Pages

Senin, 03 November 2014

Pengaruh Model Pembelajaran Question Students Have Terhadap Keterampilan Berbicara Siswa


Rekan-rekan Rujukan Skripsi yang berbahagia.
Pada postingan kali ini saya akan mengulas tentang DOWNLOAD GRATIS SKRIPSI BAHASA INDONESIA TENTANG HUBUNGAN KEMAMPUAN MEMBACA EKSTENSIF DENGAN KEMAMPUAN MENULIS NASKAH BERITA SISWA. Silahkan dirujuk dan diunduh filenya pada link yang tertera di akhir postingan ini. Atau jika rekan-rekan berminat untuk mencari rujukan skripsi yang lain dengan berbagai judul silahkan unduh filnya di postingan DAFTAR SKRIPSI LENGKAP DARI BAB 1 - 5 GRATIS.
- See more at: http://rujukanskripsi.blogspot.com/2014/11/download-gratis-skripsi-bahasa.html#sthash.p3ROMhf1.dp
Rujukan Skripsi - Pada postingan kali ini diulas  contoh skripsi tentang Pengaruh Model Pembelajaran Question Students Have Terhadap Keterampilan Berbicara Siswa. Silahkan dirujuk dan diunduh filenya pada link yang tertera di akhir postingan ini. Atau jika rekan-rekan berminat untuk mencari rujukan skripsi yang lain dengan berbagai judul silahkan unduh filenya di postingan DAFTAR SKRIPSI LENGKAP DARI BAB 1 - 5GRATIS. Baca juga postingan tentang Hakikat Kemampuan Menulis Karangan Narasi.

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Apabila diikuti perkembangan pendidikan dewasa ini, tampak mutu pendidikan di negara ini belum merata. Mutu pendidikan di daerah atau umumnya di desa-desa sangat memprihatinkan. Rendahnya mutu pendidikan dalam berbagai mata pelajaran diawali dengan rendahnya mutu pada mata pelajaran bahasa Indonesia. Mutu pelajaran bahasa Indonesia dapat dikatakan sebagai modal dasar bagi siswa untuk dapat menguasai materi pelajaran yang lain. Oleh karena itu, sejak dini atau dimulai dari rumah tangga atau keluarga sangat perlu diperkenalkan dan dilatih anak untuk menggunakan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam rangka mengatasi rendahnya pencapaian prestasi siswa dalam mata pelajaran bahasa Indonesia, pemerintah telah banyak mengambil langkah untuk dapat meningkatkannya. Langkah-langkah pemerintah antara lain dengan mengadakan penataran-penataran, melaksanakan kelompok kerja guru (KKG), diskusi-diskusi dan masih banyak lagi usaha yang lain yang pernah dilakukan pemerintah.

Menurut pengamatan selintas penulis, guru-guru di sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP) masih jarang memperhatikan kemampuan berbahasa siswa, terutama sekali kemampuan berbicara, terutama pada sekolah-sekolah pinggiran atau di desa-desa, di lain pihak, kesiapan serta kemampuan guru-guru dalam menyajikan materi dan penguasana metode guru masih perlu mendapat perhatian. Dengan demikian, menurut apa yang dikatakan di atas bahwa penguasaan materi pelajaran bahasa Indonesia modal dasar untuk menguasai materi pelajaran yang lain.


Untuk dapat memperoleh prestasi yang optimal dalam bahasa Indonesia tentunya, siswa harus menguasai empat keterampilan dalam berbahasa, yaitu: keterampilan menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Keterampilan berbicara merupakan salah satu keterampilan yang cukup penting, berbicara ini paling banyak kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari.


Sebagai anggota masyarakat, secara alamiah seseorang dapat dikatakan mampu berbicara, tetapi dalam situasi formal tidak semudah yang dibayangkan. Banyak hambatan yang ditemukan dalam pelaksanaannya, sehingga gagasan yang dikemukakan menjadi tidak teratur dan tidak dapat dipahami oleh orang lain, bahkan sering kita jumpai orang yang tidak berani berbicara di depan umum.


Manusia telah memiliki kemampuan kodrati dalam hal kemampuan berbicara dan mendengar, di samping dari hasil belajar melalui interaksi sosial. Kemampuan berbicara tanpa melalui pendidikan formal seperti itu, umumnya hanya mendukung perilaku manusia dalam memenuhi kebutuhan dasarnya saja. Kegiatan berbicara yang dilakukan terjadi secara spontan dalam hubungan interpersonal, sehingga ketika ia dituntut untuk berbicara dalam forum yang resmi/formal misalnya pidato, memberi kata sambutan, narasumber seminar dan lain-lain, maka ia akan mengalami kesulitan.


Penerapan berbagai metode dalam proses belajar mengajar, juga banyak menuntut keterampilan berbicara. Metode diskusi yang merupakan cara penyampaian pelajaran melalui sarana pertukaran pikiran untuk memecahkan masalah merupakan salah satu contoh nyata, dalam hal ini siswa dibina agar dapat mengemukakan pendapatnya secara lisan dengan menggunakan bahasa Indonesia yang tepat dan dapat dipahami oleh peserta diskusi yang lain. Dari hal ini, dapat dilihat betapa besarnya peranan kemampuan berbicara dalam pendidikan, terutama dalam proses interaksi belajar mengajar dan dalam usaha mengkomunikasikan suatu ilmu pengetahuan yang diperoleh dari bangku sekolah, sehingga dengan kemampuan tersebut diyakini siswa akan lebih mudah mengemukakan kesulitan yang dihadapi atau bisa bertanya tentang sesuatu yang tidak dipahaminya, dengan demikian siswa yang memiliki kemampuan seperti ini bisa dipastikan akan berhasil dalam belajarnya atau dengan kata lain prestasi belajar yang diperoleh akan lebih baik.


Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa kemampuan berbicara merupakan salah satu aspek keterampilan yang memiliki pengaruh terhadap prestasi belajar bidang studi bahasa Indonesia, dengan kata lain semakin baik kemampuan berbicara seorang anak semakin baik pula prestasi belajar bidang studi bahasa Indonesianya.


Pada kenyataannya, fakta di lapangan menunjukkan hal yang bertolak belakang dengan apa yang diharapkan. Siswa mengalami kesulitan yang tinggi dalam hal penguasaan kemampuan berbicara. Misalnya saja, dari pengamatan peneliti terhadap siswa kelas VIII MTs Mathla’ul Anwar Cikeusik Desa tahun pelajaran 2013/2014 menunjukkan bahwa: a. sangat sedikit siswa yang berani tampil ke depan kelas untuk mempresentasikan tentang gagasannya; b. banyak siswa memilih untuk tidak masuk sekolah apabila ditugasi oleh guru untuk berpidato di depan kelas; dan c. petugas upacara setiap hari senin yang tampil hanyalah siswa yang itu-itu saja.


Banyak faktor yang mempengaruhi rendahnya kemampuan berbicarasiswa. Baik faktor internal ataupun faktor eksternal. Faktor eksternal memiliki peranan yang tinggi dalam mempengaruhi kemampuan berbicara siswa. Salah satu faktor eksternal tersebut adalah penggunaan model pembelajaran yang tepat dalam proses pembelajaran kemampuan berbicara.  


Dalam kegiatan proses belajar mengajar, model pembelajaran mempunyai peranan yang sangat penting. Dalam kenyataannya model tertentu dapat menunjang pendekatan siswa aktif, asalkan model tersebut diterapkan dengan teknik yang benar. Penggunaan model mengajar yang tepat akan turut menentukan efektifitas dan efisiensi dalam proses belajar mengajar, guru dapat menerapkan model yang tepat atau sesuai dengan pokok bahasan yang akan disampaikan. Model pembelajaran itu sendiri terdiri dari beberapa macam yang masing-masing model mempunyai kelebihan maupun kekurangan.


Upaya peningkatan kualitas pembelajaran bahasa, khususnya kemampuan berbicara idealnya dimulai dari proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru yaitu dengan menawarkan model pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan berbahasa siswa. Suatu strategi yang mampu mengubah pandangan negatif siswa terhadap bahasa menjadi pelajaran yang menyenangkan, tidak saja memunculkan keaslian belajar, tetapi juga akan memberikan dampak positif bagi perkembangan aspek kognitif dan sosial.


Alternatif model pembelajaran yang dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan berbicara siswa adalah dengan menggunakan teknik Question Student Have. Teknik Question Student Have merupakan teknik yang tidak menakutkan dan dapat dipakai untuk mengetahui kebutuhan dan harapan siswa. Teknik ini menggunakan elisitasi dalam memperoleh partisipasi siswa secara tertulis. Strategi pembelajaran lain yang dapat digunakan ekspositori. Melalui strategi ekspositori guru menyampaikan informasi mengenai bahan pengajaran dalam bentuk penjelasan dan penuturan lisan. Berdasarkan uraian-uraian di atas, akan dilaksanakan penelitian tentang

Pengaruh Model Pembelajaran Question Students Have Terhadap Keterampilan Berbicara Siswa Kelas VIII MTs Mathla’ul Anwar Cikeusik Desa Tahun Pelajaran 2013/2014

Daftar Pustaka


Afifuddin dan Saca Suhendi. 2005. Perencanaan dan Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Insan Mandiri. | Dapatkan bukunya di sini


Aminuddin. 2008. Modul Keterampilan Berbicara. Jakarta: Depdikbud. | Dapatkan bukunya di sini


Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek (edisi revisi). Jakarta: Rineka Cipta. |Dapatkan bukunya di sini


Arsyad. 2007. Pembinaan Kemampuan Berbicara Berbahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga. | Dapatkan bukunya di sini


Depdikbud. 1994. Kurikulum Pendidikan Dasar. Jakarta: Depdikbud. | Dapatkan bukunya di sini


Hadi, Sutrisno. 2006. Metodologi Research Jilid I. Yogyakarta: Yayasan Penerbitan Fakultas Fisiologi UGM. | Dapatkan bukunya di sini
Hermawan, Hendy. 2006. Model-Model Pembelajaran Inovatif. Bandung: Citra Praya. | Dapatkan bukunya di sini
Kridalaksana. 2005. Metodologi Penelitian Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional. | Dapatkan bukunya di sini


Lehawir. Model Pembelajaran Question Students Have.  http://lehawir. blogspot. com/2010/10/berbagi-ilmu-proposal-question-students.html. (diakses terakhir 2 April 2013).


Nurgiyantoro. 2004. Penelitian Dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Yogyakarta: LP3ES. | Dapatkan bukunya di sini


Silberman, Melvin L. 2012. Active learning: 101 Cara Belajar Aktif (edisi revisi). Bandung: Nuansa.| Dapatkan bukunya di sini


Sudjana. 2001. Metode Statistik. Bandung: Tarsito.|Dapatkan bukunya di sini


Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. Bandung: Alfabeta.| Dapatkan bukunya di sini
_______. 2010. Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R & D). Bandung: Alfabeta.| Dapatkan bukunya di sini
Surakhmad, Winarno. 2004. Pengantar Penelitian Ilmiah (Dasar, Metode dan teknik). Bandung: Tarsito.|Dapatkan bukunya di sini
Suyoto. Keterampilan Berbicara. http://wikipedia.co.id/keterampilan-berbicara/html. (diakses terakhir 2 April 2013).


Syafi’ie, Imam dkk. 2010. Retorika dalam Berbicara. Jakarta: P2LPTK Dirjen Dikti, Depdikbud.
|Dapatkan bukunya di sini
Tarigan, Djago dan H.G. Tarigan. 2004. Teknik Pengajaran Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa. | Dapatkan bukunya di sini
 
Tarigan, H.G. 2008. Berbicara Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa. | Dapatkan bukunya di sini


Winataputra, Udin S. 2006. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Depdikbud.| Dapatkan bukunya di sini
 
Untuk mendapatkan filenya silahkan unduh DI SINI. Untuk mendapatkan PASSWORD silahkan klik DI SINI.

Kamis, 30 Oktober 2014

Skripsi Gratis Model Pembelajaran Think Pair Share (TPS) Terhadap Kemampuan Menulis Karangan Argumentasi Siswa

Rekan-rekan rujukan skripsi yang berbahagia, di hari yang berbahagia ini saya kembali mempostingkan sebuah tulisan yang berkaitan dengan keterampilan menulis karangan argumentasi. Dimana keterampilan menulis itu dapat ditingkatkan salah satunya dengan  menerapkan metode pembelajaran yang tepat. Metode pembelajaran yang digunakan dalam tulisan ini adalah Model Pembelajaran Think Pair Share (TPS). Selain Model Pembelajaran Think Pair Share (TPS), keterampilan menulis dapat juga ditingkatkan melalui berbagai cara. Silahkan baca juga Model Pembelajaran Snowball Throwing, Model Pembelajaran Student Facilitator and Explaining, Model Pembelajaran Role Playing, dan Model Pembelajaran Guide Note Taking (GNT)

MODEL PEMBELAJARAN SNOWBALL THROWING
MODEL PEMBELAJARAN SNOWBALL THROWING
MODEL PEMBELAJARAN SNOWBALL THROWING
MODEL PEMBELAJARAN SNOWBALL THROWING
MODEL PEMBELAJARAN SNOWBALL THROWING

Menulis merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam seluruh proses pembelajaran yang dialami siswa selama menuntut ilmu di sekolah. Menulis memerlukan keterampilan karena diperlukan latihan-latihan yang berkelanjutan dan terus menerus terutama dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia yang mencakup aspek kemampuan yaitu; 1. keterampilan menyimak, 2. keterampilan berbicara, 3. keterampilan membaca, dan 4. keterampilan menulis.

Dengan menulis, seorang akan menempuh seluruh proses dalam berbahasa. Sebelum menulis, ia dituntut untuk menyimak, berbicara, dan membaca dengan baik. Demikian pula halnya dengan siswa, agar mampu menulis dengan baik ia dituntut mampu menyimak dengan baik setiap materi pelajaran yang disampaikan oleh guru. Ia harus mampu mengkomunikasikan kembali hasil penyimakkannya terhadap materi dengan bahasa lisan. Ia juga dituntut untuk membaca referensi terkait dengan apa yang akan ditulisnya.

Kebutuhan yang besar terhadap penguasaan keterampilan menulis tersebut tidak sejalan dengan minat dan motivasi siswa untuk dapat menguasai keterampilan menulis dengan baik. Terlebih lagi karangan argumentasi. Siswa sangat kesulitan ketika mendapat tugas untuk menulis karangan argumentasi.

Karangan argumentasi merupakan bentuk atau jenis tulisan yang paling banyak digunakan di dalam tulisan-tulisan ilmiah. Karangan ini bertujuan membuktikan kebenaran suatu pendapat atau  kesimpulan dengan data atau fakta sebagai alasan atau  bukti. Dalam karangan ini, pengarang mengharapkan pembenaran pendapatnya dari pembaca. Adanya unsur opini dan data, juga fakta atau alasan merupakan penyokong opini tersebut. Hal inilah yang menyebabkan menulis karangan argumentasi menjadi sulit. Pemahaman yang benar terhadap konsep dan pembiasaan menulis karangan argumentasi sangat dibutuhkan agar dapat menguasai keterampilan menulis karangan argumentasi dengan baik.

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa keterampilan menulis siswa masih rendah, lebih khusus keterampilan menulis karangan argumentasi. Hal ini dibuktikan dengan masih jarangnya karya-karya siswa tentang karangan argumentasi di majalah dinding dari beberapa sekolah menengah pertama (SMP) yang peneliti amati, khususnya di MTs Mathla’ul Anwar Hunibera. Di lain sisi, nilai-nilai tes kemampuan menulis karangan argumentasi siswa juga masih rendah.

Permasalahan di atas, sangatlah wajar terjadi karena kurangnya motivasi dari guru dan dari diri siswa sendiri untuk menguasai keterampilan menulis karangan argumentasi. Dengan minimnya motivasi tersebut membuat siswa enggan untuk membiasakan diri dalam menulis. Pada akhinya, karena tidak terbiasa dalam menulis menyebaban siswa kesulitan dalam menuangkan ide-ide dan gagasannya dalam sebuah tulisan.

Peran utama guru dalam proses pembelajaran dituntut untuk memberikan motivasi menulis karangan pada siswa dalam proses pembelajaran di kelas. Selama ini pembelajaran yang berlangsung di MTs Mathla’ul Anwar Hunibera khususnya kelas VIII, guru dalam menerapkan metode pembelajaran keterampilan menulis argumentasi kurang menarik perhatian bagi siswa. Jadi, dilihat dari metode yang digunakan guru kesulitan menemukan metode pembelajaran menulis yang sesuai dengan kondisi dan kemampuan siswa serta ketiadaan atau keterbatasan media pembelajaran menulis yang efektif. Proses pemebelajaran yang dilakukan hanya menerangkan secara garis besarnya saja dari cara menulis sebuah karangan.

Selain itu, guru menyuruh siswa membaca buku teks yang mereka miliki kemudian siswa disuruh memberikan tanggapan, pendapat (gagasan) dalam menulis argumentasi. Guru hanya menerangkan langkah-langkah menulis karangan dari memilih bahan pembicaraan (topik), menentukan tema, menentukan tujuan dan bentuk karangan yang akan dibuat, membuat bagan karangan, cara membangun paragraf dan menjalin kesinambungan paragraf, cara mengawali paragraf, cara mengakhiri paragraf, dan membuat judul karangan. Selanjutnya, guru memberikan contoh dan memberi tugas pada siswa. Siswa disuruh menulis sebuah karangan argumentasiberdasarkan pengamatan. Menyebabkan siswa kesuliatan dalam menerima pelajaran tersebut.

Dilihat dari problematika pembelajaran bahasa Indonesia di MTs Mathla’ul Anwar Hunibera keterampilan menulis agrumentasi yaitu, proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru lebih cenderung ceramah dalam menyampaikan materi pada siswanya. Dalam hal ini, guru kurang memberikan motivasi siswa untuk menulis karangan argumentasi. Sehingga menyebabkan proses pembelajaran yang diterapkan oleh guru di kelas mengakibatkan siswa kurang aktif dan menjadi malas untuk menulis dan sulit menulis untuk menyampaikan ide/gagasan. Proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru ini juga bisa mengakibatkan kurang bersemangat sehingga siswa lebih cenderung tidak ada peningkatan menulis.

Berdasarkan sebab-sebab tersebut peneliti memfokuskan pada metode mengajar guru yang masih bersifat konvensional. Salah satu cara yang dapat ditempuh oleh guru berkaitan dengan pengembangan metode mengajar agar tidak terpaku pada metode mengajar konvensional adalah mengubah dari sekedar metode ceramah dengan berbagai variasi metode yang lebih relevan dengan tujuan pembelajaran, memperkecil kebiasaan cara belajar peserta yang baru merasa belajar dan puas kalau banyak mendengarkan dan menerima informasi (diceramahi) guru, atau baru belajar kalau ada guru. Oleh karena itu metode konvensional dalam pengajaran bahasa harus diubah. Hal ini dilakukan supaya siswa tidak lagi merasa bosan dalam mengikuti pelajaran. Sebaliknya dengan metode baru siswa diharapkan lebih aktif tidak lagi hanya sekedar menerima informasi atau diceramahi guru, tetapi bisa memberikan informasi kepada teman-temannya.

Salah satu metode mengajar yang dapat diterapkan oleh guru untuk mengatasi permasalahan di atas dan mampu menciptakan suasana belajar yang aktif dan tidak membosankan adalah model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share (TPS). Model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share (TPS) memberikan kepada siswa waktu untuk berpikir, menjawab, merespon dan membantu satu sama lain. Melalui metode ini penyajian bahan ajar tidak lagi membosankan karena siswa diberikan waktu untuk berdiskusi menyelesaikan suatu masalah atau soal bersama dengan pasangannya sehingga baik siswa yang pandai maupun siswa yang kurang pandai sama-sama memperoleh manfaat melalui aktivitas belajar ini. Jadi selama proses belajar mengajar diharapkan semua siswa aktif karena pada akhirnya nanti masing-masing siswa secara berpasangan harus membagikan hasil diskusinya di depan kelas kepada teman-teman lainnya.

Model Think-Pair-Share (TPS)dikembangkan untuk meningkatkan penguasaan isi akademis siswa terhadap materi yang diajarkan. Peningkatan penguasaan isi akademis siswa terhadap materi pelajaran dilalui dengan tiga proses tahapan yaitu melalui proses thinking (berpikir) siswa diajak untuk merespon, berpikir dan mencari jawaban atas pertanyaan guru, melalui proses pairing (berpasangan) siswa diajak untuk bekerjasama dan saling membantu dalam kelompok kecil untuk bersama-sama menemukan jawaban yang paling tepat atas pertanyaan guru. Terakhir melalui tahap sharing (berbagi) siswa diajak untuk mampu membagi hasil diskusi kepada teman dalam satu kelas. Jadi melalui model Think-Pair-Share (TPS) ini penguasaan isi akademis siswa terhadap materi pelajaran dapat meningkat dan pada akhirnya dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.  



DAFTAR PUSTAKA

Aqib, Zainal. 2013. Model-model, Media, dan Strategi Pembelajaran Kontekstual (Inovatif). Bandung: Yrama Didya.| Dapatkan bukunya di sini

Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.



Depdiknas. 2003. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.| Dapatkan bukunya di sini

Djamarah, Saiful Bahri. 2000. Guru dan Anak Dididik dalam Pembelajaran Edukatif. Jakarta: Rineka Cipta.| Dapatkan bukunya di sini

Finoza, Lamuddin. 2004. Komposisi Bahasa Indonesia. Jakarta: Insan Mulia.| Dapatkan bukunya di sini

Huda, Miftahul. 2013. Cooperative Learning: Metode, Teknik, Struktur dan Model Penerapan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.| Dapatkan bukunya di sini

Keraf, Gorys. 2010. Argumentasi dan Narasi. Jakarta: PT Gramedia.| Dapatkan bukunya di sini

Marahami, Ismail. 2005. Menulis Secara Populer.Cetakan Kelima. Jakarta: Pustaka Jaya.| Dapatkan bukunya di sini

Nazir, Moh. 2003. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia.| Dapatkan bukunya di sini

Semi, M. Atar. 2003. Menulis Efektif. Padang: Angkasa Raya.| Dapatkan bukunya di sini

Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. Bandung: Alfabeta.| Dapatkan bukunya di sini

_______. 2010. Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R & D). Bandung: Alfabeta.| Dapatkan bukunya di sini

Suparno dan Mohamad Yunus. 2008. Keterampilan Dasar Menulis. Jakarta: Universitas Terbuka.| Dapatkan bukunya di sini

Suparta, Munzier dan Hery Noer Aly. 2008. Metodologi Pengajaran Agama Islam. Jakarta: Amissco.| Dapatkan bukunya di sini

Syafie’ie, Imam. 1988. Retorika dalam Menulis. Jakarta: P2LPTK Depdikbud.| Dapatkan bukunya di sini

Tarigan, H.G. 2008. Menulis Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.| Dapatkan bukunya di sini

Dapatkan file lengkapnya di sini. Untuk mendapatkan PASSWORD silahkan klik DI SINI
Sekian dulu postingan saya kali ini. Semoga bermanfaat dan sukses selalu...