rata-rata kelompok kontrol. α = 5% Keterangan: H0 = Tidak terdapat pengaruh yang signifikan penggunaan model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) terhadap hasil belajar matematika siswa pokok bahasan operasi aljabar pada siswa kelas VIII MTs Negeri Cikeusik Kabupaten Pandeglang tahun pelajaran 2011/2012. H1 = Terdapat pengaruh yang signifikan penggunaan model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) terhadap hasil belajar matematika siswa pokok bahasan operasi aljabar pada siswa kelas VIII MTs Negeri Cikeusik Kabupaten Pandeglang tahun pelajaran 2011/2012. DAFTAR PUSTAKA Aqib, Zainal. 2010. Propesionalisme Guru Dalam Pembelajaran. Surabaya: Insan Cendikia. Arifin dan Aminuddin Rasyad. 1998. Modul Kuliah. Materi Pokok Dasar-Dasar Pendidikan. Jakarta: Direktorat Jendral kelembagaan Agama Islam Dan Universitas Terbuka. Arikunto, Suharsimi. 1996. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta. _______, 2005. Manajemen Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta. Djamarah, Syaiful Bahri dan Aswan Zain. 1997. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta. Depdikbud. 1993. Kurikulum pendidikan Dasar dan Garis-garis Besar Program Pengajaran (GBPP) SLTP Mata Pelajaran Matematika. Jakarta: Depdikbud. Hudoyo, Herman. 1990 . Strategi Belajar Matematika. Malang: IKIP Malang. Ibrahim, M dkk. 2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya : University Press. Muhkal, Mappaita. 1999. Modul Kuliah. Pengembangan Rencana Penbelajaran Matematika di SLTP dan SMU. Makassar: FMIPA UNM Nasution, Noehi dkk. 1998. Modul Kuliah. Materi Pokok Psikologi Pendidikan. Jakarta: Direktorat Jendral kelembagaan Agama Islam Dan Universitas Terbuka. Purwanto, M. Ngalim. 1984. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya. Sardiman. 2001. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: IKIP Semarang Press Sudjana, Nana. 1989. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar baru. Sudjana. 2001. Metode Statistik. Bandung: Tarsito. Suherman, Erman. 1992. Sistem Belajar Mengajar. Jakarta: Universitas Terbuka, Depdikbud. Suherman, Erman dkk. 2003. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer (edisi revisi). Bandung : UPI. Tim Penyusun KBBI, 1994. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Uzer Usman, Moh.. 1993. Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosda Karya.